Refleksi Awal Tahun: Kemana Hidup Dibawa Tahun Ini?

Apa resolusimu tahun ini? Pertanyaan ini terdengar familiar ya di setiap pergantian tahun. Apa targetmu tahun ini? Impianmu? Dan pertanyaan sejenis lainnya.

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah video singkat dari seorang influencer yang juga seorang dokter. Beliau kurang setuju dengan istilah resolusi awal tahun, dan lebih menyarankan menetapkan prinsip atau panduan dalam menjalani tahun. Semacam GBHN di masa Orde Baru dulu. Bukan target detail, namun kerangka besar tentang apa yang ingin diubah. Menurut saya, pendapat ini cukup unik dan tidak salah juga.

Pada dasarnya manusia ingin membuat arahan untuk menjalani kehidupan. Tonggaknya dimulai setiap awal dan akhir tahun, untuk melihat sejauh mana mereka berkembang atau – kalau buat saya pribadi – kemana saya sebenarnya pergi sepanjang tahun ini.

Sebagai muslim, setelah sekian tahun mempelajari tasawuf, hal yang menarik bagi saya adalah prinsip hidup hari ini. Hidup dari hari ke hari. Setiap bangun diawali dengan doa dan niat, setiap tidur juga demikian. Bahkan salah satu kakak seperjalanan mengatakan, hidup kita hanya dari sholat ke sholat. Salah satu ucapan yang mempengaruhi dan menancap kuat di ingatan saya.

Dengan prinsip ini, seharusnya hidup selalu direstart setiap waktu sholat dan setiap bangun pagi. Ibarat mengisi bensin, seharusnya hidup dimulai dari nol lagi. Namun iman kadang naik turun. Ada waktu ibadah terasa mudah, ada juga terasa payah. Mulai dari nol lima kali sehari itu terasa sulit. Demikian juga prinsip hidup mulai dari nol setiap hari. Kadang sisa kejengkelan kemarin masih ada, atau badan masih terseok dalam kemalasan yang sama. Sehingga menjadi nol setiap hari, meskipun bisa diupayakan, tetap butuh usaha besar.

Jadi bagaimana seharusnya? Berdasarkan kenyataan ini, dan agar lebih mudah melakukan monitoring dan evaluasi diri, saya tetap menetapkan target setiap tahun. Target yang mirip GBHN seperti disampaikan dokter influencer tadi.

Dulu, saya selalu memulai dengan pertanyaan: apa yang ingin saya capai? Sesuatu yang tampak, bersifat material, dan mengejar ke luar: mengunjungi negeri tertentu, punya tabungan pensiun sekian, atau mendapatkan sertifikasi untuk pengembangan karir. Tidak salah, dan menurut saya orang yang merencanakan hidupnya lebih baik daripada yang tanpa tujuan. Namun sekarang, target hidup bagi saya harus lebih dari itu. Ia harus menyentuh aspek batin dan membuat saya bertumbuh, tidak hanya ke luar tapi juga ke dalam. Hal ini tidak mungkin tanpa perenungan, evaluasi, dan perjalanan batin.

Saat ini pertanyaannya lebih kepada: apa yang ingin saya perbaiki dari diri saya tahun ini? Apa yang sudah Dia hadirkan sepanjang tahun? Apa yang saya pahami dari perjalanan hidup? Mengapa ceritanya seperti ini tahun ini? Apa yang berhasil, apa yang gagal? Bagaimana hubungan saya dengan orang-orang terdekat? Apakah saya sudah menjalankan kewajiban sebagai orang tua, anak, pekerja, dan insan dengan baik? Bagaimana tanggung jawab saya kepada Tuhan atas hidup yang diamanahkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu saya melakukan refleksi sepanjang tahun, yang memuncak menjelang awal tahun.

Jawaban dari pertanyaan ini menuntun saya menetapkan target hidup. Alih-alih misalnya menabung sebanyak mungkin agar bisa menyekolahkan anak ke sekolah favorit, mungkin yang lebih utama adalah memperbaiki komunikasi dengannya dan menyediakan lebih banyak waktu untuk mendengarkan ceritanya. Alih-alih menetapkan target untuknya, mungkin membantu dia menjalani kesulitannya adalah hal yang lebih penting.

Hal serupa saya tanyakan juga untuk peran saya sebagai istri, anak, pekerja, anggota komunitas, dan terutama sebagai Hamba Tuhan. Sudah sejauh mana saya berjalan? Hamba seperti apakah saya di mata-Nya? Bagaimana kualitas hubungan saya dengan-Nya? Bagaimana kondisi batin saya sepanjang tahun ini? Mengapa Dia menghadirkan sekian peristiwa di tahun terakhir ini? Apakah saya mulai memahami-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahan dialog dan pengharapan saya kepada-Nya. Penyingkapan dimensi dalam, yang jauh lebih sulit dibanding apa yang tampak di luar.

Menjadi manusia bagi saya adalah anugerah tertinggi dari-Nya. Namun menjalaninya tidak mudah. Manusia yang utuh, yang sempurna sesuai tujuan penciptaan-Nya, ternyata hanya sedikit. Sebagian besar tertidur, menjalani hidup dalam rutinitas atau mengejar ilusi dunia. Saya pun demikian. Namun dengan kesadaran yang pelan-pelan hadir, saya berharap dapat menjalani hidup yang lebih bertanggung jawab dan sesuai kehendak-Nya. Dan saya memulainya dengan melakukan refleksi di awal tahun ini.

Bagaimana denganmu? Apa resolusi, target, acuan atau apapun yang hendak kamu raih dan perbaiki tahun ini? Apapun itu, semoga dia membuat hidup kita menjadi lebih bermakna dan dekat dengan-Nya.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Untuk menemanimu menjalani tahun ini, kamu dapat mengunduh jurnal reflektif yang ada di blog ini.
https://www.putrizainur.com/reflective-journaling-2026/

Similar Posts

  • TOILET

    ‘Toilet dimana ya?’, pertanyaan ini sering kami ajukan saat menginjakkan kaki ke sebuah gedung, baik perkantoran atau hotel, tempat training diadakan. Persoalan toilet adalah persoalan mendasar. Ruang belakang privat ini memang kebutuhan dasar manusia. Selain untuk menuntaskan hajat, ruang ini di beberapa gedung juga menjadi tempat menyiapkan diri, kabur sejenak dari tempat kerja, bahkan me-release…

  • | | | |

    ADOPSI

    Salah satu sahabat saya mengadopsi anak beberapa bulan yang lalu. Anak kecil yang lucu, yang tidak diketahui siapa orang tuanya dan selama ini tinggal di salah satu panti di Jakarta. Saat dibawa pulang, anak ini terindikasi stunting dan kurang optimal perkembangannya. Namun beberapa bulan bersama, anak ini tumbuh ceria, sehat dan mengejar berbagai ketertinggalannya. Beberapa…

  • 5000 PELAMAR

    Saya ingin melanjutkan cerita tentang proses rekrutmen di kantor saya tempo hari. Jumlah pelamar yang mendaftar tercatat lebih dari 5000, terakhir kali kami memprosesnya. Dari sekian banyak ini, hanya satu orang yang akan mengisi posisi yang ditawarkan. Luar biasa kompetisinya. Bagaimana kami memproses sekian ribu lamaran ini agar tidak menyulitkan dan memakan waktu yang panjang….

  • | | |

    TANGGUNG JAWAB

    Beberapa hari ini kami dibingungkan oleh pakaian-pakaian kami yang dihilangkan oleh pihak laundry. Saya memang menggunakan jasa laundry kilo untuk meringankan pekerjaan domestik sehari-hari. Minggu lalu, ketika saya menghitung jumlah pakaian yang dikembalikan, saya agak kaget karena selisihnya hingga 10 potong pakaian. Saya juga tidak tahu persis apa saja, karena masih harus mengecek satu persatu…

  • | | |

    INSPIRASI

    (CATATAN 18 NOVEMBER 2022) Kemarin hari yang sangat mengesankan bagi saya. Allah menghadirkan sebuah pelajaran langsung, bagaimana individu berkebutuhan khusus dapat berdaya maksimal, jika diberi kesempatan, di hari terakhir training yang saya ikuti. Minggu ini sebenarnya merupakan minggu yang agak melelahkan. Setelah perjalanan panjang keluar kota, jadwal training padat dari Senin hingga Kamis. Puncaknya di…

  • | | | |

    SENDIRI

    Sejak anak-anak tumbuh besar dan mulai ada aktivitas sendiri, waktu untuk diri sendiri saya menjadi lebih banyak. Anak pertama yang merantau dan relatif mandiri sekarang terpisah negara. Anak kedua yg menginjak usia remaja, mulai senang beraktivitas dengan teman-temannya. Sesekali dia ijin menginap di rumah teman, atau sebaliknya teman menginap di rumah kami. Suami juga tidak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *