| | | |

RAMADHAN DAN KESADARAN DIRI

Ramadhan hari ke-4, apa yang sudah kamu pelajari sejauh ini?

Saat tarawih tadi malam, satu pertanyaan singgah di kepala saya: “Seberapa jauh pengetahuanmu tentang dirimu dibanding pengetahuanmu tentang hal lain?” Pertanyaan ini muncul seiring himbauan dari Mursyid kami untuk banyak bertafakur merenungi diri di bulan Ramadhan ini.

Seberapa jauh saya mengenal diri saya sendiri? Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah self-awareness. Orang-orang dengan emotional intelligence yang baik biasanya memiliki self-awareness yang baik pula. Mereka paham kekuatan dan kelemahan dirinya, tahu apa yang men-trigger emosinya, dan mampu menetapkan batas-batas yang sehat. Self-awareness adalah salah satu kunci dalam pertumbuhan dan regulasi diri yang baik.

Pengetahuan tentang ‘diri’ bagi saya kini berkembang lebih dari sekadar diri fisik dan psikologis. Beberapa waktu lalu, seorang teman memposting catatan tentang otak manusia dengan komposisinya yang menakjubkan. Intinya, manusia adalah micro cosmos, cerminan dari semesta sebagai macro cosmos. Kita memuat jagat raya dan seisinya dalam diri kita, meski secara fisik terlihat sangat terbatas, kecil, dan rapuh.

Di sinilah konsep self-awareness yang saya pahami mengalami peregangan. Jika diri ini adalah micro cosmos, rasanya saat ini mungkin tidak ada seujung kuku pun pengetahuan tentang siapa saya yang saya kenali. Persis seperti kata seorang filsuf: engkau mempelajari banyak hal, namun engkau tidak memahami tentang dirimu sendiri. Sebuah ironi yang menampar hati.

Pengetahuan tentang self-awareness ini menjadi semakin relevan sepanjang perjalanan Ramadhan. Salah satu yang menggugah adalah kenyataan bahwa setan selama bulan suci ini tidak beroperasi sebagaimana biasanya. Kekuatannya dilemahkan dalam menggoda manusia. Maka ketika kita masih melakukan dosa atau kelalaian, bisa jadi itu adalah cerminan siapa kita sebenarnya di dalam sana. Kita, yang dilengkapi hawa nafsu untuk menjalani kehidupan di dunia ini, bisa saja menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan tanpa kita sadari.

Jika tarikan-Nya tak juga terasa kuat, mungkin memang selemah itu iman kita saat ini. Jika masih mudah terpancing oleh situasi tidak menyenangkan, mungkin memang itu yang harus kita istighfari. Jika masih sering lalai dan memprioritaskan kesenangan dunia, mungkin memang itu kondisi hati kita hari ini. Ramadhan menyingkapkan itu semua, membantu menambah kesadaran diri.

Dalam konteks ini, Ramadhan bagi saya bukan sekadar mengejar tadarus sekian juz, tarawih sekian raka’at, atau ibadah sunnah yang berlipat-lipat dengan kesadaran yang minim. Semua ibadah ini adalah sarana untuk lebih sering ber-audiensi dengan-Nya, setelah hampir setahun terseret kehidupan dunia. Memulai kesadaran baru tentang diri kita, sehingga semoga di akhirnya kita dianugerahi gelar taqwa.

Semoga Ramadhan kita tidak berlalu dengan sia-sia.

Similar Posts

  • ABAI

    Dalam perjalanan ke kantor saya menyaksikan sejumlah orang yang ‘nekat’ menyebrang jalan di jalur yang tidak seharusnya. Di jalur ini kendaraan cenderung melaju cepat, sementara tersedia JPO di sekitar sana. Mereka mengambil risiko mengabaikan keselamatan pribadi, untuk cepat sampai ke tujuan. Berjalan ke JPO mungkin terasa lebih melelahkan, lebih butuh upaya meskipun lebih aman dibandingkan…

  • | | | |

    Membaca Sungai Kehidupan

    Apa yang terpikirkan saat melihat sebuah sungai? Aliran air yang bergerak dari hulu menuju hilir, dari satu titik mata air menuju titik pertemuan, lalu bersatu di lautan. Bicara tentang sungai dan alirannya, saya selalu ingat aktivitas Sungai Kehidupan yang beberapa kali saya ikuti saat masih kuliah maupun saat bekerja. Berawal dari tugas menjadi relawan, kami…

  • | | | |

    ADOPSI

    Salah satu sahabat saya mengadopsi anak beberapa bulan yang lalu. Anak kecil yang lucu, yang tidak diketahui siapa orang tuanya dan selama ini tinggal di salah satu panti di Jakarta. Saat dibawa pulang, anak ini terindikasi stunting dan kurang optimal perkembangannya. Namun beberapa bulan bersama, anak ini tumbuh ceria, sehat dan mengejar berbagai ketertinggalannya. Beberapa…

  • | |

    TERTUNTUN

    Pernahkah memohon padaNya utk memilihkan apa yang terbaik untukmu? Seringkali hati sedemikian gelapnya, sehingga tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Bahkan mungkin seringkali lupa memohon petunjukNya dulu, dalam hal apapun. Seorang mukmin, org yang bertaqwa, hidupnya sangatlah tertuntun. Apa yg dilakukannya, selalu dalam koridor petunjuk Allah Ta’ala. Bahkan utk keputusan sekecil apapun, mau kemana…

  • | | |

    Waktu

    Belakangan saya sedang membaca buku bagaimana menghabiskan 24 jam dalam sehari. Intinya bagaimana menjadi orang yang berbeda dengan tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia. Ada hal yang menarik dari saran yang diberikan penulis yang notabene bukan seorang muslim, yang membuat saya berpikir tentang ke-muslim-an saya dengan segala kewajiban syariatnya. Yang pertama adalah untuk bangun lebih awal,…

  • | | |

    TENTANG WAKTU

    Saya dulu sangat mengagumi orang-orang yang produktif, aktif, sibuk dan banyak karya. Untuk saya mereka-mereka ini contoh orang-orang yang berhasil dalam mengelola hidupnya. Tidak banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu. Sibuk dengan kekaryaan dirinya, alih-alih mengurusi hal lain yang terkesan remeh temeh. Sampai kemudian saya menyadari ada suatu hal yang lebih penting dalam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *