| | | |

JURNAL DAN MEMBACA DIRI

Pertama kali muncul ide membuat jurnal yang mencatat aktivitas harian, termasuk ibadah, adalah beberapa tahun lalu, saat seorang teman memperlihatkan catatan aktivitas ibadah harian anak-anak binaannya. Teman tersebut sudah beberapa tahun menjadi pendamping bagi beberapa akhwat di sebuah komunitas tertentu. Mereka secara berkala melaporkan aktivitas ibadahnya, terutama membaca Al-Qur’an, kepada teman saya itu.

Saya yang saat itu masih malas-malasan beribadah jadi terinspirasi. Bagi saya pribadi, ada yang janggal ketika kita mengaku mencari Tuhan, tapi tidak memperbaiki aspek syariat lahir yang seharusnya menjadi pintu masuknya.

Beberapa tahun kemudian, saya baru bisa mewujudkan ide itu dalam bentuk lembaran, lalu buku jurnal sederhana untuk mencatat perkembangan diri. Di dalamnya saya tambahkan aktivitas pengembangan diri, untuk memantau bagaimana saya membangun kebiasaan sehari-hari. Ini juga terinspirasi dari Atomic Habits, yang menyarankan memiliki sistem monitoring terhadap habit yang kita bangun. Jadilah jurnal ini berisi checklist ibadah, aktivitas pengembangan diri, serta catatan diet yang sedang saya kelola.

Awal mengisi checklist ini saya begitu bersemangat. Ada rasa puas saat melihat lembaran itu terisi. Setiap hari saya terpacu untuk menyelesaikan daftar ibadah dan aktivitas pengembangan diri, dan ada rasa bangga ketika berhasil melakukannya.

Namun lama-lama saya merasa ada yang salah. Muncul perasaan kejar tayang—harus terisi, harus lengkap—yang setelah saya amati justru berujung pada pemuasan hawa nafsu dalam bentuk lain. Wah, keren juga ya bisa tahajud hampir tiap hari, baca Qur’an rutin, membaca buku di tengah kesibukan bekerja. Hawa nafsu saya berbicara lewat kebanggaan itu, dan saya mulai resah.

Saya pun menghentikan pencatatan ini untuk sementara. Saya ingin menikmati ibadah tanpa merasa dikejar oleh daftar. Jurnal itu saya biarkan teronggok di rak buku. Saya teringat kalimat, “Syaithan tidak menghalangi kamu beribadah, tapi menghembuskan rasa bangga di hatimu.” Kalimat itu membuat saya memilih diam dan menjauh dari checklist.

Namun kemudian saya merasa ada yang hilang. Rutinitas terasa tidak sekuat dulu. Ibadah sering bolong dan baru saya sadari belakangan. Tanpa catatan, hidup terasa terlalu longgar, tidak terjaga.

Saya sadar kemudian: bukan checklist yang harus saya hentikan, tapi niatnya yang harus saya luruskan. Pencatatan ini membantu saya memonitor diri: sudah sejauh mana saya melangkah? Apakah saya benar-benar bersungguh-sungguh dalam bertaubat? Setidaknya aspek lahirnya saya jihadkan lewat cara ini. Yang perlu saya perbaiki adalah rasa kejar tayang dan kualitas rasa dalam beribadah. Karena itu, checklist ini saya lengkapi dengan jurnal reflektif tentang peristiwa sehari-hari, respons saya, dan kondisi hati saat saya menghadapinya.

Jurnal ini menjadi alat bantu untuk melihat pergerakan diri hari ke hari. Ketika rutinitas ibadah terjaga, apakah ada dampaknya pada cara saya menjalani hidup? Apakah hati tetap mengeluh dan marah saat ujian datang, meski ibadah lahir rapi? Kadang ibadah rapi, tapi hati tetap menjerit saat Allah memberi “hadiah” sulit. Kadang sebaliknya, ibadah menurun dan hati pun melemah. Dinamika itu saya coba pahami lewat catatan ini.

Perang terbesar, kata Rasulullah, adalah perang melawan hawa nafsu sendiri. Untuk memenangkannya, kita perlu mengenalnya dan mengenal apa yang ada di dalam batin kita. Buat saya, menuliskannya membantu saya membaca diri dan mengenali apa yang bercokol di dalam hati. Tentu semua tidak akan mampu tanpa pertolongan-Nya. Namun setidaknya, catatan harian ini semoga menjadi jihad yang Dia ridhoi sehingga berkenan menurunkan pertolongan-Nya.

Jelang Ramadhan tahun ini, saya kembali mencantumkan link Reflective Journaling ini. Silakan jika ingin diunduh menemani teman-teman melewati Ramadhan tahun ini. Semoga bermanfaat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Similar Posts

  • | | | |

    Phobia Nanas

    Phobia adalah ketakutan yang berlebihan atau tidak beralasan terhadap sesuatu, sehingga menimbulkan respon yang menurut orang lain juga mungkin tidak biasa. Pada saya phobia terhadap nanas ini baru saya sadari bertahun-tahun kemudian. Lha kok nanas? Sebagian besar orang tertawa atau mengernyitkan dahi saat tahu bahwa saya sangat tidak suka nanas. Saat kecil, mencium bau nanas…

  • | | |

    SIAPA YANG MENERUSKAN PERJALANAN?

    Tubuh manusia ini mirip mesin. Kata sebuah buku, ada masa-masa ausnya dan harus diganti. Pernah dengar ungkapan itu? Ya, tubuh kita ini seperti mesin canggih yang satu hari nanti akan berhenti, yang biasa kita sebut ‘mati’. Hal ini semakin saya rasakan dalam satu tahun belakangan. Saya harus menjalani dua kali operasi dan satu kali cedera…

  • | | |

    FATAMORGANA

    Dan kamu tahu, Ratusan purnama berlalu, Ribuan cahaya datang dan pergi. Apakah dia meninggalkan jejak yang sama? Atau setidaknya menghapus luka? Kesedihan, gembira, duka, lara. Semua tipu daya. Sakit, senang, luka, dan nyaris binasa. Semua itu fatamorgana. Dia hanya semu belaka. Jadi harusnya kukembalikan lagi saja padaMu, Untuk dibuang habis.

  • |

    A MAN CALLED OTTO

    Beberapa hari lalu saya akhirnya berkesempatan menonton film A Man Called OTTO di Netflix. Film yang direkomendasikan oleh beberapa teman dan menurut saya sangat psikologis sekali. Film ini diperankan dengan sangat apik oleh aktor kawakan, Tom Hanks. Cerita film ini berkisah seputar kehidupan seorang laki-laki tua bernama OTTO, pasca kehilangan istrinya. OTTO yang tenggelam dalam…

  • | | |

    TENTANG WAKTU

    Saya dulu sangat mengagumi orang-orang yang produktif, aktif, sibuk dan banyak karya. Untuk saya mereka-mereka ini contoh orang-orang yang berhasil dalam mengelola hidupnya. Tidak banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu. Sibuk dengan kekaryaan dirinya, alih-alih mengurusi hal lain yang terkesan remeh temeh. Sampai kemudian saya menyadari ada suatu hal yang lebih penting dalam…

  • | | |

    TENTANG HIDUP

    Siang itu hujan baru saja berhenti. Mendung masih bergelayut di langit, ketika aku dan si kecil membuka pintu pagar rumah. Kami berencana makan di satu tempat, sambil bertemu dengan beberapa sahabat lamaku. Taksi online yang kupesan sudah terparkir di depan rumah. Ketika membuka pintunya, aku tersadar pernah bertemu dengan pasangan ibu dan anak, pengemudi taksi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *