| | |

LUKA BATIN

Dalam ilmu psikologi saya belajar bagaimana mengelola emosi dengan baik. Mulai dari meredam reaksi emosi dengan ‘inhale-exhale’, mengubah posisi tubuh saat emosi negatif muncul, mengambil waktu jeda, agar tidak meledak tanpa kendali.

Saya juga belajar mengelola emosi mulai dari mengenali emosi yang muncul, menerimanya, mengakuinya, dan belajar mengidentifikasi penyebabnya.

Saya mencoba menguasai skill-skill yang dibutuhkan untuk mengatasi gap kompetensi yang menimbulkan konflik, seperti komunikasi assertif, problem solving, dan lain sebagainya, untuk membuat masalah yang sama tidak terulang kembali.

Saya juga belajar terapi memaafkan, yang saya tujukan untuk diri sendiri dan orang lain. Dengan teknik psikodrama, menulis surat dan sejenisnya, untuk membantu menyalurkan perasaan marah, terluka, kecewa, sedih yang saya rasakan bertahun-tahun.

Semuanya saya coba praktikkan, agar luka batin bisa sembuh dan saya bisa melanjutkan hidup kembali.

Secara ajaib, semua itu hilang bukan karena usaha yang saya lakukan.

Setelah sekian lama lelah mencoba memaafkan, dengan usaha yang naik turun. Di suatu hari yang baik, saya merasa saya benar-benar bisa mengampunkan, memaafkan, menerima, bahkan menyayangi orang-orang yang pernah terlibat dalam kemelut hidup saya.

Hati rasanya dibikin lapang saja, damai saja, sehingga kemudian benar-benar bisa melanjutkan hidup tanpa kemarahan dan dendam.

Saya kemudian tersadar, diri saya ini bukan milik saya sepenuhnya. Tidak di bawah kendali saya sepenuhnya.

Sifat Pemaaf dan Pengampun itu adalah milikNya, dan Dia sedang berkenan memberikannya pada saya. Setitik, secuil, baru pada masalah ini saja, dan itu rasanya luar biasa.

Boleh saja kita belajar segala teknik mengelola rasa, tapi menggantungkan hasilnya hanya pada ini, maka kita akan terperangkap dalam kondisi ‘reda tapi tak reda’. Kita bisa tampak terkendali, tapi di dalam bergemuruh. Kita bisa oke di hari ini, tapi tak oke di hari lain.

Semuanya masih kita simpan di ruang shadr kita. Sebuah ruang antara jiwa dan raga, tempat kita menimbun semua beban emosi. Timbunan ini bisa jadi mengendalikan persepsi kita di masa depan, membelokkan arah pikiran dan perilaku ke tempat yang tidak tepat.

Minta tolong padaNya untuk mencabutnya hingga ke jiwa. Untuk membersihkannya hingga ke akar, sehingga luka-lukanya bisa hilang tanpa sisa. Permanen, tanpa kita duga.

Saya pernah merasakannya dan masih belajar memintanya untuk hal lain.

Setiap luka dan kesedihan adalah jalan kembali. Setiap rasa hadir untuk kita mohonkan pertolonganNya.

Semoga kita bisa berhenti mengandalkan diri sendiri dalam mengelola emosi diri dan situasi tidak menyenangkan yang kita alami.

Similar Posts

  • | |

    Tentang Doa

    Salah satu bukti kekuatan doa bagi saya adalah keberhasilan diterima masuk UI dari jalur PPKB (tanpa tes). Sebagai satu-satunya kandidat yang diterima saat itu lewat jalur ini di kota saya, saya merasa hanya keajaiban doa yang mewujudkannya. Begitu juga saat anak sulung saya akhirnya diterima di salah satu Universitas di Jepang, lagi-lagi salah satu wujud…

  • TENTANG POHON

    Beberapa tahun yang lalu saya berbincang-bincang dengan seseorang tentang bencana banjir di suatu daerah. Menurut beliau, meskipun bencana terjadi atas ijin-Nya, namun pengelolaan kita terhadap alam yang kita tinggali ini harus diperbaiki. Banyak hutan dibuka, pohon ditebangi, entah untuk dijadikan pemukiman ataupun perkebunan, yang akhirnya menghambat penyerapan air. Berbicara tentang pohon, tiap pohon punya karakternya…

  • HADIAH KECIL

    Kemarin hari yang terasa sangat romantis untuk saya. Sudah beberapa hari ini saya mengenakan masker kembali, karena polusi di jabodetabek yang sudah tidak sehat. Saya masih mengenakan masker kain, karena tali pengait masker yang biasa saya kenakan, sudah lama putus. Hal ini kadang menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri, sehingga saya berniat membeli pengait masker secara online. Namun…

  • | | |

    PILIHAN HIDUP

    Hidup itu adalah rangkaian konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Dulu saya sangat percaya dengan kalimat ini. Tapi sekarang, saya menyakini, bagi orang beriman pilihan hidupnya bukan dia yang menentukan. Ada Allah sebaik-baik pembuat pilihan. Berserah diri pada hakikatnya menyerahkan pilihan ini padaNya. Melalui doa, istikharah, munajat panjang, pengambilan keputusan tidak lagi berdasarkan akal semata….

  • | | |

    BUNDA HAJAR

    Masih ingat saat saya menulis status tentang Siti Hajar, saat idul adha 11 tahun lalu. Saat itu saya begitu terkesan dengan ketaqwaan Bunda Hajar pada Allah Ta’ala. Kisah perjuangannya diabadikan dalam ibadah haji dan dari keturunannya lah lahir Sang Nabi Terakhir. Saya terkesan dengan ketaatannya dalam mengikuti petunjuk, keberserahdirian dan imannya yang luar biasa kepada…

  • RUMAH

    Di suatu siang saat sedang menikmati semangkuk mie ayam dengan suami, seorang pengamen masuk dan menyanyikan sebuah lagu utk pengunjung kedai. Lagunya sepertinya tidak begitu asing buat saya. Liriknya kira-kira begini, ‘wajar bila aku iri, pada kalian, yang memiliki rumah…’ mungkin tidak terlalu tepat namun bercerita tentang kegundahan hati karena tiadanya rumah, tempat pulang. Bukan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *