| | |

Menuju Hidup Bermakna

Semua orang ingin terlihat di media sosial. Lewat status Facebook, WhatsApp, Instagram, TikTok, dan sebagainya, orang membagikan cerita hidupnya. Ingin dikenali, ingin dilihat keberadaannya. Kecenderungan untuk terlihat ini wajar, karena manusia pada dasarnya ingin mengetahui untuk apa dia ada di dunia ini. Pertanyaan ini menegakkan rasa penting dan eksistensi diri.

Dalam psikologi, perasaan invisible – merasa tidak terlihat – kadang bisa menjadi masalah besar. Ia berkaitan dengan rendahnya self-esteem dan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental. Namun, bagaimana kita mencari jawaban atas pertanyaan eksistensial ini adalah persoalan berikutnya.

Apa makna keberadaan kita di muka bumi? Jika jawabannya hanya bersenang-senang dan menikmati dunia beserta isinya, rasanya naif sekali. Kita tahu banyak orang kaya dan pesohor yang hidupnya menjadi pusat dunia, namun pada akhirnya memilih bunuh diri. Tetap saja ada ruang kosong di dalam hati.

Untuk apa kita ada di dunia ini? Jutaan orang menderita karena pertanyaan ini. Saya pun pernah merasakannya. Mencari jawabannya lewat bekerja keras, bahkan bekerja sesuai passion, sering kali tidak menyelesaikan kegelisahan ini. Banyak orang yang bekerja sesuai bakat dan minatnya, tetap saja tidak bahagia.

Lalu bagaimana sebenarnya kita mencari jawabannya?

Jika dikatakan agama adalah jawabannya, banyak orang akan menggeleng kepala. Ia terasa seperti shortcut yang dipaksakan tanpa dipahami keterhubungannya dengan kehidupan nyata. Kita melihat orang-orang yang tampak saleh dan rajin beribadah secara lahiriah, tetapi perilakunya tidak mencerminkan ajaran agama. Ada pula yang beribadah, namun tetap merasa kosong. Saya tidak menafikkan hal ini, karena pernah juga mengalaminya.

Sebagian dari kita kemudian memilih mematikan bara tanya ini. Menjalani hidup 24 jam sehari, melakukan hal-hal baik tanpa banyak bertanya lagi. Sebagian dari mereka bisa tidur nyenyak, sebagian tidak.

Lalu, apa itu hidup bermakna?

Orang-orang suci, filsuf, dan ahli psikologi telah lama mencoba menjelaskannya. Sejak zaman Socrates, kita diperkenalkan pada gagasan bahwa manusia lebih dari sekadar raga. Ada sesuatu yang lain yang harus ditemukan untuk memahami inti hidup sebagai manusia. Socrates berjalan ke pasar-pasar, berdialog dengan banyak orang, menggugah pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup.

Buddha Gautama, seorang putra mahkota, meninggalkan istana dan segala kemewahan demi mencari jawaban atas kegelisahan batin. Dari perjalanannya lahir panduan untuk menemukan kebahagiaan sejati dan melepaskan diri dari penderitaan.

Viktor Frankl menjelaskan makna hidup yang justru dapat ditemukan dalam penderitaan. Pengalamannya di kamp konsentrasi, yang merenggut martabat dan rasa kemanusiaan, mengajarkannya bahwa manusia masih bisa menemukan makna dalam situasi paling gelap sekalipun. Dari sinilah lahir Logotherapy: pandangan bahwa manusia dapat menemukan makna, dan karenanya keteguhan hidup, dalam kondisi apa pun.

Ada pula gagasan tentang hidup autentik: hidup selaras dengan apa yang diyakini dan apa yang ada di dalam diri. Juga prinsip hidup Stoic, yang mengajarkan kecukupan, penerimaan, dan usaha tanpa pemaksaan, mengalir seperti air, sebagai jalan menuju hidup yang bermakna dan tenang.

Begitu banyak upaya telah dilakukan untuk memahami makna, hidup, dan kebahagiaan.

Saya kemudian berhenti mencari jawaban semata dari teori, dan mulai bertanya kepada Tuhan: apa sebenarnya yang Engkau inginkan? Bagaimana saya bisa menemukan kebahagiaan sejati dan kebermaknaan? Mengikuti kata hati, tetapi kata hati yang bagaimana? Apakah selalu benar apa yang ada di hati dan pikiran saya?

Perjalanan ini menempa saya melalui kesulitan. Ia memaksa saya kembali melihat Al-Qur’an, yang memberi petunjuk tentang tujuan penciptaan manusia. Tentang insan bernama manusia, yang untuknya langit dan bumi ditundukkan, dan yang diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Saya membaca kembali Al-Qur’an. Isinya tentang perjuangan, tentang hawa nafsu yang harus ditundukkan, tentang raga yang perlu dikosongkan. Saya kemudian memahami bahwa semua laku spiritual berfungsi untuk itu. Sholat, puasa, dan zakat menjadi sarana memutus ketergantungan berlebihan pada raga dan dunia.

Sakit yang diberikan, peristiwa sulit yang dihadirkan, mengantar saya untuk berpikir melampaui sekadar kesulitan hidup. Saya mulai melihat Dia mengajak berjalan memasuki jalan-Nya. Shiratal Mustaqim, yang ternyata hanya bisa dikenali ketika hati benar-benar berserah.

Tentu saja jatuh bangun. Namun setidaknya saya mulai memahami bahwa agama bukanlah sekadar kewajiban. Bahwa penderitaan hidup, sebagaimana dikatakan Viktor Frankl, dapat mengantar manusia pada sesuatu yang lebih tinggi.

Saya belajar melihat lebih dari sekadar tubuh, lapar, dan tuntutan gaya hidup. Saya belajar menjadi lebih autentik dalam puasa, zakat, dan sholat, agar tidak terseret oleh ilusi dunia. Perlahan saya memahami bahwa petunjuk hidup tersebar di setiap titik perjalanan kehidupan. Tinggal apakah saya mau menerimanya atau tidak, termasuk melalui hal-hal tersulit yang harus dirasakan.

Karena pada dasarnya, hidup bermakna, memahami siapa kita, adalah perjalanan menguliti diri, lapis demi lapis, hingga ke akarnya.

Similar Posts

  • | |

    SEORANG PEMUDA DAN MOBIL MOGOK: SEBUAH KISAH KEBAIKAN HATI

    Kamis sore, seperti biasa aku pulang dari kantor setelah seharian bekerja. Sore itu aku menggunakan taksi online yang kupesan setelah suami mengantarkanku ke titik jemput seperti biasanya. Hari itu bukan jadwalnya bermalam di rumahku, jadi aku akan pulang sendiri seperti biasa. Perjalanan lancar sejak kami berangkat hingga turun di pintu tol terdekat dari rumahku. Hari…

  • MENAKAR DIRI

    Beberapa hari ini kedua kaki saya sedang sakit sekali. Awalnya karena ingin ikutan olahraga memperkuat otot dan tulang, maka pergilah saya menemani si Abang Radja nge-gym di suatu hari. Karena belum tahu harus apa, saya hanya mengikuti instruksi si Abang yg sudah hampir setahun ini rutin nge-gym. Dia bilang, karena saya beginner, maka untuk awal…

  • |

    DI RUMAH SAKIT

    Di rumah sakit,aku melihat orang lalu lalang.Meskipun berpapasan,Tak saling menyapa, Tenggelam dalam pikirannya. Di rumah sakit,ada pasien yang duduk diam di kursi,lemah, menunggu giliran diperiksa.Ada keluarga yang setia menemani,bolak-balik mengurus hal kecil,yang lain mendorong kursi roda ke sana kemari. Ada pasien lain yang masih sanggup berjalan,menunggu antrian sambil mungkin merasa bosan. Seperti aku,duduk di pojokan,mengamati…

  • | | |

    TENTANG HIDUP

    Siang itu hujan baru saja berhenti. Mendung masih bergelayut di langit, ketika aku dan si kecil membuka pintu pagar rumah. Kami berencana makan di satu tempat, sambil bertemu dengan beberapa sahabat lamaku. Taksi online yang kupesan sudah terparkir di depan rumah. Ketika membuka pintunya, aku tersadar pernah bertemu dengan pasangan ibu dan anak, pengemudi taksi…

  • | |

    PUTRI ARIANI

    Putri Ariani sedang viral dimana-mana. Saat menonton video nya di AGT, saya seperti jutaan orang lainnya, merinding. Suaranya luar biasa bagus, talenta bermusiknya juga luar biasa memukau. Melihat penampilan Putri dari YouTube, saya memperhatikan sosok kedua orang tuanya. Ayah yang mengantarkan ke panggung, sesekali memeluk, menyampaikan kata-kata yang menguatkan. Ibu yang berdiri di pinggir panggung….

  • | |

    RAMADHAN SAYA

    Saya dibesarkan di sebuah perkampungan padat penduduk dengan aktivitas keagamaan yang cukup intens. Saat kecil, Ramadhan adalah bulan yang paling saya nantikan. Puncak kegiatan keagamaan di lingkungan ini berlangsung sepanjang Ramadhan hingga beberapa hari setelah Idul Fitri. Lingkungan tempat saya tinggal dipenuhi beragam kegiatan, yang diikuti baik oleh orang tua maupun anak-anak. Suasananya mirip ‘Pesta…

2 Comments

  1. alhamdulillah..
    Tulisan yg jelas.. terima kasih sudah menuliskan pemikiran ini. Very well said.
    Pengingat yang jitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *