RUTINITAS

Sabtu adalah jadwal rutin saya mencuci pakaian yang tidak diserahkan ke laundry, dan membersihkan tempat tinggal. Setiap Sabtu saya biasanya turun ke layanan self laundry di lantai bawah, setelah cleaning day dengan anak-anak. Hal ini biasanya berlangsung hampir tiap minggu sehingga terasa berjalan seperti otomatis. Setelah ini, melakukan ini, lalu melakukan itu.

Minggu lalu, saat tengah memasukkan cucian ke dalam mesin cuci, tiba-tiba saya tersadar, betapa mudahnya kita terjebak dalam rutinitas. Bekerja dari Senin hingga Jumat, cleaning day di hari Sabtu, lalu menikmati hari libur sepenuhnya di hari Minggu. Kadang kala diselingi dengan acara-acara tertentu di antaranya. Begitu terus berulang, dari Senin ketemu Jumat, menunggu Minggu, lalu bertemu dengan Senin lagi. Repeat.

Lalu waktu berjalan begitu saja tanpa dipahami, untuk apa sebenarnya keberadaan di dunia ini. Sesekali ketika diterpa badai, kita merenung, diam sebentar, setelahnya kerap kali terjebak dalam hal yang sama, melupakan pertanyaan yang sempat muncul ke permukaan.

Untuk apa sebenarnya keberadaan kita di dunia ini? Apakah sesederhana bekerja, beranak pinak, mencapai ini itu, lalu mati? Ya bolehlah sesekali diselingi dengan aktivitas sosial atau berkarya di masyarakat yang mengundang decak kagum. Tapi apakah sesimple itu saja? Seragam untuk semua orang? Rasanya terlalu umum dan general sekali.

Siapa kita, untuk apa kita berada di dunia? Sebuah pertanyaan besar yang nyalanya semoga tetap terjaga hingga kita mati. Semoga kita temukan jawabannya, sebelum kita pergi dari dunia ini. Semoga Dia berkenan memperkenalkan diri kita kembali, pada diri kita sendiri. Suatu hari nanti.

Similar Posts

  • Tentang Ujian

    Momen dimana saya paham tentang kelemahan fisik saya adalah saat saya berlatih yoga. Ada gerakan-gerakan tertentu yang mengandalkan kekuatan otot lengan atas, dan saya kesulitan melakukannya. Saya sadari latihan ini memberikan ‘insight’ tentang salah satu hal utama yang harus saya perbaiki, jika ingin kondisi fisik saya menjadi lebih baik lagi. Hal yang sama sepertinya berlaku…

  • | |

    Ayatollah Ali Khamenei: Sebuah Catatan Tentang Prasangka

    Sekelompok anak-anak perempuan bernyanyi dengan lantang. Suaranya merdu, bening, dan terdengar sangat bersemangat. Mereka berkumpul hari itu dalam perayaan awal akil baligh mereka. Masa yang penting bagi seorang anak dalam Islam, karena ini menandai awal mereka berkewajiban menjalankan syariat agama. Anak-anak perempuan ini, sebagaimana umumnya anak-anak, terlihat ceria, cantik, dan polos. Sosok berjubah lebar dan…

  • | | |

    IDE MAIN

    Masih inget gak mainan spt ini jaman dulu? Bisa lho diterapkan di rumah pengisi waktu luang anak. Cara mainnya mudah, dua org pemain secara bergiliran berusaha mengeluarkan koin pemain lawan dari garis batas. Apa yg diajarkan dr permainan ini? Keterampilan motorik halus (menyentil, mengatur kekuatan sentilan 😊), keterampilan sosial (bergiliran, bersikap sportif jika kalah), dan…

  • |

    SKINCARE

    Kalau orang bertanya, ‘kok muka Mbak Putri tetap kelihatan bersih (minim flek) meskipun usia sudah pertengahan 40?’, saya agak bingung jawabnya. Bisa jadi karena olahraga, bisa jadi karena rutin merawat dan membersihkan muka. Merawat wajah di sini bukan dalam arti rutin ke salon untuk facial dan teman-temannya. Namun lebih kepada perawatan standar saja. Perawatan standar…

  • HOPE

    Ada fase-fase terendah dalam hidup yang membuat saya terkadang takjub, karena berhasil melewatinya. Fase terendah ini kemudian saya lihat kembali saat saya terpuruk dalam episode yang berbeda. Kemudian saya tahu bahwa fase ini telah menciptakan suatu hal yang besar, dalam menjalani pasang surut kehidupan. Hal itu adalah HOPE (Harapan). Harapan menciptakan keyakinan bahwa hal sulit…

  • PILIHAN HIDUP

    Hidup itu adalah rangkaian konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Dulu saya sangat percaya dengan kalimat ini. Tapi sekarang, saya menyakini, bagi orang beriman pilihan hidupnya bukan dia yang menentukan. Ada Allah sebaik-baik pembuat pilihan. Berserah diri pada hakikatnya menyerahkan pilihan ini padaNya. Melalui doa, istikharah, munajat panjang, pengambilan keputusan tidak lagi berdasarkan akal semata….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *