MAHA PENGAMPUN

Dalam ilmu psikologi saya belajar bagaimana mengelola emosi dengan baik. Mulai dari meredam gejala dengan ‘inhale-exhale’, mengubah posisi tubuh saat emosi negatif muncul, hingga mengambil wudhu, mengambil waktu jeda, agar tidak meledak tanpa kendali.

Saya juga belajar mengelola emosi dari menerima emosi tersebut, mengakuinya, mencari penyebabnya, hingga mencoba menguasai skill-skill yang dibutuhkan, -seperti komunikasi assertif, problem solving, dan lain-lain- untuk membuat masalah yang sama tidak terulang lagi.

Saya juga belajar terapi memaafkan, yang saya tujukan untuk diri sendiri. Dengan teknik psikodrama, menulis surat dan lain sebagainya, untuk membantu perasaan marah, terluka, kecewa, sedih yang saya rasakan bertahun-tahun. Semuanya saya coba praktikkan, agar luka batin bisa sembuh dan pergi. Saya bisa melanjutkan hidup kembali.

Secara ajaib, semua itu hilang bukan karena usaha yang saya lakukan. Di suatu hari yang baik, saya merasa saya benar-benar bisa mengampunkan, memaafkan, menerima, bahkan menyayangi orang-orang yang pernah terlibat dalam kemelut hidup saya. Hati rasanya dibikin lapang saja, damai saja, sehingga kemudian benar-benar bisa melanjutkan hidup tanpa kemarahan dan dendam.

Saya kemudian tersadar, diri saya ini bukan milik saya sepenuhnya. Tidak di bawah kendali saya sepenuhnya. Sifat Pemaaf dan Pengampun itu adalah milikNya, dan Dia sedang berkenan memberikannya pada saya. Setitik, secuil, baru pada masalah ini saja, dan itu rasanya luar biasa.

Sifat Maha Pengampun ini adalah sifatNya. Kepada siapa Dia akan memberikan, itu adalah hak prerogatif-Nya. Meskipun Dia pasti akan adil melihat usaha dan doa kita.

Boleh saja kita belajar segala teknik mengelola rasa, tapi menggantungkan hasilnya hanya pada ini, maka kita akan terperangkap dalam kondisi ‘reda tapi tak reda’. Kita bisa tampak terkendali, tapi di dalam bergemuruh. Kita bisa oke di hari ini, tapi tak oke di hari lain. Semuanya masih kita simpan di ruang shadr kita. Sebuah ruang antara jiwa dan raga, tempat kita menimbun semua beban emosi. Timbunan ini bisa jadi mengendalikan persepsi kita di masa depan, membelokkan arah pikiran dan perilaku ke tempat yang tidak tepat.

Minta tolong padaNya untuk mencabutnya hingga ke jiwa. Untuk membersihkannya hingga ke akar, sehingga luka-lukanya bisa hilang tanpa sisa. Permanen, tanpa kita duga. Saya pernah merasakannya dan masih belajar memintanya untuk hal lain.

Setiap luka dan kesedihan adalah jalan kembali. Setiap rasa hadir untuk kita mohonkan pertolonganNya. Semoga kita bisa berhenti mengandalkan diri sendiri dalam mengelola emosi diri dan situasi.

– Jakarta, 12 Feb 2023-

Similar Posts

  • |

    MEMBACA DIRI

    Mengenali kembali ke-Minang-an saya dan mengakuinya, adalah salah satu bentuk pengenalan dan pembacaan kitab diri yang saya lakukan belakangan ini. Saat usia lebih muda, saya sempat tidak ingin terlahir sebagai orang Minang. Dengan segala stereotype negatifnya, ditambah lagi saya lahir dan besar di kota lain, saya cenderung merasa jauh dari ranah Minang ini, dibandingkan kota…

  • | | | |

    Phobia Nanas

    Phobia adalah ketakutan yang berlebihan atau tidak beralasan terhadap sesuatu, sehingga menimbulkan respon yang menurut orang lain juga mungkin tidak biasa. Pada saya phobia terhadap nanas ini baru saya sadari bertahun-tahun kemudian. Lha kok nanas? Sebagian besar orang tertawa atau mengernyitkan dahi saat tahu bahwa saya sangat tidak suka nanas. Saat kecil, mencium bau nanas…

  • | | | |

    RAMADHAN DAN KESADARAN DIRI

    Ramadhan hari ke-4, apa yang sudah kamu pelajari sejauh ini? Saat tarawih tadi malam, satu pertanyaan singgah di kepala saya: “Seberapa jauh pengetahuanmu tentang dirimu dibanding pengetahuanmu tentang hal lain?” Pertanyaan ini muncul seiring himbauan dari Mursyid kami untuk banyak bertafakur merenungi diri di bulan Ramadhan ini. Seberapa jauh saya mengenal diri saya sendiri? Dalam…

  • | | | |

    Membaca Sungai Kehidupan

    Apa yang terpikirkan saat melihat sebuah sungai? Aliran air yang bergerak dari hulu menuju hilir, dari satu titik mata air menuju titik pertemuan, lalu bersatu di lautan. Bicara tentang sungai dan alirannya, saya selalu ingat aktivitas Sungai Kehidupan yang beberapa kali saya ikuti saat masih kuliah maupun saat bekerja. Berawal dari tugas menjadi relawan, kami…

  • | | |

    BAHAGIA YANG BERMAKNA

    Beberapa hari lalu saya membaca sebuah utas menarik tentang kebahagiaan. Dalam utas itu disebutkan bahwa kebahagiaan, menurut teori, tidak tergantung pada kekayaan, status, jabatan, atau orang-orang di luar diri kita. Yang menarik, banyak komentar yang menyebut bahwa kebahagiaan justru muncul dalam suasana tenang, hening, dan sendiri—misalnya saat jalan pagi dengan binatang kesayangan, yoga, meditasi, membaca…

  • | |

    KOMUNIKASI ASERTIF

    Beberapa pekan yang lalu saya sempat melakukan sesi Q&A terkait komunikasi asertif dalam berbagai konteks. Sesi Q&A ini merupakan lanjutan dari sesi sharing tentang komunikasi asertif yang diadakan oleh Komunitas Kabima sebelumnya. Sharing ini membahas tentang pengertian komunikasi asertif, teknik komunikasi asertif dan manfaat komunikasi asertif secara umum. Sesi sharing ini dihadiri lebih dari 300…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *