AWAN

Seperti awan-awan yang mengambang di angkasa,

kau kira bisa kau genggam dan kau bawa pulang.

Seperti itulah hidup yang kau pikir bisa kau kendalikan,

sementara dia perlahan-lahan keluar dari genggamanmu.

Hidup memang serapuh itu, kawan.

Lalu pada siapa kau letakkan genggaman tanganmu?

Similar Posts

  • PUISI TENTANG KEMATIAN

    Hari ini kematian kembali menyapa,Lewat kepergian tiba-tiba seorang teman lama.Apa kabarmu, katanya?Masihkah kau merisaukan dunia,sementara kau tahu aku teman yang paling setia. Hari-hari ini kematian seringkali menyapaBerpapasan lewat kabar duka kerabat,kenalan, keluarga jauh yang pergi tiba-tiba.Duhai, kurasa aku terlalu abai padamu,Kau tahu aku terlalu takut mendekatimu. Itu karena kau tak mengenalku,Kematian tertawa.Kau terlalu tergantung pada…

  • | | |

    FATAMORGANA

    Dan kamu tahu, Ratusan purnama berlalu, Ribuan cahaya datang dan pergi. Apakah dia meninggalkan jejak yang sama? Atau setidaknya menghapus luka? Kesedihan, gembira, duka, lara. Semua tipu daya. Sakit, senang, luka, dan nyaris binasa. Semua itu fatamorgana. Dia hanya semu belaka. Jadi harusnya kukembalikan lagi saja padaMu, Untuk dibuang habis.

  • | | |

    JALAN PULANG

    Jalan setapak yang hanya untuk kita. Mungkin mendaki, melelahkan, menyusahkan. Mungkin tak indah, tak gemerlap, tak terlihat. Namun, jalan itu membawa kita ke sana. Ke tempat yang paling dirindukan. Tempat asalnya dirimu, jiwamu. Kampung halaman. Dimana setiap jiwa akan kembali. Bertemu denganNya lagi.

  • | |

    TENANGLAH JIWA

    Tenang tenanglah,sesuatu dalam dada.Diam diamlah,dengarkan suara dari jiwa. Kita terlalu sering menghampiri dunia,Dan mati tenggelam di dalamnya. Tenang tenanglah,Bersama yang hakiki di dalam sana.Nyalakan terangnya,Menjadi pelita dalam jiwa. Diam diamlah,Perhatikan kemana Tuhanmu membawa.

  • | |

    CERITA KITA

    Cerita kita singkat saja, Sayang Tak lebih dari dua kepalan. Saat kau asyik menghitung ruasnya, Tak terasa kita tiba di tepian. Cerita kita singkat saja, Sayang Hanya dua kali kedatangan Tuan. Saat kelahiran dan kematian, Diantaranya kita berkelindan dalam kehidupan. Cerita kita singkat saja, Sayang. Cepatlah berbenah, Sebentar lagi waktunya pulang.

  • MENCARI TERANG DI DALAM GELAP

    Puisi ini terlintas di suatu malam menjelang dini hari saat sulit terlelap, di tahun 2018 lalu. Tiba-tiba saya menyadari isi kepala saya penuh dan riuh sekali. Terlalu banyak ingin, percakapan, pertanyaan, lintasan pikiran yang kadang sulit dikendalikan. Kesadaran ini datang tiba-tiba dan merupakan salah satu hal yang saya sangat syukuri. Sejak saat itu, saya mulai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *