CATATAN PERJALANAN DARI TANAH YANG KAYA

Dulu saya pikir wacana tentang Indonesia yang kaya, kekuasaan para mafia, penjajahan ekonomi, para Godfather yang memerintah negeri ini dari belakang layar hanyalah cerita fiksi setara buku-buku karya GodFather Fuzo, Dan Brown, Agatha Christie dan sejenisnya. Sebagian besar hanya rekaan belaka. Hingga belakangan ini saya menyadari kebenarannya saat berkesempatan mengunjungi berbagai kota di negeri ini dan juga melakukan perjalanan ke luar negeri.
Saya diberi kesempatan oleh Allah SWT mengunjungi daerah tambang. Pertama di Meulaboh, area tambang batu bara. Areanya tidak terlalu besar dan penambangannya tidak masif. Kondisi ekonomi penduduk biasa saja. Tidak ada yang terlalu mencolok, kecuali satu peristiwa saat pulang via Medan, saya mendapati salah satu pekerja dari Cina berinteraksi dengan petugas bandara. Petugas tampak kesulitan membantu karena pekerja ini tidak bisa berbahasa Inggris maupun Indonesia. Saat itu ramai isu tentang pekerja dari Cina, saya tidak tahu apakah ini salah satunya.
Kesempatan kedua datang dua atau tiga tahun lalu ke daerah tambang di Sumatera Selatan. Kunjungan pertama saya hanya di sekitar kantor tanpa memasuki area tambang, jadi saya tidak paham situasinya. Kali kedua saya masuk area tambang yang seluas Kota Depok dengan emas hitam di mana-mana.
Sebelum tiba di area ini, Saya terjebak kemacetan berkilo-kilo meter sehingga tiba di lokasi berjam-jam kemudian, jauh dari perkiraan waktu tiba di maps. Penyebabnya adalah pintu perlintasan kereta yang membawa hasil tambang keluar yang sering buka-tutup, sementara lalu lintas cukup ramai pasca libur panjang. Secara logika, kemacetan tidak mungkin terjadi di daerah kabupaten yang sepi. Namun kemacetan terjadi karena lintasan kereta pengangkut batu bara bolak-balik, dengan beberapa pintu perlintasan sepanjang jalan. Lebih parah dari macet Jakarta, demikian saya berkomentar saat itu.
Kesempatan ketiga awal tahun ini, saat kami mengunjungi Tanah Emas Timika. Pasca training, kami ke kompleks pemukiman salah satu perusahaan tambang terkenal di sana. Mengunjungi tempat ini sudah semacam wisata bagi pendatang pertama kali. Kompleks ini adalah kawasan bawah yang bisa diakses publik. Sebelum tiba, saya melihat pintu masuk kawasan atas tertutup. Hanya orang yang punya akses yang diperkenankan ke sana. Kawasan bawah terlihat mewah dan jomplang dibanding sekitarnya, saya tidak tahu kondisi kawasan atas, di mana emas dan mineral mahal digali.
Yang saya rasakan? Miris. Sedih. Marah tanpa tahu harus dilampiaskan pada siapa. Di daerah dengan sumber daya alam melimpah ini, kehidupan rakyat tidak lebih baik daripada di Bengkulu, kota kecil kelahiran saya di Sumatera, yang konon merupakan salah satu provinsi paling miskin di Sumatera.
Ketidakadilan terpampang nyata. Di Timika, saya melihat penduduk asli mengais rezeki di pinggir jalan raya, dengan latar belakang bukit emas di belakangnya. Kemana hasil bumi mereka selama ini? Kemana kekayaannya? Bahkan murid sekolah asrama yang saya kunjungi harus mengenakan tanda pengenal agar bisa keluar masuk daerah tambang untuk pulang ke rumah mereka. Ya, mereka suku asli yang harus minta izin untuk memasuki tanahnya sendiri.
Saya lalu melihat bencana di Sumatera. Alam menggelontorkan semua isinya sehingga terlihat apa yang ada di belakang sana: perusakan hutan demi kepentingan korporasi besar, penambangan besar-besaran tanpa mengindahkan alam. Siapa yang menanggung akibatnya? Para penduduk asli. Apakah mereka menikmati hasilnya? Mungkin hanya segelintir yang berkongsi dengan penguasa dan cukong negeri ini. Sisanya tenggelam terbawa banjir bandang dengan kerusakan fisik, sosial, dan psikologis yang tidak terkira.
Saya menarik napas dan menyadari tengah dalam kemarahan saat menuliskan ini. Hujan pagi ini mewarnai suasana hati saya yang berduka bukan karena bencananya, tetapi karena ketidakadilan telanjang di depan mata dan kita tidak bisa apa-apa. Miris sekali rasanya.
Sudah tiga pekan, kabar tentang penyintas yang menyabung nyawa masih terlintas di beranda. Bagi saya, bencana ini adalah pesan bagi kita semua untuk bersuara sekecil apapun atas ketidakadilan yang terang-terangan. Melawan rasa tidak berdaya (learned helplessness) yang berakhir dengan apatis terhadap apapun yang terjadi di negeri ini.
Hidup kita mungkin baik-baik saja, tetapi bukan berarti kita tidak peduli. Suatu hari mungkin saja itu akan terjadi pada kita, jika kita tetap tidak peduli dengan bagaimana negeri yang kaya ini dikelola.
