| |

JIWA YANG SHOLAT

Pernah dengar kalimat, “dia sholat tapi begitu kelakuannya?”,
“bolak-balik haji tapi korupsi”,
“ibadahnya kencang tapi pelitnya minta ampun”,
dan kalimat sejenis lainnya?

Saya sering membaca kalimat-kalimat ini bersiliweran di media sosial. Tentang perilaku seseorang yang tidak mencerminkan ibadahnya. Lalu saya bertanya-tanya, apa yang salah?

Dahulu saya juga pernah mengalami kekecewaan terkait hal ini, dan pergi dari salah satu jama’ah karena merasa tidak menemukan apa yang saya harapkan dari sosok yang saya rasa alim. Saya pun menyadari bahwa saya sendiri sering terjerumus dalam perilaku-perilaku yang tidak baik, meskipun saya sholat dan melakukan ibadah lainnya.

Apa yang salah ya?

Dulu saya sering bertanya-tanya sebelum kemudian saya memahami bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Ia tidak hanya berbeda dengan hewan karena struktur otaknya yang lebih tinggi sehingga bisa berpikir, berbicara dan berimajinasi, tetapi juga karena manusia adalah makhluk spiritual. Manusia tidak hanya terdiri dari raga, tetapi juga jiwa.

Dulu saya berpikir jiwa itu sama dengan aspek psikologis manusia, namun ternyata kemudian saya tahu bahwa keduanya berbeda. Jiwa adalah sesuatu yang Allah turunkan dan tiupkan pada usia janin 120 hari di dalam kandungan ibu. Ia berasal dari alam persaksian, tempat ia melihat, menyaksikan Rabb-nya, dan berjanji akan setia.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”
(QS. Al-A‘raaf: 172)

Setiap kita memiliki jiwa yang mirip raga kita -punya kemampuan melihat dan mendengar – yang dalam Al-Qur’an sering digambarkan buta ketika hati tertutup. Jiwa ini terhubung dengan raga melalui hati.

Inilah yang kemudian menjadi masalah.

Sedikit sekali dari kita yang mengenali jiwanya dengan baik karena hati yang tertutup. Hati kita penuh dengan penyakit, penuh dengan waham, dan penuh dengan ilusi yang kadang tidak kita sadari. Akibatnya, kebanyakan dari kita berjalan di dunia ini hanya dengan raga, termasuk akal pikiran dan aspek psikologis di dalamnya.

Tertidurnya jiwa membuat ibadah kita hanya sebatas gerakan luar semata. Terlihat kuat, tetapi rapuh. Bangga diri, terikat pada manusia, mengandalkan kekuatan sendiri, menyembah harta benda, sombong yang tak terlihat, ketakutan akan hidup, dan keluhan menempati hati tanpa kita sadari.

Akibatnya, meskipun kita beribadah, kita tetap khawatir akan hidup, mudah mengeluh, mudah marah, dan pelit tak terkira.

Fisik kita sholat, tetapi jiwa kita tidak.

Bagaimana agar jiwa kita bangun?

Membersihkan hati adalah tugas besar yang harus kita lakukan sepanjang hayat. Rasulullah menyebut bahwa perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu yang menutupi hati. Dan kita tidak bisa melakukannya tanpa pertolongan-Nya.

Karena itu, kita perlu kembali. Taubat. Kembali kepada-Nya. Karena jiwa pada dasarnya rindu kepada Tuhan-nya.

Dimulai dengan istighfar. Dimulai dengan memohon pertolongan-Nya. Dimulai dengan kesadaran bahwa kita butuh bantuan-Nya dan ingin kembali.

Semoga dengan demikian, Allah menolong kita menapaki hidup di dunia ini dengan jiwa yang bangun dan mampu menuntun kita kembali sesuai kehendak-Nya.

Amin ya Rabb.

Similar Posts

  • | | |

    SIAPA YANG MENERUSKAN PERJALANAN?

    Tubuh manusia ini mirip mesin. Kata sebuah buku, ada masa-masa ausnya dan harus diganti. Pernah dengar ungkapan itu? Ya, tubuh kita ini seperti mesin canggih yang satu hari nanti akan berhenti, yang biasa kita sebut ‘mati’. Hal ini semakin saya rasakan dalam satu tahun belakangan. Saya harus menjalani dua kali operasi dan satu kali cedera…

  • | | | |

    MARAH

    Pernah merasakan marah yang besar pada sesuatu atau orang lain? Sebagian besar orang pasti pernah merasakannya ya. Perasaan marah, jengkel, kesal dan nama turunan lainnya, yang mendorong kita untuk bertindak keras, kasar, di luar kebiasaan sehari-hari karena kuatnya dorongan energi dari perasaan ini. Ya, perasaan yang kuat itu mengandung energi yang besar. Dia, jika tidak…

  • | | |

    LUKA BATIN

    Dalam ilmu psikologi saya belajar bagaimana mengelola emosi dengan baik. Mulai dari meredam gejala dengan ‘inhale-exhale’, mengubah posisi tubuh saat emosi negatif muncul, hingga mengambil wudhu, mengambil waktu jeda, agar tidak meledak tanpa kendali. Saya juga belajar mengelola emosi dari menerima emosi tersebut, mengakuinya, mencari penyebabnya, hingga mencoba menguasai skill-skill yang dibutuhkan, -seperti komunikasi assertif,…

  • | | | |

    ADOPSI

    Salah satu sahabat saya mengadopsi anak beberapa bulan yang lalu. Anak kecil yang lucu, yang tidak diketahui siapa orang tuanya dan selama ini tinggal di salah satu panti di Jakarta. Saat dibawa pulang, anak ini terindikasi stunting dan kurang optimal perkembangannya. Namun beberapa bulan bersama, anak ini tumbuh ceria, sehat dan mengejar berbagai ketertinggalannya. Beberapa…

  • | | |

    Waktu

    Belakangan saya sedang membaca buku bagaimana menghabiskan 24 jam dalam sehari. Intinya bagaimana menjadi orang yang berbeda dengan tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia. Ada hal yang menarik dari saran yang diberikan penulis yang notabene bukan seorang muslim, yang membuat saya berpikir tentang ke-muslim-an saya dengan segala kewajiban syariatnya. Yang pertama adalah untuk bangun lebih awal,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *