Kisah Tentang Ratu Saba dan Perjalanan Integrasi Diri
Siapa yang tak kenal Bilqis? Ratu dari negeri Saba yang sangat terkenal. Kisahnya tertuang dalam empat kitab suci dan banyak orang tua mengabadikan namanya sebagai nama anak perempuan mereka. Sebuah harapan agar anak itu bertumbuh seperti beliau, pemimpin perempuan yang arif dan bijaksana.
Ratu Bilqis dan Nabi Sulaiman. Dahulu saat masih kanak-kanak dan remaja, saya mendengar kisahnya serupa legenda. Kisah tentang burung Hud-Hud yang berkelana, dicari oleh Sang Nabi, lalu menemukan sebuah negeri yang masih menyembah matahari. Singkat cerita, Nabi Sulaiman mengutus Hud-Hud membawa surat yang meminta kerajaan Saba menyembah Allah semata dan tunduk di bawah kekuasaannya.
Sang Ratu kemudian mengumpulkan para petinggi kerajaan untuk mendiskusikan isi surat tersebut. Diputuskanlah bahwa beliau akan berkunjung ke kerajaan Sulaiman untuk berkenalan langsung.
Kisah yang gegap gempita dan agak berbeda dibandingkan kisah para nabi lain, karena ada peristiwa Jin Ifrit yang memindahkan singgasana sang Ratu, lantai kerajaan yang tampak seperti air, hingga binatang yang berbicara dengan Nabi. Kita tahu bahwa Raja Sulaiman merupakan penguasa alam jin dan mampu berbicara dengan binatang di sekitarnya. Bagi saya pribadi, dahulu kisah ini terasa agak jauh dan mirip sebuah legenda.
Itu dahulu, sebelum saya menemukan bahwa kisah ini sesungguhnya adalah kisah tentang pencarian dan pertemuan seorang manusia dengan kebenaran hakiki, penuntun jalannya. Pemahaman ini mengalir dari lisan Guru saya yang banyak memberikan sudut pandang lain tentang kisah-kisah dalam Al-Qur’an, sehingga terasa lebih dekat dengan kehidupan pribadi. Pemahaman yang kemudian membuat saya berefleksi tentang diri saya dan perjalanan yang sudah saya tapaki.
Negeri Saba adalah negeri yang makmur sebelum Sulaiman datang. Sang Ratu yang dicintai rakyatnya memimpin dengan sangat bijaksana. Negeri ini digambarkan cukup maju dan memiliki sistem pengairan yang modern pada zamannya. Sang Ratu memimpin dengan adil dan selalu mendengarkan bawahannya. Hanya satu kekurangannya, mereka masih menyembah matahari.
Jika kisah ini tercantum dalam Al-Qur’an, pastilah ia membawa pelajaran bagi kita. Karena Al-Qur’an sering berbicara dalam bahasa simbol, maka Sang Ratu dan Sang Raja Sulaiman pun dapat dipahami sebagai simbol.
Dalam pemahaman yang sedang saya pelajari, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh. Ada jasad yang menjalankan kehidupan fisik, ada dunia psikologis yang mencakup pikiran, perasaan, dan berbagai pengalaman batin, serta ada jiwa yang menjadi pusat terdalam diri manusia. Ketiganya saling memengaruhi, namun tidak selalu tumbuh dalam kecepatan yang sama.
Sang Ratu merupakan simbol dari jasad dan kehidupan lahiriah yang telah berkembang dengan baik. Keteraturan dan kebijaksanaannya merupakan hasil dari olah diri yang kuat serta kemampuan nalar yang dipergunakan dengan baik. Ia memimpin negerinya dengan tertib dan adil. Namun seperti negeri Saba yang masih menyembah matahari, kehidupan lahiriah yang tertata belum tentu telah menemukan arah sejatinya.
Di sinilah kemudian hadir Nabi Sulaiman sebagai simbol penuntun menuju kebenaran yang lebih tinggi.
Berkaca pada diri kita, kisah ini mengajak kita mengolah diri dengan baik. Mempergunakan kemampuan jasad, akal, dan kecerdasan emosi secara benar sehingga siap menerima tuntunan yang lebih dalam.
Pada titik inilah saya kemudian merenung. Seberapa jauh sebenarnya saya telah mengelola bumi diri saya ini dengan baik?
Renungan ini semakin terasa karena beberapa bulan terakhir saya sedang berjuang melawan sakit yang belum saya ketahui pasti penyebabnya.
Raga saya sedang tidak baik-baik saja. Kondisi lemas yang kadang datang tiba-tiba mengantarkan pada sejumlah dugaan yang kurang baik. Masalah pada jantung, gangguan hati, ginjal, dan lain sebagainya masuk ke dalam daftarnya. Meskipun kemudian tidak terbukti, dan dugaan sementara mengarah pada kekurangan zat besi, kondisi ini membuat saya banyak berpikir.
Ada apa dengan jasad saya sebenarnya?
Renungan ini mengantarkan saya pada suatu pemahaman yang menohok hati: bahwa selama ini, meskipun cukup baik dalam berolahraga dan mengatur makanan, ada sesuatu yang tidak tampak yang belum dikenali dan dikelola dengan baik. Sesuatu yang berkaitan dengan pikiran dan emosi.
Selama fase tidak banyak bergerak, saya banyak bertanya pada diri sendiri: bagaimana jika saatnya sudah dekat? Apa yang akan saya bawa kembali, dan apa yang saya simpan dalam hati?
Kondisi ini memaksa saya membongkar ulang pikiran dan menengok ke dalam karena fisik yang dilemahkan. Hasilnya membuat saya menyadari satu hal: tubuh, pikiran, dan perasaan saya ternyata belum sepenuhnya terintegrasi. Pikiran dan perasaan saya sering berjalan sendiri-sendiri, tanpa benar-benar saling mendengarkan.
Saya menyadari bahwa selama ini perhatian saya lebih banyak tertuju pada pengelolaan tubuh dan aktivitas lahiriah. Sementara di sisi lain, ada dunia psikologis yang belum sepenuhnya dipahami dan diterima.
Namun perjalanan ini ternyata tidak berhenti di sana.
Saya bahkan belum berbicara tentang lapisan yang lebih dalam lagi: jiwa yang belum sepenuhnya saya kenali. Ada bagian dari diri yang selalu merindukan sesuatu yang lebih tinggi, yang tidak dapat dipuaskan hanya oleh kesehatan fisik, pencapaian, ataupun ketenangan emosi.
Perlahan saya mulai memahami bahwa mungkin persoalannya bukan semata-mata tubuh yang sakit. Bisa jadi saya sedang diajak melihat bahwa ketiga lapisan diri ini belum bertumbuh secara selaras. Ada bagian yang sedang dibangunkan, sementara bagian yang lain masih berusaha mengejar dan menyesuaikan diri.
Dibutuhkan banyak kesadaran, mungkin juga pembersihan melalui sakit ini, agar pertumbuhan tersebut dapat berjalan seiring. Tumbuh bersama-sama dari dalam ke luar, dan dikuatkan dari luar ke dalam.
Mungkin itulah yang sedang saya pelajari. Proses integrasi yang tidak mudah, karena mengajarkan kita membaca seluruh aspek yang membentuk diri sebagai seorang manusia. Bukan hanya tubuhnya, bukan hanya dunia psikologisnya, tetapi juga jiwa yang menjadi pusat terdalam kehidupannya.
Masih jauh perjalanan ini. Berkaca dari Ratu Saba, idola saya tersebut, terasa masih banyak yang harus dilakukan. Semoga Allah menuntun diri ini untuk mengenali seluruh aspek dirinya dengan baik, sehingga dapat terintegrasi, tumbuh dengan utuh, dan berkembang sebagaimana mestinya.
Semoga Allah berkenan menyempurnakan.

