| | |

RASANYA BARU KEMARIN

Sudah di penghujung 2025 saja. Rasanya baru kemarin saya menuliskan selamat jalan pada tahun 2024. Hanya sekejap mata berputarnya.

Perasaan “rasanya baru kemarin” ini menampar saya kembali. Sudah berapa kali saya mengucapkannya saat pergantian tahun? Puluhan, mungkin ratusan kali, bahkan ribuan kali ketika memori masa lalu melintasi ingatan saya.

Rasanya baru kemarin.

Apa yang terjadi di antara ucapan “rasanya baru kemarin” itu? Apakah hanya keterkejutan saat usia bertambah, rambut memutih, dan badan mulai meringkih? Apa yang sebenarnya saya dapat dari rasa terkejut yang selalu datang ketika kalimat itu melintas?

2025 bukan tahun yang mudah bagi saya. Hampir setengah perjalanannya diisi dengan bolak-balik ke rumah sakit, bertemu dokter, dan menjalani terapi untuk saraf terjepit di leher. Saya kembali merasakan dinginnya meja operasi, dengan proses penyembuhan yang cukup panjang. Saat melihat kembali jurnal saya, saya tahu ada banyak rencana yang tidak terlaksana. Namun Tuhan mengajarkan hal yang jauh lebih berharga dibanding rencana saya sebagai manusia.

Akhir 2025, timeline kita semua dipenuhi berita memilukan tentang bencana di Sumatera, tanah kelahiran saya. Jangan ditanya betapa emosionalnya saya, karena hampir separuh hidup saya besar di tanah itu. Hati saya dekat dengannya, dan di nadi saya mengalir darah nenek moyang dari daerah yang kini sedang dihantam bencana. Kesedihan dan kemarahan bercampur, terlebih mengetahui penyebab bencana besar ini adalah keserakahan manusia.

Akhir tahun yang sama juga menghantam saya dengan berita lain, sesuatu yang saya harap menjadi jalan menuju kisah indah dari Tuhan, jalan menuju-Nya. Singkat cerita, sebagai manusia, tahun ini bukan tahun yang mudah.

Rasanya baru kemarin.

Apakah kalimat ini akan saya ucapkan lagi tahun depan dengan nada yang sama?

Waktu tampaknya bukan hanya mengajarkan tentang kenangan, tapi juga tentang makna. Apa makna waktu yang berlalu bagi kita? Apa yang kita dapat dari peristiwa yang terlewati, kesenangan yang dimiliki, kesulitan yang menghantam? Bagaimana ia mewarnai hidup kita, dan apa warnanya? Terangkah, gelapkah, lapangkah, sempitkah hati kita?

Rasanya baru kemarin.

Apa arti kalimat itu bagi jiwa dan keberadaan kita sebagai manusia? Karena waktu terus berlalu, tidak menunggu. Apakah kita tergilas oleh perginya, atau justru bertumbuh sebagai manusia – makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna – bersama waktu?

Cuma Allah dan hati kita yang tahu.

Similar Posts

  • | |

    BANDUNG

    Bandung buat saya istimewa. Dia adalah penanda titik titik perjalanan. Dua puluh tujuh tahun yang lalu, saya mengunjunginya pertama kali. Bersama beberapa orang sahabat putih abu-abu, menempuh lebih dari 24 jam perjalanan dari Bengkulu. Selepas ujian akhir nasional, sebelum kemudian memulai cerita hidup di Ibukota sekitarnya. Belajar hidup mandiri, terpisah jauh dari orang tua, sebulan…

  • | | |

    BAHAGIA YANG BERMAKNA

    Beberapa hari lalu saya membaca sebuah utas menarik tentang kebahagiaan. Dalam utas itu disebutkan bahwa kebahagiaan, menurut teori, tidak tergantung pada kekayaan, status, jabatan, atau orang-orang di luar diri kita. Yang menarik, banyak komentar yang menyebut bahwa kebahagiaan justru muncul dalam suasana tenang, hening, dan sendiri—misalnya saat jalan pagi dengan binatang kesayangan, yoga, meditasi, membaca…

  • |

    KAFE KUCING

    Beberapa tahun lalu kami berkesempatan main ke @bilikkucing cat cafe yang ada di Kukusan Depok. Bertemu dengan kucing-kucing lucu sambil menikmati hidangan yang terjangkau harganya. Kafe ini terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk makan, lantai dua tempat para meong berdiam. Kita bisa makan juga di lantai dua, sambil bermain dengan kucing. Sebagian besar kucing-kucing…

  • | |

    CERITA KITA

    Cerita kita singkat saja, Sayang Tak lebih dari dua kepalan. Saat kau asyik menghitung ruasnya, Tak terasa kita tiba di tepian. Cerita kita singkat saja, Sayang Hanya dua kali kedatangan Tuan. Saat kelahiran dan kematian, Diantaranya kita berkelindan dalam kehidupan. Cerita kita singkat saja, Sayang. Cepatlah berbenah, Sebentar lagi waktunya pulang.

  • LIFE IS SO FRAGILE

    Pekan ini sebenarnya merupakan pekan yang cukup lowong untuk saya, karena belum ada training yang berlangsung, setelah beberapa pekan lalu cukup padat. Saya sudah merencanakan untuk menyelesaikan beberapa persiapan training dan juga memfollow up beberapa klien, agar semua pekerjaan bisa terhandle sebelum jadwal training yang padat berjalan kembali. Seperti biasa, pagi itu saya berangkat kerja…

  • | |

    HIROSHIMA DAN KEJAHATAN MANUSIA

    Delapan puluh tahun lalu, pagi itu hidup berjalan sebagaimana biasa bagi sebagian besar dari mereka. Anak-anak berangkat ke sekolah, orang tua bekerja, sebagian tinggal di rumah untuk mengurus rumah. Anak-anak berlarian, remaja bercengkrama, orang dewasa mungkin dipusingkan dengan beban hidup di masa perang. Tidak ada yang menyadari bahwa sebentar lagi kehidupan di kota ini akan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *