MENCARI TERANG DI DALAM GELAP

Puisi ini terlintas di suatu malam menjelang dini hari saat sulit terlelap, di tahun 2018 lalu. Tiba-tiba saya menyadari isi kepala saya penuh dan riuh sekali. Terlalu banyak ingin, percakapan, pertanyaan, lintasan pikiran yang kadang sulit dikendalikan. Kesadaran ini datang tiba-tiba dan merupakan salah satu hal yang saya sangat syukuri. Sejak saat itu, saya mulai lebih sering memperhatikan apa yang saya pikirkan. Mungkin dari sana berawal keinginan untuk lebih mindful, lebih khusyu’, lebih hadir, lebih melihat ke dalam dan memperhatikan apa yang terjadi di dalam diri sendiri.

Semoga teman-teman bisa menikmati juga puisi ini.

Similar Posts

  • |

    KEPADA-MU

    Bolehkah aku menemuiMu lagi, Setelah lepas hari kemarin, Saat langit masih terang, dan laut belumlah pasang. Bolehkah aku menemuiMu lagi, Mengeja asmaMu dengan sungguh-sungguh, Merapal doa sepenuh hati, MemintaMu menemani lagi kali ini. Ah aku malu menengadahkan muka, Meski kutahu Kau kan selalu menyambutku dengan sumringah, Rinduku kadang hanya saat pasang, Yang hilang saat terang….

  • | |

    TENANGLAH JIWA

    Tenang tenanglah,sesuatu dalam dada.Diam diamlah,dengarkan suara dari jiwa. Kita terlalu sering menghampiri dunia,Dan mati tenggelam di dalamnya. Tenang tenanglah,Bersama yang hakiki di dalam sana.Nyalakan terangnya,Menjadi pelita dalam jiwa. Diam diamlah,Perhatikan kemana Tuhanmu membawa.

  • | |

    PUISI TENTANG KEMATIAN

    Kematian laksana bayangan,Yang hanya terlihat ketika cahaya menyapa.Dengannya jati diri terungkap,Dan resah meninggalkan jiwa. Dia pasti datang,kau tak punya kuasa utk menolaknya. Pilihanmu hanyalah,mengabaikannya saja ataumenyapanya lebih dulu.Sehingga ketika dia datang,kau bisa menyambutnyalaksana sahabat karib,yg sudah ditunggu-tunggu. repost

  • | |

    BERUNTUNG

    Keberuntungan terbesar adalah ketika Dia menunjuki kesalahan-kesalahanmu dan membuatmu bertobat karenanya. Ketika istighfarmu berbunyi, dan permohonan ampunanmu benar-benar terasa sampai ke jiwa. Di titik itu, akhirnya kau benar-benar bisa memahami apa artinya ‘Tunjuki aku jalan yang lurus’. Tak sekedar ucapan tanpa makna,yang berulang dilantunkan, 17 kali sehari, seperti mantra. Berulang, namun sepi dari rasa.

  • | |

    CERITA KITA

    Cerita kita singkat saja, Sayang Tak lebih dari dua kepalan. Saat kau asyik menghitung ruasnya, Tak terasa kita tiba di tepian. Cerita kita singkat saja, Sayang Hanya dua kali kedatangan Tuan. Saat kelahiran dan kematian, Diantaranya kita berkelindan dalam kehidupan. Cerita kita singkat saja, Sayang. Cepatlah berbenah, Sebentar lagi waktunya pulang.

  • | | |

    FATAMORGANA

    Dan kamu tahu, Ratusan purnama berlalu, Ribuan cahaya datang dan pergi. Apakah dia meninggalkan jejak yang sama? Atau setidaknya menghapus luka? Kesedihan, gembira, duka, lara. Semua tipu daya. Sakit, senang, luka, dan nyaris binasa. Semua itu fatamorgana. Dia hanya semu belaka. Jadi harusnya kukembalikan lagi saja padaMu, Untuk dibuang habis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *