|

TENTANG MEMORY DAN DEMENTIA

Beberapa malam lalu saya menyempatkan diri menonton film Even If The Love Disappears Tonight, sebuah film Korea yang merupakan adaptasi dari film Jepang yang berasal dari sebuah novel. Tidak banyak film atau drama Korea yang saya tonton. Jika dihitung mungkin tidak lebih dari satu jari tangan, dan itu pun beberapa di antaranya karena menemani suami menonton. Film ini muncul berulang kali di beranda Netflix saya, dan karena sedang luang saya memutuskan menontonnya.

Film ini bergenre drama romantis, tentang kisah dua orang anak muda yang saling jatuh cinta secara perlahan. Poin pentingnya adalah kondisi si perempuan yang mengalami gangguan memori anterograde, di mana dia tidak bisa mengingat hal-hal yang baru saja terjadi karena kecelakaan. Memorinya selalu direset ulang setelah bangun tidur.

Setiap hari adalah hari baru bagi perempuan ini, dan itu bukan hal yang mudah. Untuk menjalani hari-harinya dengan baik, dia membuat jurnal dan sejumlah pengingat agar terhubung dengan hari berikutnya, termasuk terkait hubungannya dengan laki-laki ini. Semua peristiwa dan informasi kecil dicatat di handphone dan komputernya, dibantu foto dan video sebagai jembatan pengingat.

Saya terpaku menonton film ini bukan karena romantismenya. Cerita anak sekolah jatuh cinta sepertinya bukan konsumsi ibu-ibu sebaya saya. Namun saya tercenung karena teringat ibu saya, yang saat ini mengalami gangguan memori karena dementia.

Ada masa-masa ibu sering lupa dengan apa yang baru saja terjadi, dan belakangan semakin sering karena dementia bersifat progresif. Saat umroh lalu, gangguan ini sempat parah. Ibu nyaris hilang karena lupa rumah anaknya. Untungnya beliau hanya berjalan ke rumah tetangga yang kemudian mempertemukan kami kembali.

Terkadang lucu saat ibu menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Di suatu waktu, beliau bercerita memiliki seorang anak kuliah di UI bernama Putri, lalu bertanya apakah saya mengenalnya. Dengan tertawa perih saya menjawab bahwa saya lah anaknya itu. Dia sempat kaget sebelum akhirnya tertawa setelah mengenali saya kembali. Di lain waktu beliau mengatakan hanya punya satu anak perempuan, yaitu saya. Saya mengingatkannya bahwa ada adik perempuan saya yang sedang beristirahat di kamar.

Kadang kami harus membantu beliau mengingat kembali hal-hal sederhana: apakah sudah sholat, siapa yang baru datang, apa yang baru saja dilakukan. Kejadian-kejadian ini membuat kami berdoa agar ingatannya tidak memburuk dan melupakan kami. Mungkin inilah yang membuat saya merasa terhubung dengan film tersebut: perasaan takut dilupakan oleh orang yang kita sayangi. Karena ingatan bukan hanya sekadar rekam jejak peristiwa. Ingatan sangat berkerabat dengan kenangan, yang sarat unsur emosi.

Memori dan emosi sangat berkerabat. Dalam teori belajar, suasana menyenangkan dianjurkan karena emosi sangat memengaruhi ingatan. Hal menyenangkan mudah diingat, demikian juga hal yang menyakitkan.

Beberapa informasi diingat melalui jalur kerja otak yang biasa: informasi masuk ke sistem sensorik, diolah di working memory, lalu disimpan di long-term memory melalui pengulangan, elaborasi atau teknik mengingat lain. Namun ada jalur cepat lain dalam mengingat, ketika emosi kuat menyertai peristiwa tersebut, sehingga kenangan langsung tersimpan di long-term memory tanpa butuh pengulangan.

Pada penyintas trauma, peristiwa hadir terpotong-potong dan muncul berulang tanpa kendali. Di kasus lain, peristiwa menyakitkan bisa seolah terlupa karena sistem saraf membentuk reaksi freeze. Namun potongan itu tetap terekam dalam tubuh. Menyatukan kepingan kenangan ini menjadi satu rangkaian hidup yang utuh adalah salah satu PR besar dalam membantu penyintas trauma.

Demikianlah hubungan antara emosi dan memori yang menjadikan kita utuh sebagai manusia.

Bagaimana jika sistem memori ini terganggu? Ada yang hidup di masa lalu yang menyakitkan, ada yang terjebak nostalgia. Alur hidup menjadi tidak sinkron. Manusia yang utuh memahami masa lalu sebagai pelajaran, hidup di hari ini, dan merencanakan masa depan tanpa tergantung padanya. Karena itu hidup di-ke-hari-ini-an menjadi saran para ahli dan juga kunci berserah diri dalam agama.

Dalam kasus saya, gangguan ibu disebabkan faktor penuaan dan genetik. Perjuangan beliau di sisa usia ini termasuk mengelola emosi dalam ingatan yang hilang timbul ini. Belajar mengenali kembali dunia dalam kebingungannya tentang ingatan dan waktu. Hal ini tidak mudah bagi beliau dan keluarga. Terjebak dalam ingatan masa lalu dan kadang kehilangan potongan ingatan yang baru terjadi.

Buat saya pribadi menerima hal ini juga bukan hal yang mudah. Ada masa dimana saya benar-benar khawatir tidak dikenali meskipun ingatan tentang saya tetap ada dalam kenangannya. Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh anak-anaknya yang lain. Saya sedang belajar menerima ini dengan cara menguatkan bakti sekaligus menebus dosa-dosa yang mungkin tidak saya sadari selama menjadi anaknya. Buat saya pribadi, meskipun beliau kadang mengalami disorientasi waktu, dirinya tetap utuh dalam ingatan kami sebagai manusia paling berjasa bagi kami anak-anaknya. Semoga Allah berkenan menyayanginya hingga akhir usia. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Similar Posts

  • ORANG-ORANG SUCI

    Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah postingan di IG, tentang kisah seorang Nenek/Mbah yang mengetuk hati saya. Beliau ini tuna netra, sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan tempe di pasar. Dari hasil berjualannya ini, beliau setiap hari hanya mengambil 50 ribu rupiah, dan sisanya disedekahkan ke masjid. Berapapun hasil yang beliau peroleh hari itu. Pernah suatu…

  • KATA-KATA

    “Gw ingat Lo pernah bilang …”, “Seperti yang Lo pernah bilang ke gw ….” Beberapa kali di beberapa kesempatan yang berbeda, dengan orang yang berbeda-beda, saya mendengar kalimat ini dilontarkan. Beberapa kalimat yang saya sampaikan pada orang lain, entah berupa refleksi hidup, sharing, hikmah, nasihat, pengingat, dll terekam dalam ingatan mereka, dan dijadikan penguat dalam…

  • PANAS

    Beberapa hari ini cuaca terasa panas sekali. Saya yang tidak terlalu suka berada di ruangan ber-AC sepanjang hari, kali ini berlaku sebaliknya, menyalakan AC hampir sepanjang hari karena tidak tahan dengan gerahnya. Begitu juga saat berada di ruang terbuka, panas terasa sangat membakar, sehingga memaksa saya segera berlindung. Tidak mau berlama-lama berada di bawah matahari….

  • | | |

    TENTANG MELEPASKAN

    Sore kemarin saya berbincang dalam dengan seorang teman. Dari pembicaraan tentang hidup sehari-hari, topik kami kemudian beralih menjadi tentang melepaskan. Pertanyaannya cukup membuat saya berefleksi, bagaimana proses melepaskan terjadi dalam hidup saya, tepatnya bagaimana akhirnya saya bisa melepaskan banyak hal dalam hidup? Beberapa tahun yang lalu pelajaran tentang melepaskan ini saya rasakan datang bertubi-tubi. Pasca…

  • | |

    PENGINGAT DIRI

    Apakah ketika rezeki datang berlimpah kamu tetap bersyukur dan ketika kesulitan menghadang, kamu tetap bisa bersabar? Apakah semua tetap sama saja di hatimu, atau hatimu masih terbolak balik kuat terpengaruh ‘pemberian’nya? Apakah kamu bisa melihat Dia di setiap ‘pemberian’ atau terpaku pada wujud rupa pemberian-Nya? Iman-mu, apakah terpancang kuat, atau hanya sekedar di tepi? Jawabannya…

  • | | | | |

    Perempuan dan Fitrah

    Libur akhir tahun lalu aku menghabiskan waktu nyaris dua Minggu di rumah saja. Beberapa meeting direskedul, juga ada training yang ditunda pelaksanaannya, sehingga membuat libur akhir tahun ini benar-benar tanpa beban. Selama nyaris dua Minggu itu aku menghabiskan waktu dengan beragam urusan domestik. Beberes rumah, menata rumah yang memang baru kutempati tahun lalu, memasak dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *