| |

Membaca Al-Qur’an Sebagai Teman Seperjalanan

close-up of holy book Quran at mosque , sunlight is reflected to Quran

Sejak kecil saya diajarkan untuk membaca Al-Qur’an. Ibu saya sendiri mengajarkan saya membaca Al-Qur’an saat usia saya masih kanak-kanak. Memasuki usia sekolah, orang tua mengirimkan saya untuk belajar khusus agama di sekolah madrasah setelah pulang sekolah. Dari sanalah saya kemudian mendapatkan pengetahuan tentang tajwid, fiqih, tarikh, sedikit kosakata bahasa arab yang kadang membantu memahami kata-kata dalam Al-Qur’an.

Bacaan Al-Qur’an juga cukup familiar karena masa kecil hingga remaja saya diwarnai oleh suara ibu, yang selalu tilawah Al-Qur’an setiap selesai sholat subuh.

Beranjak remaja saya menjadi salah satu pengajar baca Al-Qur’an untuk anak-anak kecil di lingkungan sekitar. Kelas ini diinisiasi oleh organisasi NA/Pemuda Muhammadiyah di daerah kami. Pasca sholat maghrib di masjid, biasanya kami membuka kelas Iqro’ buat anak-anak. Kami juga mengajari tajwid untuk anak yang lebih besar, sebelum dilanjut dengan sholat isya.

Hal ini berlangsung sejak saya SMP hingga sebelum SMA kelas 3. Saya berhenti karena kesibukan mempersiapkan diri untuk ujian akhir dan masuk jenjang universitas. Hal ini membuat saya merasa Al-Qur’an menjadi cukup familiar, meskipun tidak secara khusus menjadi penghafal Al-Qur’an.

Namun perjumpaan saya dengan Al-Qur’an yang bermakna rasanya jauh setelah itu, sekitar belasan tahun kemudian. Perjumpaan dalam arti merasa takjub dengannya dan mulai ingin menggali lebih dari sekadar tilawah atau membaca artinya saja. Perjumpaan pertama itu terjadi saat saya mengikuti kajian Serambi Suluk.

Saya ingat, saat itu mentor menjelaskan tentang sebuah ayat yang sangat familiar buat saya dan pernah membuat saya terpana karena keindahannya. Saya membaca ayat tersebut pertama kali saat usia SMP, di salah satu majalah remaja islam kala itu. Ayat yang sangat puitis dan menjelaskan tentang cahaya, QS An-Nur: 35.

“Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Saat kecil saya tidak memahami kenapa ayat ini begitu membekas. Di kelas itu, saat mentor menjelaskannya, saya baru paham bahwa ayat ini menerangkan tentang cahaya dalam diri manusia. Ayat ini menjelaskan tentang struktur insan dan keagungannya sehingga menjadikannya wakil Tuhan di muka bumi.

Cahaya di dalam jiwa inilah yang menyebabkan malaikat diminta sujud kepada Adam AS. Cahaya yang berada di dalam qalb sang insan, yang tertutupi oleh kegelapan raga.

Ayat ini juga menjelaskan perumpamaan jiwa yang seperti buah zaitun, tumbuh tidak di barat dan tidak pula di timur, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Saya ingat betapa terpananya saya saat mendengar penjelasan itu. Ayat yang membekas sejak masa kecil ternyata membuka tabir tentang siapa manusia sebenarnya.

Perjumpaan kedua terjadi setelah dihantam banyak ujian hidup. Meskipun sudah menjadi salik, sering membaca Al-Qur’an kembali, namun saat itu saya belum betul-betul memahami Al-Qur’an sebagai panduan. Saya belum melihat keterhubungannya dengan diri dan perjalanan saya pribadi. Hidup ke mana, ngaji ke mana, demikian yang sering saya sampaikan kepada teman saat menjelaskan situasi saat itu.

Dalam gelap, saya berlari kian kemari. Bait dalam salah satu puisi saya ini memberikan gambaran betapa pontang-pantingnya saya memahami kehidupan yang Allah hadirkan meskipun Al-Qur’an sudah di tangan.

Waktu kemudian berlalu. Setelah semua ujian hidup yang menghantam, Allah yang Maha Baik mengizinkan saya untuk membuka Al-Qur’an lebih dalam. Mendorong saya untuk mempelajarinya secara mandiri, dan mencernanya sedikit demi sedikit melalui kajian Hikmah Al-Qur’an yang rutin diberikan oleh Mursyid kami.

Dimulai dari surat Al-Baqarah yang kemudian saya pahami sebagian besar kisahnya adalah tentang Bani Israil yang dipimpin Musa menuju pembebasannya. Cerita yang kemudian saya pahami merupakan gambaran jasad yang lama terpimpin hawa nafsu, lalu berusaha dibebaskan oleh utusan Tuhan.

Bani Israil itu adalah saya sendiri. Ketakutannya, kegelisahannya, imannya yang masih di tepi, kebodohan-kebodohannya bahkan setelah Tuhan menunjukkan mukjizat luar biasa dengan membelah laut untuk menyelamatkannya.

Bani Israil adalah jasad saya yang terikat hawa nafsu: enggan bergerak, ingin senang saja, mengeluh saat ujian menerpa, dan masih berbalik menyembah “anak sapi” bahkan setelah diselamatkan. Keterikatan saya pada dunia dan perjuangannya diperlihatkan dengan baik lewat surah ini.

Kisah-kisah lain mengantarkan hal yang sama, kisah Ratu Saba yang pernah saya tuliskan dalam tulisan yang lain, kisah kaum Tsamud yang luar biasa, yang kemudian Allah lenyapkan karena kesombongannya.

Perumpamaan tentang petani yang merasa akan panen namun dilenyapkan dalam sekejap oleh Allah karena mengandalkan diri sendiri. Juga kisah tentang Yusuf dan saudara-saudaranya, perjalanan jiwa yang harus mengalami banyak perjuangan untuk kemudian menjadi siapa dia sebenarnya.

Kisah-kisah ini mulai terlihat berbeda. Bukan tentang orang lain, tapi tentang saya. Kisah tentang manusia yang jatuh bangun, tersesat, salah jalan, merasa benar, namun mendapati bahwa dirinya lemah dan kemudian belajar berserah pada Allah Ta’ala. Kisah ini tentang perjalanan saya dan pergulatan di dalamnya. Di titik ini Al-Qur’an mulai terasa relevansinya.

Pelan-pelan saya mulai merasa Al-Qur’an berbicara. Percakapan dua arah yang terasa hidup dan menemani. Mulai terasa mengingatkan, menghibur, dan menuntun jalan yang terang, meskipun belum sepenuhnya saya pahami. Saya betul-betul bersyukur atas karunia ini. Tanpanya, hidup saya mungkin hanya seperti anai-anai yang beterbangan saja.

Jadi sahabat, jika saat ini hidup terasa tak mudah, tidak apa-apa. Buka Qur’an-mu, bacalah meskipun hanya satu dua ayat saja sehari. Bacalah meskipun masih terasa kering. Mohon pada-Nya untuk menunjukkan jalan yang terang itu melalui kalam-Nya ini. Semoga setelah itu, Dia sematkan hatimu dengan ketenangan untuk merasakan kehadiran Al-Qur’an yang menjadi teman seperjalananmu.

Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk memahaminya.

Amin ya Allah.

Similar Posts

  • | | |

    HIDUP

    Beberapa kali lewat di beranda saya postingan seseorang mengenai orang lain yang bertindak ini dan itu. Netizen kemudian ramai-ramai mengomentari postingan tersebut, menilai dari sudut pandangnya tentang hidup orang lain. Tanpa pernah mengetahui sudut pandang yang punya hidup sendiri, terhadap persoalan mereka. Saling bersahutan, hiruk pikuk seperti pasar. Saya sendiri pernah merasakan menjadi topik postingan…

  • | |

    KONTRAS

    Awal bulan lalu grup renang yang saya ikuti mogok berenang sebagai bentuk protes karena air kolam yang belakangan sering kotor. Kami memang beramai-ramai menyewa kolam renang di hari tertentu dan membookingnya di awal bulan. Awal februari ini, grup ini memutuskan untuk tidak membooking seperti biasa sebelum air kolam kembali jernih. Alhamdulillah pemilik kolam cukup responsif…

  • PENGATURAN ALLAH

    Satu nasihat yang saya selalu ingat dari kakak seperjalanan adalah ‘belajar melihat Allah dalam setiap urusan. Kalau tidak, bisa habis kita, bergumul dalam keluhan-keluhan’. Urusan di sini termasuk semua peristiwa yang dihadirkan. Menyenangkan atau tidak menyenangkan. Indikasinya salah satunya tidak marah-marah, tidak mengeluh, ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan. Apakah ini mudah? Jelas nggak mudah….

  • | |

    Bani Israil

    Ketika membaca tentang kisah Bani Israil yang cukup panjang diceritakan dalam Al-Qur’an, saya merasa agak heran. Heran karena setelah melihat sendiri banyak mu’jizat yang dihadirkan di hadapan mereka, tetap saja bisa berpaling. Lautan terbelah disusul oleh tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, merupakan mu’jizat yang luar biasa besar dan fenomenal. Namun setelah selamat dari kejaran Fir’aun,…

  • TITIK BALIK

    Sekitar tahun 2009/2010 saya merasakan kegalauan yg amat sangat dalam hidup. Perasaan kekosongan yang aneh, di tengah ambisi saya mengejar dunia. Tiba-tiba saja saya merasa lelah, dan bertanya-tanya utk apa semuanya. Saya bekerja mencari uang, ingin punya rumah yg lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, menyekolahkan anak di tempat terbaik, dll. Saya bekerja keras di…

  • | |

    CONCLAVE

    Beberapa pekan lalu, saya dan keluarga berkesempatan menonton film Conclave. Film ini sebenarnya kami tonton secara tidak sengaja karena tidak bisa menonton film lain yang semula ingin kami tuju. Namun, ternyata saya pribadi mendapatkan banyak pembelajaran—bukan hanya tentang tradisi agama lain, tetapi juga nilai spiritualitas yang sifatnya universal. Film dibuka dengan situasi pemilihan Pope (Paus),…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *