PUISI TENTANG KEMATIAN

Hari ini kematian kembali menyapa,
Lewat kepergian tiba-tiba seorang teman lama.
Apa kabarmu, katanya?
Masihkah kau merisaukan dunia,
sementara kau tahu aku teman yang paling setia.

Hari-hari ini kematian seringkali menyapa
Berpapasan lewat kabar duka kerabat,
kenalan, keluarga jauh yang pergi tiba-tiba.
Duhai, kurasa aku terlalu abai padamu,
Kau tahu aku terlalu takut mendekatimu.

Itu karena kau tak mengenalku,
Kematian tertawa.
Kau terlalu tergantung pada dunia,
Padahal kau tahu, besok bisa saja giliranmu tiba.

Kau menangisi kedatanganku,
Besok lusa kau akan ditangisi karena pergi bersamaku.

Bukankah hidup itu seperti ini saja,
Pergi dan ditinggal pergi?
Lalu kenapa kau risau karenanya?

Hari ini kematian kembali datang menyapa,
Dan aku tidak tahu, apakah aku sudah cukup belajar dari kedatangannya?

Similar Posts

  • | | |

    FATAMORGANA

    Dan kamu tahu, Ratusan purnama berlalu, Ribuan cahaya datang dan pergi. Apakah dia meninggalkan jejak yang sama? Atau setidaknya menghapus luka? Kesedihan, gembira, duka, lara. Semua tipu daya. Sakit, senang, luka, dan nyaris binasa. Semua itu fatamorgana. Dia hanya semu belaka. Jadi harusnya kukembalikan lagi saja padaMu, Untuk dibuang habis.

  • | | |

    JALAN PULANG

    Jalan setapak yang hanya untuk kita. Mungkin mendaki, melelahkan, menyusahkan. Mungkin tak indah, tak gemerlap, tak terlihat. Namun, jalan itu membawa kita ke sana. Ke tempat yang paling dirindukan. Tempat asalnya dirimu, jiwamu. Kampung halaman. Dimana setiap jiwa akan kembali. Bertemu denganNya lagi.

  • | |

    CERITA KITA

    Cerita kita singkat saja, Sayang Tak lebih dari dua kepalan. Saat kau asyik menghitung ruasnya, Tak terasa kita tiba di tepian. Cerita kita singkat saja, Sayang Hanya dua kali kedatangan Tuan. Saat kelahiran dan kematian, Diantaranya kita berkelindan dalam kehidupan. Cerita kita singkat saja, Sayang. Cepatlah berbenah, Sebentar lagi waktunya pulang.

  • | |

    TENANGLAH JIWA

    Tenang tenanglah,sesuatu dalam dada.Diam diamlah,dengarkan suara dari jiwa. Kita terlalu sering menghampiri dunia,Dan mati tenggelam di dalamnya. Tenang tenanglah,Bersama yang hakiki di dalam sana.Nyalakan terangnya,Menjadi pelita dalam jiwa. Diam diamlah,Perhatikan kemana Tuhanmu membawa.

  • |

    KEPADA-MU

    Bolehkah aku menemuiMu lagi, Setelah lepas hari kemarin, Saat langit masih terang, dan laut belumlah pasang. Bolehkah aku menemuiMu lagi, Mengeja asmaMu dengan sungguh-sungguh, Merapal doa sepenuh hati, MemintaMu menemani lagi kali ini. Ah aku malu menengadahkan muka, Meski kutahu Kau kan selalu menyambutku dengan sumringah, Rinduku kadang hanya saat pasang, Yang hilang saat terang….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *