| |

MENINGKATKAN EFEKTIVITAS TRAINING DENGAN TRANSFORMATIVE LEARNING

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh klien kami saat presentasi pitching adalah mengenai efektivitas dari training. Seberapa jauh training yang diberikan dapat mengubah kemampuan peserta, seberapa bisa diterapkan dalam pekerjaan mereka? Apakah training ini akan mengubah mindset mereka, dan lain sebagainya.

Berharap bahwa training mampu mengubah perilaku atau kemampuan seseorang dalam waktu singkat, tentu suatu hal yang kurang tepat. Efektivitas Training dalam pembelajaran hanya berkisar 10-30% tergantung desain dari training, kesiapan peserta dan dukungan dari lingkungan kerja. Namun, kita dapat mengoptimalkan efektivitas training dengan melibatkan beragam metode yang mendorong keterlibatan aktif dan memberikan pengalaman pada peserta. Hal lain yang dapat digunakan juga adalah mengadopsi teori transformative learning dalam proses pembelajaran.

 Apa itu Transformative Learning?

Transformative learning adalah sebuah teori pembelajaran yang menekankan proses transformasi perspektif individu melalui refleksi kritis, yang mengarah pada perubahan mendalam dalam pemahaman diri, keyakinan, dan perilaku. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Jack Mezirow pada tahun 1978 dan muncul dari kebutuhan untuk memahami bagaimana orang dewasa dapat mengubah pandangan dunia mereka melalui pengalaman dan refleksi.

Jika dilihat dari  pengertian dan latar belakangnya ini, maka yang membedakan pendekatan transformative learning dengan pendekatan adult learning lainnya adalah adanya proses refleksi kritis terhadap apa yang diyakini atau dilakukan selama ini. Dalam bertindak, individu sering kali memiliki asumsi dan keyakinan yang tidak dipertanyakan, yang membentuk cara mereka melihat dunia. Melalui refleksi kritis, individu dapat menantang dan merevisi asumsi ini, yang mengarah pada transformasi perspektif yang pada akhirnya akan mengarahkan perilaku.

Bagaimana proses transformative learning ini terjadi?

Berdasarkan teori transformative learning, individu akan mengalami beberapa tahapan dalam proses belajar sebelum akhirnya mengalami transformasi.

Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Disorienting Dilemma – Proses belajar ini diawali dengan suatu krisis atau tantangan yang  dialami oleh individu yang mengguncang/menggoyang keyakinan dan asumsi yang sudah diyakininya selama ini.
  2. Self-Examination – Individu yang mengalami ini kemudian melakukan refleksi diri terhadap perasaan dan emosi yang muncul akibat dilema tersebut.
  3. Critical Assessment of Assumptions – Lalu dia mulai mempertanyakan secara mendalam keyakinan, nilai, dan asumsi yang selama ini diyakini.
  4. Recognition that Others Have Similar Experiences – Tahapan selanjutnya, dia mulai menyadari bahwa orang lain juga pernah mengalami perubahan serupa.
  5. Exploration of New Roles and Actions – Di tahap ini dia mulai mempertimbangkan perspektif, perilaku, dan cara berpikir yang berbeda. Dia melihat pengalaman orang lain atau hal-hal yang dilakukan orang lain dalam menghadapi situasi  serupa dan terbuka terhadap perspektif lain.
  6. Planning a Course of Action – Berdasarkan refleksi dan juga pengetahuan baru yang diperolehnya, individu mulai merancang strategi untuk mengintegrasikan perspektif baru ke dalam kehidupan.
  7. Acquiring Knowledge and Skills – Lalu mulai mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menerapkan perspektif baru.
  8. Trying Out New Roles – Individu kemudian mencoba menerapkan cara berpikir dan berperilaku yang baru dalam kehidupan nyata.
  9. Building Competence and Confidence – Dia mulai mengembangkan rasa percaya diri dalam menerapkan perspektif yang baru ini.
  10. Reintegration into Life with a Transformed Perspective – Pada akhirnya sepenuhnya mengadopsi cara berpikir dan bertindak yang baru dalam kehidupan sehari-hari.

Jika melihat tahapan di atas, kita mungkin berpikir bahwa proses transformative learning ini berlangsung cukup panjang. Pertanyaannya, lalu bagaimana menerapkannya dalam training yang hanya berdurasi singkat?

Aplikasi Praktis dalam Pelatihan

Dalam konteks pelatihan, transformative learning dapat diterapkan untuk mendorong peserta mengevaluasi dan merevisi asumsi mereka, sehingga mencapai pemahaman yang lebih dalam dan perubahan perilaku yang positif. Dalam hal ini, fasilitator perlu merancang aktivitas yang memungkinkan terjadinya proses refleksi kritis dan juga proses berbagi pengetahuan satu sama lain untuk mendorong terjadinya transformasi berpikir.

Beberapa strategi yang dapat digunakan meliputi:

  • Studi Kasus: Menyajikan situasi nyata yang menantang asumsi peserta. Peserta dapat diberikan situasi yang berbeda dengan keyakinannya saat ini atau mempertanyakan keyakinannya saat ini. Studi kasus yang diberikan mendorong proses berpikir kritis dan refleksi terhadap asumsi atau tindakan yang sudah dilakukan selama ini.
  • Refleksi Diri: Mendorong peserta untuk merenungkan pengalaman dan keyakinan mereka. Kita dapat mengajak peserta untuk melihat dampak dari tindakannya selama ini dan atas dasar apa mereka melakukannya? Apakah selama ini berhasil? Adakah cara lain yang dapat memberikan hasil yang lebih optimal? Kita juga dapat menyajikan data atau fakta tentang dampak dari tindakan yang diambil selama ini, jika memungkinkan.
  • Diskusi Kelompok: Memfasilitasi dialog untuk mengeksplorasi perspektif berbeda. Dengan adanya guncangan terhadap keyakinannya, peserta diberikan kesempatan berdiskusi mengenai cara-cara baru, perspektif baru atau keyakinan baru yang membantu mereka menghadapi situasi mereka. Cara-cara baru ini bisa jadi lebih efektif dibandingkan dengan cara yang digunakan sebelumnya.
  • Simulasi dan Role-Play: Jika keyakinan baru sudah didapat, peserta perlu dibekali keterampilan baru yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Fasilitator perlu memberikan kesempatan untuk mencoba peran atau keterampilan baru tersebut lewat simulasi atau role-play.

Penting bagi fasilitator untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, di mana peserta merasa nyaman untuk berbagi dan menantang asumsi mereka. Dengan demikian, transformative learning dapat menjadi alat yang efektif dalam pelatihan untuk mendorong perubahan yang mendalam dan berkelanjutan. Menggabungkan pendekatan experiential learning dan transformative learning akan sangat powerful membantu peserta belajar untuk lebih memahami keterampilan baru yang akan bertahan dalam jangka panjang.

Contoh Praktis Penerapan Teori Transformative Learning

Sebagai contoh, bayangkan kita sedang merancang training komunikasi yang bertujuan mengajarkan peserta untuk berkomunikasi secara asertif dan menjadi pendengar yang baik. Selama ini, komunikasi di lingkungan kerja cenderung satu arah, di mana atasan lebih banyak memberikan masukan, sementara bawahan cenderung pasif. Peserta dalam training ini adalah suatu unit di perusahaan yang terdiri dari manajer dan staf.

  1. Disorienting Dilemma: Peserta diberikan simulasi interaksi dengan komunikasi satu arah, di mana mereka merasakan langsung tantangan komunikasi yang tidak efektif.
  2. Self-Examination & Critical Assessment: Mereka kemudian diminta merefleksikan pengalaman tersebut, mengidentifikasi masalah, dan menilai asumsi mereka tentang komunikasi yang efektif. Pada tahap ini mereka juga dapat diberikan lembar self assesment untuk menilai sejauh mana mereka sudah bersikap assertif selama ini. Peserta diminta untuk bersikap jujur dan menilai diri apa adanya.
  3. Exploration & Planning: Peserta diberikan kesempatan berbagi hasil self assesment mereka dan apa yang mereka rasakan setelah melihat hasilnya. Apakah mereka setuju atau merasa ada yang berbeda? Fasilitator dapat mengeksplorasi juga latar belakang peserta kurang bersikap assertif selama ini, tentang kekhawatiran mereka dan apa yang mereka harapkan. Di tahap ini fasilitator harus berhati-hati memandu diskusi refleksi yang dilakukan agar tidak ada yang merasa disudutkan. Tekankan bahwa diskusi ini perlu agar kita dapat memahami perspektif satu sama lain dan memperbaiki keadaan. Diskusi kelompok digunakan untuk mengeksplorasi strategi komunikasi asertif yang lebih efektif.
  4. Acquiring Knowledge & Trying Out New Roles: Peserta diberikan teori serta praktik melalui role-play untuk mencoba komunikasi asertif. Peserta dapat didebrief juga apa yang mereka rasakan saat mempraktikan ini dan tantangan yang akan mereka hadapi saat mempraktikkannya. Arahkan diskusi untuk mendukung satu sama lain.
  5. Building Confidence & Reintegration: Peserta diberikan kesempatan untuk menerapkan keterampilan baru dalam skenario dunia nyata dan berbagi pengalaman mereka. Bagian terakhir ini membutuhkan dukungan dari perusahaan. Fasilitator dapat mendorong peserta membuat action plan terukur untuk menerapkan keterampilan baru, misal berani mengemukakan pendapat saat meeting pagi.

Contoh di atas menggabungkan pendekatan transformative learning dan experiential learning, dimana selain melakukan refleksi, peserta juga diberikan pengalaman untuk merasakan keterampilan baru dengan pengalaman langsung. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru tetapi juga mengalami perubahan pola pikir yang lebih dalam terkait komunikasi efektif di tempat kerja.

Similar Posts

  • | | |

    OLAHRAGA

    ‘Ibu kok bisa olahraga konsisten meskipun gak ada teman?’ seseorang bertanya kepada saya saat kami mengobrol tentang kebiasaan berolahraga. Saya kemudian menyadari bahwa memang kebiasaan ini tidak ada hubungannya lagi dengan ada atau tidaknya teman. Setelah berolahraga sekian lama dan merasakan manfaatnya, dampak dari olahraga ini sendiri yang jadi rewardnya. Kebiasaan berolahraga ini sebenarnya sudah…

  • | | | |

    CATATAN HIDUP

    Pertama kali masuk dunia marketing profesional, sales marketing tepatnya di tahun 2021. Saat itu Covid sedang melanda, bisnis suami sedang turun dan saya yang duduk di tim manajemen, harus mengambil alih pekerjaan day to day sales, karena kondisi bisnis di masa covid. Tepatnya menjadi sales B to B, berhadapan langsung dengan klien dari beragam perusahaan,…

  • | | |

    TENTANG WAKTU

    Saya dulu sangat mengagumi orang-orang yang produktif, aktif, sibuk dan banyak karya. Untuk saya mereka-mereka ini contoh orang-orang yang berhasil dalam mengelola hidupnya. Tidak banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu. Sibuk dengan kekaryaan dirinya, alih-alih mengurusi hal lain yang terkesan remeh temeh. Sampai kemudian saya menyadari ada suatu hal yang lebih penting dalam…

  • | |

    KOMUNIKASI ASERTIF

    Beberapa pekan yang lalu saya sempat melakukan sesi Q&A terkait komunikasi asertif dalam berbagai konteks. Sesi Q&A ini merupakan lanjutan dari sesi sharing tentang komunikasi asertif yang diadakan oleh Komunitas Kabima sebelumnya. Sharing ini membahas tentang pengertian komunikasi asertif, teknik komunikasi asertif dan manfaat komunikasi asertif secara umum. Sesi sharing ini dihadiri lebih dari 300…

  • | | |

    RUANG AMAN

    Apa yang membuat seseorang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik? Menurut saya, salah satunya adalah ruang aman yang disediakan oleh keluarga dan lingkungan untuk mengaktualisasikan diri dan kemampuannya. Ruang aman ini sering terlihat sepele, padahal dalam kenyataan sehari-hari tidak mudah didapatkan. Bahkan, bagi sebagian orang, dia bisa menjadi sebuah kemewahan. Di rumah, ruang aman diciptakan…

  • | |

    PUTRI ARIANI

    Putri Ariani sedang viral dimana-mana. Saat menonton video nya di AGT, saya seperti jutaan orang lainnya, merinding. Suaranya luar biasa bagus, talenta bermusiknya juga luar biasa memukau. Melihat penampilan Putri dari YouTube, saya memperhatikan sosok kedua orang tuanya. Ayah yang mengantarkan ke panggung, sesekali memeluk, menyampaikan kata-kata yang menguatkan. Ibu yang berdiri di pinggir panggung….

2 Comments

Tinggalkan Balasan ke Putri Zainur Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *