Haji dan Rumah Tuhan di Hati

Salah satu utas thread lewat di beranda saya. Utas ini terkait skandal korupsi tingkat tinggi negeri ini yang melibatkan oligarki. Dia bercerita bagaimana sekelompok kekuasaan mengendalikan sumber daya alam negara kita dan para pejabatnya, dari istana hingga level daerahnya. Yang menarik perhatian saya, saat pembuat utas mengatakan, masyarakat tahu hal tersebut, namun mereka dapat dibungkam dengan hadiah haji dan umroh yang diberikan setiap tahun pada mereka. Cukup dengan haji dan umroh saja, konon oligarki yang bergelar haji ini, didukung oleh masyarakatnya.
Cerita lain dari teman dekat saya yang juga melaksanakan haji dan umroh. Saat sedang melakukan ritual thawaf dan mengelilingi ka’bah, dia merasakan sesuatu yang agak menganggu hatinya. Sebuah pemandangan manusia yang saling mendorong, saling sikut, seperti saling berkompetisi untuk mendekati ka’bah kala itu.
Dia kemudian bertanya-tanya, bagaimana ini bisa terjadi? Di kota suci, dalam ritual suci, dalam kondisi semua orang sedang diletakkan dalam posisi setara, banyak orang masih menginjak orang lain, untuk mendapatkan keinginannya sendiri? Kenapa ada yang terasa janggal?
Saya dulu juga bertanya-tanya, bagaimana jika seseorang tidak berkesempatan berkunjung ke tanah suci, entah karena alasan apapun? Apakah itu artinya dia tidak diundang Allah SWT dan tidak mulia? Pertanyaan ini mungkin lahir dari pernyataan yang sering beredar di sekeliling, bahwa hanya mereka yang diundang yang bisa hadir.
Ada perasaan istimewa, diutamakan bagi orang yang diundang, yang tersirat dari pernyataan tersebut. Sehingga mungkin membuat orang yang merasa tidak diundang menjadi rendah hati dan merasa kurang iman sehingga tidak diberikan kesempatan. Padahal ada kenyataan lain yang ditemukan, baik dari mereka yang umroh dan haji berkali-kali namun tetap berperilaku tidak sesuai, bahkan korupsi, atau dari peristiwa yang teman saya alami tadi.
Jadi sebenarnya seperti apa ibadah haji yang benar itu?
Jawaban atas pertanyaan ini perlahan tersingkap saat saya mendengarkan penjelasan dari Guru saya. Sesungguhnya ibadah haji, sebagaimana kisah Ibrahim dan Ismail, hakikatnya adalah membangun Baitullah di dalam hati. Rumah Allah yang ada di dalam jiwa, yang seringkali tidak kita kenali.
Rasul Allah yang mulia, Ibrahim, kisahnya penuh dengan pengorbanan dan pen-Tauhid-an yang agung pada Tuhan semata. Pencari Tuhan sejati sejak kecil, dia bahkan dibakar hidup-hidup demi mempertahankan keimanan-Nya. Tuhan Yang Esa, bukan para berhala yang disembah oleh ayah maupun penduduk negerinya.
Iman yang murni ini yang membuat dirinya juga bersedia memenuhi perintah Tuhan, untuk menyembelih anaknya sendiri. Saya baru benar-benar bisa membayangkan keimanan sebesar apa untuk bisa melalui ini, setelah saya memiliki anak. Bukan iman yang setengah-setengah, bukan iman yang tanggung, bukan keberserahdirian yang main-main.
Kisah Ismail dan Hajar pun sama beratnya. Ditinggal di daerah tandus, tanpa tahu apa yang akan ada di depan. Berlari-lari di antara shafa dan marwa mencari air untuk anak yang masih bayi. Sendirian, tanpa suami, namun begitu tahu bahwa itu adalah perintah Allah Ta’ala , menerimanya dengan sepenuh keikhlasan hati.
Apakah dia tahu bahwa suatu hari kisahnya ini akan diabadikan dalam ritual haji? Tentu tidak sama sekali. Namun begitulah iman orang yang beriman yang sebenarnya, berserah diri, tawakal, percaya bahwa apapun yang Dia ukirkan, adalah baik semata.
Membangun baitullah dalam diri. Kata-kata ini membuat saya merenungi, berusaha mencerna kisah demi kisah tentang Ibrahim dan keluarganya ini sambil melihat ke dalam diri sendiri. Apakah benar Dia satu-satunya Tuhan di hati saya? Bagaimana dengan segala macam keinginan yang membuat saya kadang tidak lagi bertanya apa kehendak-Nya? Bagaimana dengan segala kekesalah, kekecewaan, kemarahan pada saat hidup tidak berjalan sesuai dengan keinginan saya?
Bagaimana dengan segala curhatan keluh kesah, status-status dengan dalih menyalurkan emosi dan cara bertahan hidup saat masa sulit mendera? Rasa-rasanya tidak perlu saya katakan lebih jelas: keinginan saya, keyakinan saya, hawa nafsu saya, masih sering mengkhianati iman saya. Saya seringkali tidak melihatnya dalam hidup yang saya jalani ini. Astaghfirullahal’adzim.
Baitullah di dalam diri, semuanya hanya bisa bersih, terbangun, ketika tidak ada tuhan lain di hati. Saat ini tuhan berhala mungkin tidak kita sembah, tapi hawa nafsu syahwat kita, keinginan dan keterikatan kita pada dunia, masih menyala-nyala dan mengambil alih cahaya Tuhan di dada. Malangnya lagi, sering sekali kita bahkan tidak menyadarinya.
Kembali pada haji, jadi bagaimana seharusnya? Buat saya pribadi, orang-orang yang diundang dan terpilih itu tentu ada. Mereka yang sudah membangun baitullahnya, lalu dipanggil untuk menyempurnakannya.
Namun, kita juga tidak bisa menafikkan masih banyak juga yang membawa ‘berhala’nya saat mengunjungi tempat suci dan tetap menyembahnya, alih-alih menghadap Allah di rumah-Nya ini. Jadi wajar jika di tempat suci ini kita masih menemukan peristiwa yang diceritakan teman saya, atau gelar haji yang tidak mencerminkan apa-apa.
Saya lalu teringat kisah penghancuran berhala oleh Rasulullah saat penaklukkan kembali Kota Makkah. Membersihkan Rumah Allah dari selain Dia. Mungkin hal ini yang harus kita lakukan, terutama buat saya sendiri, meskipun belum berkesempatan mengunjungi tempat suci.
Belajar mengenali diri, dunia dalam, penguasa gelap hati, sehingga semoga suatu hari ketika Dia panggil, panggilan ini menyempurnakan apa yang ada di dalam, baitullah yang sedang saya upayakan. Di dalam hati ini.
Jikapun tidak ada rezeki untuk mengunjunginya, semoga saya mendapatkan rezeki tukang sepatu, yang meskipun tak pernah berangkat haji, namun Rasulullah mengatakan bahwa dialah orang yang satu-satunya ibadah hajinya diterima di tahun itu. Dia tidak secara fisik melakukan ritual ibadah haji, namun keinginannya selaras dengan kehendak Ilahi. Baitullahnya sudah terbangun, karena keikhlasannya menghadapkan dirinya pada Allah semata.
Semoga kita pun mulai membangun Baitullah di dalam hati.
Amin ya Rabbal ‘Alamin..
