| |

CATATAN PERJALANAN DARI TANAH YANG KAYA

oplus_1074

Dulu saya pikir wacana tentang Indonesia yang kaya, kekuasaan para mafia, penjajahan ekonomi, para Godfather yang memerintah negeri ini dari belakang layar hanyalah cerita fiksi setara buku-buku karya GodFather Fuzo, Dan Brown, Agatha Christie dan sejenisnya. Sebagian besar hanya rekaan belaka. Hingga belakangan ini saya menyadari kebenarannya saat berkesempatan mengunjungi berbagai kota di negeri ini dan juga melakukan perjalanan ke luar negeri.

Saya diberi kesempatan oleh Allah SWT mengunjungi daerah tambang. Pertama di Meulaboh, area tambang batu bara. Areanya tidak terlalu besar dan penambangannya tidak masif. Kondisi ekonomi penduduk biasa saja. Tidak ada yang terlalu mencolok, kecuali satu peristiwa saat pulang via Medan, saya mendapati salah satu pekerja dari Cina berinteraksi dengan petugas bandara. Petugas tampak kesulitan membantu karena pekerja ini tidak bisa berbahasa Inggris maupun Indonesia. Saat itu ramai isu tentang pekerja dari Cina, saya tidak tahu apakah ini salah satunya.

Kesempatan kedua datang dua atau tiga tahun lalu ke daerah tambang di Sumatera Selatan. Kunjungan pertama saya hanya di sekitar kantor tanpa memasuki area tambang, jadi saya tidak paham situasinya. Kali kedua saya masuk area tambang yang seluas Kota Depok dengan emas hitam di mana-mana.

Sebelum tiba di area ini, Saya terjebak kemacetan berkilo-kilo meter sehingga tiba di lokasi berjam-jam kemudian, jauh dari perkiraan waktu tiba di maps. Penyebabnya adalah pintu perlintasan kereta yang membawa hasil tambang keluar yang sering buka-tutup, sementara lalu lintas cukup ramai pasca libur panjang. Secara logika, kemacetan tidak mungkin terjadi di daerah kabupaten yang sepi. Namun kemacetan terjadi karena lintasan kereta pengangkut batu bara bolak-balik, dengan beberapa pintu perlintasan sepanjang jalan. Lebih parah dari macet Jakarta, demikian saya berkomentar saat itu.

Kesempatan ketiga awal tahun ini, saat kami mengunjungi Tanah Emas Timika. Pasca training, kami ke kompleks pemukiman salah satu perusahaan tambang terkenal di sana. Mengunjungi tempat ini sudah semacam wisata bagi pendatang pertama kali. Kompleks ini adalah kawasan bawah yang bisa diakses publik. Sebelum tiba, saya melihat pintu masuk kawasan atas tertutup. Hanya orang yang punya akses yang diperkenankan ke sana. Kawasan bawah terlihat mewah dan jomplang dibanding sekitarnya, saya tidak tahu kondisi kawasan atas, di mana emas dan mineral mahal digali.

Yang saya rasakan? Miris. Sedih. Marah tanpa tahu harus dilampiaskan pada siapa. Di daerah dengan sumber daya alam melimpah ini, kehidupan rakyat tidak lebih baik daripada di Bengkulu, kota kecil kelahiran saya di Sumatera, yang konon merupakan salah satu provinsi paling miskin di Sumatera.

Ketidakadilan terpampang nyata. Di Timika, saya melihat penduduk asli mengais rezeki di pinggir jalan raya, dengan latar belakang bukit emas di belakangnya. Kemana hasil bumi mereka selama ini? Kemana kekayaannya? Bahkan murid sekolah asrama yang saya kunjungi harus mengenakan tanda pengenal agar bisa keluar masuk daerah tambang untuk pulang ke rumah mereka. Ya, mereka suku asli yang harus minta izin untuk memasuki tanahnya sendiri.

Saya lalu melihat bencana di Sumatera. Alam menggelontorkan semua isinya sehingga terlihat apa yang ada di belakang sana: perusakan hutan demi kepentingan korporasi besar, penambangan besar-besaran tanpa mengindahkan alam. Siapa yang menanggung akibatnya? Para penduduk asli. Apakah mereka menikmati hasilnya? Mungkin hanya segelintir yang berkongsi dengan penguasa dan cukong negeri ini. Sisanya tenggelam terbawa banjir bandang dengan kerusakan fisik, sosial, dan psikologis yang tidak terkira.

Saya menarik napas dan menyadari tengah dalam kemarahan saat menuliskan ini. Hujan pagi ini mewarnai suasana hati saya yang berduka bukan karena bencananya, tetapi karena ketidakadilan telanjang di depan mata dan kita tidak bisa apa-apa. Miris sekali rasanya.

Sudah tiga pekan, kabar tentang penyintas yang menyabung nyawa masih terlintas di beranda. Bagi saya, bencana ini adalah pesan bagi kita semua untuk bersuara sekecil apapun atas ketidakadilan yang terang-terangan. Melawan rasa tidak berdaya (learned helplessness) yang berakhir dengan apatis terhadap apapun yang terjadi di negeri ini.

Hidup kita mungkin baik-baik saja, tetapi bukan berarti kita tidak peduli. Suatu hari mungkin saja itu akan terjadi pada kita, jika kita tetap tidak peduli dengan bagaimana negeri yang kaya ini dikelola.

Similar Posts

  • | | |

    INDONESIA KAYA

    ‘Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.’ Isi pasal 33 ayat 3 ini yang terlintas berulang dalam benak saya saat berkunjung ke tempat ini. Selain rasa excited karena eksplorasi tempat baru, namun juga terbersit rasa sedih mengingat besarnya kekayaan alam yang tak berbanding…

  • Doa di Tengah Kekacauan Negeri

    Hari-hari belakangan ini bukanlah hari-hari yang menyenangkan bagi saya—dan juga, saya yakin, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Berita tentang demonstrasi besar-besaran, terbunuhnya Affan Kurniawan, penjarahan, perusakan fasilitas umum, hingga penyusupan provokator, membuat hati campur aduk: marah, sedih, kesal, khawatir. Beberapa hari lalu, saya menerima pesan dari seseorang yang meminta bantuan karena usahanya bangkrut dan tidak…

  • | | |

    RASANYA BARU KEMARIN

    Sudah di penghujung 2025 saja. Rasanya baru kemarin saya menuliskan selamat jalan pada tahun 2024. Hanya sekejap mata berputarnya. Perasaan “rasanya baru kemarin” ini menampar saya kembali. Sudah berapa kali saya mengucapkannya saat pergantian tahun? Puluhan, mungkin ratusan kali, bahkan ribuan kali ketika memori masa lalu melintasi ingatan saya. Rasanya baru kemarin. Apa yang terjadi…

  • | | |

    INSPIRASI

    (CATATAN 18 NOVEMBER 2022) Kemarin hari yang sangat mengesankan bagi saya. Allah menghadirkan sebuah pelajaran langsung, bagaimana individu berkebutuhan khusus dapat berdaya maksimal, jika diberi kesempatan, di hari terakhir training yang saya ikuti. Minggu ini sebenarnya merupakan minggu yang agak melelahkan. Setelah perjalanan panjang keluar kota, jadwal training padat dari Senin hingga Kamis. Puncaknya di…

  • Perhatikan Apa yang Kamu Makan

    Kata-kata ini sering terngiang belakangan di benak saya, pasca percakapan dengan seorang sahabat. Sahabat ini bercerita tentang bagaimana sebuah program pengembangan diri untuk para leader di salah satu perusahaan besar, melibatkan intervensi makanan juga di dalamnya. Para leader yang mengikuti program ini diminta untuk membuat semacam food diary yang harus diisi secara teratur. Dari food…

  • HOPE

    Ada fase-fase terendah dalam hidup yang membuat saya terkadang takjub, karena berhasil melewatinya. Fase terendah ini kemudian saya lihat kembali saat saya terpuruk dalam episode yang berbeda. Kemudian saya tahu bahwa fase ini telah menciptakan suatu hal yang besar, dalam menjalani pasang surut kehidupan. Hal itu adalah HOPE (Harapan). Harapan menciptakan keyakinan bahwa hal sulit…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *