| | |

Yang Tumbuh Bukan Hanya Tanamannya

oplus_32

Kala melihat tanaman mulai berbunga, daun hijau bermekaran dan lembaran warna-warni yang segar pagi ini, saya seperti melihat kembali perjalanan saya dalam mencoba mengenal diri terutama terkait identitas keperempuanan saya.

Dulu, saya bukanlah pencinta tanaman. Saya senang suasana hijau di rumah, tapi cenderung menyerahkan pengelolaannya pada orang lain. Ditambah lagi isu sensori pada indra taktil/peraba, membuat saya merasa geli atau jijik ketika memegang tanah. Rasanya ingin cepat-cepat mencuci tangan karena membayangkan kuman, bakteri, ulat, dan segala yang ada di dalamnya. Singkat cerita, saya dulu berpikir saya adalah “si tangan panas” yang tidak sabar dan tidak telaten merawat tanaman. Sebuah asumsi yang saya bawa bertahun-tahun.

Sehari-hari, sejak dulu saya berkutat dengan perencanaan, monitoring program, dan evaluasi. Pekerjaan yang banyak menuntut kemampuan konseptual, berpikir kritis, mengelola sumber daya dan tim. Terlebih, hampir setengah perjalanan karir saya lebih dekat dengan dunia bisnis: memulai usaha, mengelola, membaca pasar, merencanakan pengembangan yang strategis, mengeksekusi, dan menjaga relasi dengan para pemangku kepentingan.

Aktivitas-aktivitas ini, jika dilihat dari aspek maskulin dan feminin, lebih banyak condong ke maskulin. Jika dilihat dari teori hormon, aktivitas ini cenderung meningkatkan testosteron dibanding estrogen yang identik dengan sifat merawat, menjaga, dan melayani. Singkatnya, meskipun tampilan saya perempuan, di dalam rasanya lebih “laki-laki”, ditambah pula watak dominan yang memang sudah ada sejak lama.

Hingga beberapa waktu lalu, kucing kesayangan saya mati. Suami meminta saya berhenti dulu memelihara kucing, karena dia kurang nyaman jika ada kucing di dalam rumah. Dengan berat hati saya menyetujuinya. Pasca tidak ada kucing, saya seperti induk kehilangan anak. Anak-anak sudah besar, sehingga biasanya waktu luang saya terisi dengan memelihara kucing: mempersiapkan makanannya, membawa ke dokter jika sakit, memanggil groomer, membersihkan litter, dan seterusnya. Ada ruang kosong di pagi hari yang terasa ganjil.

Saya kemudian berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Saat itu terbersit keinginan untuk mencoba memelihara tanaman. Belakangan memang saya sering melihat video tentang pentingnya ketahanan pangan mandiri, dan sahabat baik saya juga pernah mengatakan bahwa bercocok tanam adalah salah satu teknik grounding. Suatu hari ada tukang tanaman lewat di depan rumah, saya memanggilnya, dan dimulailah perjalanan ini. Suami secara khusus meminta saya menanam melati, karena ia menyukai aromanya. Permintaan yang awalnya berat saya terima, karena di kepala saya melati identik dengan Mbak Kunti, hehe.

Demikianlah kemudian saya mulai belajar merawat tanaman. Aktivitas pagi di balkon kini dimulai dengan menyiram mereka, memperhatikan batang, daun, dan tanahnya. Pernah suatu kali tanaman melati saya hampir mati setelah berbunga banyak sekali. Saya kemudian paham, bagi melati (dan mungkin tanaman pada umumnya), berbunga itu membutuhkan energi besar. Keindahan dan keharuman ternyata memerlukan pengorbanan, sehingga setelahnya ia membutuhkan media tanam baru yang lebih segar dan bergizi.

Saya pun mengganti potnya, menambah tanah, memberi pupuk organik cair berkala, serta ‘pupuk’ alami seperti air cucian beras atau daging, bahkan penyedap rasa Sasa yang konon katanya disukai tanaman. Alhamdulillah, kini tanaman-tanaman itu tumbuh subur. Melati kembali berbunga beberapa kali. Bunganya saya hadiahkan kepada suami sebagai wewangian yang menemaninya bekerja. Satu tanaman bahkan sudah begitu rimbun sampai perlu dipindah anakannya. Balkon rumah pun terasa hijau dan hidup.

Setiap kali melihat tanaman-tanaman itu, hati saya terasa bahagia. Meski tidak bisa berbicara seperti kucing, warna dan kesegarannya memanjakan mata. Beberapa hal dalam diri saya juga terasa berubah, sejalan dengan pertumbuhan tanaman ini. Saya yang dulu merasa tidak telaten ternyata bisa merawat tanaman dengan baik. Saya belajar menumbuhkan sisi diri yang sebelumnya kadang terabaikan: sifat merawat, menjaga, dan sifat-sifat keperempuanan lain yang ternyata membuat jiwa saya terasa lebih lengkap. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT yang mendorong saya mencoba sesuatu yang dulu saya pikir “bukan saya”, namun ternyata sangat bermanfaat bagi pertumbuhan batin.

Saya belajar untuk tidak membatasi diri, dan berani mencoba hal-hal baru, terutama yang mengasah sisi feminin saya. Saya teringat isi buku John Gray Beyond Mars and Venus, bahwa perempuan secara natural memiliki dorongan untuk merawat, mengasuh, dan menyayangi. Sisi ini sering tertekan di dunia kerja modern yang meningkatkan testosteron karena tuntutan logika dan pengambilan keputusan. Untuk menyeimbangkannya, perempuan perlu kembali pada aktivitas yang menghidupkan estrogen: merawat, menjaga, dan memelihara, dan hadir secara penuh dalam relasi. Saya merasakannya dalam merawat tanaman, menyediakan kebutuhan anak-anak dan suami. Sebagai penyeimbang dalam aktivitas harian perempuan pekerja yang menuntut segalanya serba cepat, logis dan terarah. Keseimbangan dua sisi ini terasa membantu saya berkembang lebih optimal, lahir dan batin.

#lifestory
#lifejourney
#selfreflection

Similar Posts

  • | | |

    AI DAN TANTANGAN MASA DEPAN INTERAKSI MANUSIA

    Beberapa pekan ini timeline media sosial saya sedang ramai dengan cerita teman-teman dalam berinteraksi dengan AI, khususnya Meta AI. AI yang satu ini menimbulkan ketertarikan khusus karena interaksi lewat WA yang sudah dikenal sebelumnya, memudahkan audiens untuk menggunakannya. Dibanding model AI lain seperti ChatGPT, Meta AI terasa lebih familiar dan lebih mungkin dipergunakan secara luas….

  • | | |

    NIAT

    Siang itu langit cerah berawan saat saya memasuki salah satu kompleks perkantoran di jantung kota Jakarta. Saya dan salah seorang teman, ada janji meeting dan makan siang dengan salah satu calon klien kami. Lobi gedung terlihat mulai ramai saat saya tiba di sana. ‘Saya sudah di bawah, Mbak.’ Begitu bunyi WA yang saya kirimkan pada…

  • | |

    BERIMAN PADA YANG GHAIB

    Sandra Dewi, salah satu selebriti tanah air, sedang tertimpa masalah. Suaminya ditengarai terlibat kasus KKN yang menyebabkan kerugian besar pada lingkungan dan negara. Hidupnya yang dahulu penuh puja puji, sekejap berubah menjadi caci maki. Wajah cantik, suami tampan, anak-anak lucu dan cerdas, terkenal dan harta benda melimpah ruah. Banyak yang ingin berada dalam posisinya beberapa…

  • TENTANG POHON

    Beberapa tahun yang lalu saya berbincang-bincang dengan seseorang tentang bencana banjir di suatu daerah. Menurut beliau, meskipun bencana terjadi atas ijin-Nya, namun pengelolaan kita terhadap alam yang kita tinggali ini harus diperbaiki. Banyak hutan dibuka, pohon ditebangi, entah untuk dijadikan pemukiman ataupun perkebunan, yang akhirnya menghambat penyerapan air. Berbicara tentang pohon, tiap pohon punya karakternya…

  • GRATEFUL MOMENT

    Belakangan ini saya sedang sering berhubungan dengan rumah sakit, utk treatment kaki saya yang terkena plantar fasciitis dan radang sendi di jari tangan. Jarak yang cukup jauh antara RS dan domisili, membuat saya kadang merasa kelelahan dengan proses pengobatannya. Akan tetapi, dibalik kelelahan ini ada sesuatu yang sangat saya syukuri. Kemarin sore, saat pulang dari…

  • | |

    Rezeki

    Teman saya, tadinya seorang single parent, sempat terjerumus dalam hutang yang cukup besar jumlahnya. Sebagai seorang single fighter yang membesarkan anak-anak dengan nyaris tanpa dukungan finansial dari mantan suami, posisinya menjadi sangat rentan karena harus berjuang seorang diri. Kesempatan apapun yang datang, yang sekiranya dapat menambah penghasilan, atau terlihat seperti peluang besar, nyaris tidak pernah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *