PARENTING, FITRAH DIRI DAN PERUBAHAN


Salah satu konsep menarik dalam psikologi adalah definisi inteligensi sebagai kemampuan beradaptasi. Inteligensi tidak hanya soal memproses informasi atau mengingat, tetapi juga bagaimana manusia mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Menarik bagi saya mengamati betapa cepatnya teknologi berkembang hanya dalam beberapa dekade. Generasi saya masih mengalami masa tanpa internet, di mana sumber informasi hanya berupa buku dan media cetak yang aksesnya pun tidak merata. Lalu perlahan situasi berubah: smartphone hadir, internet mudah diakses, dan informasi berlimpah. Bahkan terasa membebani kognitif kita.

Di tengah disrupsi seperti ini, apa sebenarnya yang membuat kita bisa bertahan? Apa yang memungkinkan kita beradaptasi? Ketika memikirkan hal itu, saya kembali pada hakikat manusia. Kalau kelak fungsi-fungsi lahiriah kita bisa digantikan robot atau AI, tetap ada sesuatu dalam diri kita yang tak tergantikan: jiwa, sesuatu yang murni berasal dari Ilahi, yang membedakan manusia dari makhluk lain.

Saat dunia bergerak cepat dan kebisingan meningkat, berpegang pada yang ada di dalam diri mungkin justru menjadi jangkar keselamatan. Karena itu, mengajarkan anak-anak untuk kembali pada konsep fitrah diri – mengenali batin, kekuatan, dan keunikan – menjadi hal dasar yang penting untuk bertahan.

Dalam positive psychology, manusia dipandang akan berkembang paling optimal ketika ia hidup sejalan dengan nilai dan jati dirinya. Martin Seligman menyebut bahwa kesejahteraan psikologis tidak hanya soal kebahagiaan, tetapi juga makna, kontribusi, keterhubungan, dan rasa menjadi diri sendiri.

Sementara itu, penelitian tentang authenticity (keotentikan diri) menunjukkan bahwa ketika seseorang hidup selaras dengan dirinya, dia menjadi lebih stabil, lebih resilien, dan lebih mampu menghadapi perubahan.

Di sinilah konsep fitrah dan keunikan diri menemukan pijakan ilmiahnya.

Mengajak anak-anak “berjalan ke dalam” membantu mereka menemukan hal-hal yang tak bisa digantikan orang lain: tempat mereka di alam semesta, nilai diri mereka, dan apa yang ingin mereka persembahkan pada dunia.

Keunikan. Otentisitas. Fitrah.
Hal-hal dari dalam diri inilah yang membuat kita tetap teguh di tengah perubahan.

Saya pernah mendapat pesan ketika masih berbisnis UMKM: untuk dapat dikenali di tengah keramaian, kamu perlu menjadi berbeda. Prinsip ini juga bisa kita terapkan pada anak-anak. Bukan sekadar berbeda demi sensasi, tetapi berbeda secara autentik. Setia pada diri sendiri.

Pada akhirnya, mungkin tugas kita sebagai orang tua bukanlah menyiapkan anak untuk melawan perubahan, tetapi membantu mereka menemukan tempat berpijak di dalam diri. Agar mereka tetap utuh, apa pun yang berubah di luar sana.

Sebelum itu, mari kita bertanya pada diri kita, sebagai orang dewasa apakah kita sudah mencoba menjadi diri yang autentik? Semoga kita selalu menuju ke sana.

Similar Posts

  • PERSISTENSI

    Seorang sahabat berkomentar bahwa saya seorang yang persisten. Bertahun-tahun yang lalu saat saya bertanya pada sahabat yang lain, komentar yang sama juga saya dapatkan. Saya seorang yang keras kemauannya jika menginginkan sesuatu. Saya akan mengejarnya hingga dapat, bahkan kadang tanpa menghiraukan banyak hal di sekeliling. Apakah itu buruk? Saat ini saya menyadari bahwa persistensi tanpa…

  • | | |

    INDONESIA KAYA

    ‘Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.’ Isi pasal 33 ayat 3 ini yang terlintas berulang dalam benak saya saat berkunjung ke tempat ini. Selain rasa excited karena eksplorasi tempat baru, namun juga terbersit rasa sedih mengingat besarnya kekayaan alam yang tak berbanding…

  • 5000 PELAMAR

    Saya ingin melanjutkan cerita tentang proses rekrutmen di kantor saya tempo hari. Jumlah pelamar yang mendaftar tercatat lebih dari 5000, terakhir kali kami memprosesnya. Dari sekian banyak ini, hanya satu orang yang akan mengisi posisi yang ditawarkan. Luar biasa kompetisinya. Bagaimana kami memproses sekian ribu lamaran ini agar tidak menyulitkan dan memakan waktu yang panjang….

  • |

    Menjadi Harapan

    Minggu lalu saya akhirnya menghabiskan serial TV ‘Tunnel’ versi Indonesia, bersama keluarga. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari jalan ceritanya, namun gambaran tentang masa kecil pelaku kejahatan membuat saya berpikir kembali tentang dinamika kehidupan manusia. Dalam cerita ini digambarkan ada dua pelaku pembunuhan berantai yang memiliki latar belakang nyaris sama. Pelaku pertama adalah seorang dukun…

  • | |

    SLOW LIVING

    H+13, dua minggu kurang sehari sudah belajar hidup dengan gerak terbatas. Alhamdulillah sudah bisa sesekali keluar rumah, either ke tempat kerja, RS atau ya keluar sejenak melihat dunia. Kaki masih sedikit bengkak, tapi sejauh ini mulai enak dibawa jalan, meskipun belum bisa lama dan jauh. Gimana rasanya hidup dengan gerak dan ruang terbatas selama nyaris…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *