| | |

Odyssey dan Perjalanan untuk Kembali

Apa arti mitologi untukmu? Dahulu, buat saya mitologi itu hanya sejenis dongeng, khayalan dan rekaan belaka, dari mereka yang luar biasa kreatif dan berbakat dalam bercerita. Hingga kemudian saya mengenal konsep archetype dari Jung, yang mengatakan bahwa mitologi dan legenda menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar dongeng.

Dia merupakan bagian dari ketidaksadaran kolektif manusia. Di dalamnya mungkin terkandung ajaran, nilai dan esensi tentang kehidupan. Hal ini semakin saya yakini setelah saya menonton film Odyssey, yang merupakan salah satu mitologi Yunani yang terkenal ini.

Odyssey adalah seorang raja, ksatria yang harus terlibat dalam Perang Troya dan berhasil membawa kemenangan bagi mereka. Pasca kemenangan yang besar dan legendaris itu, Odyssey memimpin pasukannya kembali pulang, menuju keluarga yang mereka rindukan.

Kisah tentang Odyssey ini adalah kisah tentang perjalanan pulang dengan segala tantangannya. Begitu banyak kesulitan yang dihadapi, untuk kemudian harus menerima takdir bahwa tidak ada yang selamat kecuali Odyssey sendiri.

Buat saya pribadi, kisah ini tidak hanya sekadar kisah Odyssey, tapi juga kisah tentang perjalanan kita menuju Dia, rumah kita yang sejati.

Berapa banyak dari kita yang merasakan kehampaan dalam kehidupan? Setelah semua pertarungan dan kemenangan yang kita peroleh, banyak dari kita bertanya, kenapa rasanya masih kosong saja? Apa lagi yang harus dilakukan?

Mereka yang gelisah ini kemudian mencoba mencari jawaban dengan kembali pulang menuju Ilahi. Menempuh jalan pertaubatan, atau hijrah dari kegelapan dan ketidakpahaman tentang hidup, mencoba memahami sesuatu yang abadi.

Masalahnya kemudian, perjalanan pulang kembali ini tak semudah yang kita duga. Kita pikir dengan memperbaiki sholat, rajin berdoa, memperbanyak ibadah, sedekah, dan lain-lain, kekosongan itu akan hilang, atau hidup kita akan menjadi mudah dan terang benderang. Tapi seringkali nyatanya tidak.

Persis seperti Odyssey, niat pulang harus ditebus dengan perjuangan yang mengajarkan banyak hal. Menerjang badai, menghadapi sihir, melawan suara rayuan yang membius dan menggoyahkan niat kita, atau bahkan meluluhlantakkan kepercayaan kita kembali.

Ada yang menarik pada kisah ini. Seluruh hambatan ini terasa berat ketika Odyssey merasa bahwa semua tantangan dapat ditaklukkan dengan keyakinan dan usaha. Kenyataannya tidak demikian.

Satu scene yang menampar saya adalah saat di tengah badai hebat dan mencoba lolos dari maut terdengar suara, “Menyerahlah, Odyssey… menyerahlah.” Ikuti semua yang sudah ditakdirkan dan jangan melawan. Di titik ini, Odyssey kehilangan semua pasukannya, bahkan kesadarannya, sebelum kemudian menemukan jalan kembali.

Adegan ini menampar saya. Sebagai orang yang dulu pernah sangat percaya bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Apapun bisa kita lakukan selagi kita mau berusaha keras. Saya seperti diingatkan kembali: jalan kembali adalah jalan keberserahdirian.

Jalan yang menghadirkan ketidaknyamanan, namun memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Pertarungan dengan dunia gelap diri. Mendapati bahwa kita hanyalah seekor babi, rusa, gagak, atau binatang lainnya di dalam diri. Terbius oleh suara-suara hasutan duniawi yang melenakan. Dihalangi oleh kesombongan untuk menaklukkan.

Pada akhirnya, jalan pulang adalah tentang keberserahdirian.

Jadi, jika kita saat ini bertanya kenapa hidup kita terasa sulit sekali saat ingin kembali, jawabannya mungkin karena kita sedang berhadapan dengan diri sendiri yang tidak kita sadari. Semuanya akan terasa berat hingga ego penaklukan kita berhenti.

Inti dari semua perjalanan ini adalah berserah diri. Kebersediaan untuk diatur, dibentuk dan menjalani jalinan takdir yang Dia beri. Bukan atas kehendak sendiri.

Perjalanan pulang menuju Tuhan adalah perjalanan tentang makna Islam itu sendiri: berserah diri.

Pertanyaannya, sejauh mana saat ini kita menjadi muslim sejati, yang benar-benar berserah diri?

Similar Posts

  • PENGATURAN ALLAH

    Satu nasihat yang saya selalu ingat dari kakak seperjalanan adalah ‘belajar melihat Allah dalam setiap urusan. Kalau tidak, bisa habis kita, bergumul dalam keluhan-keluhan’. Urusan di sini termasuk semua peristiwa yang dihadirkan. Menyenangkan atau tidak menyenangkan. Indikasinya salah satunya tidak marah-marah, tidak mengeluh, ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan. Apakah ini mudah? Jelas nggak mudah….

  • | |

    TENTANG KEMATIAN

    What is your biggest fear in life? For me, it is DEATH. Topik tentang kematian bagi sebagian orang bukanlah hal yang menyenangkan untuk dibahas. Begitu juga bagi saya. Ia terasa begitu abu-abu, kelam, dan sulit dipahami. Sebagian besar orang mungkin akan menghindar untuk membahasnya—sama seperti saya dulu. Sayangnya, satu-satunya hal yang paling pasti dalam hidup…

  • KEBAIKAN KECIL

    Saat sedang perjalanan ke kantor, saya mendengarkan curhat driver taksi online yang saya tumpangi. Sepanjang perjalanan Pak driver ini bercerita bagaimana pandemi mengubah kehidupan ekonominya hingga harus terpisah dari keluarga utk mencari nafkah. Hidupnya berubah drastis, dari yang sebelumnya memiliki jabatan dan penghasilan yang cukup baik, hingga harus menjadi driver taksi online di kampung orang….

  • KOLESTEROL

    Beberapa waktu lalu saya melakukan MCU secara mandiri. Dari hasil pemeriksaan diketahui kolesterol saya cukup tinggi dan harus mulai menjaga pola makan. Awalnya saya tidak begitu menyadari konsekuensi dari pemeriksaan tersebut. Salah satu makanan yang saya rasa paling signifikan meningkatkan kadar kolesterol saya adalah daging merah. Saya pikir tidak akan terlalu bermasalah jika saya diet…

  • | | |

    Menuju Hidup Bermakna

    Semua orang ingin terlihat di media sosial. Lewat status Facebook, WhatsApp, Instagram, TikTok, dan sebagainya, orang membagikan cerita hidupnya. Ingin dikenali, ingin dilihat keberadaannya. Kecenderungan untuk terlihat ini wajar, karena manusia pada dasarnya ingin mengetahui untuk apa dia ada di dunia ini. Pertanyaan ini menegakkan rasa penting dan eksistensi diri. Dalam psikologi, perasaan invisible –…

  • |

    Tentang Takdir

    Pagi menjelang siang, seorang bapak membawa barang dagangannya berkeliling dengan berjalan kaki utk mendapatkan uang untuk makan. Dagangan berupa keset yang disandang di pundak, dihamparkan bertingkat dan dibawa sekian kilometer untuk mendapatkan pembelinya. Dua kali saya bertemu dengannya, dua kali pula saya terenyuh melihatnya. Kali lain dalam suatu kajian yang diampu suami, salah seorang peserta…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *