| |

Ayatollah Ali Khamenei: Sebuah Catatan Tentang Prasangka

Sekelompok anak-anak perempuan bernyanyi dengan lantang. Suaranya merdu, bening, dan terdengar sangat bersemangat. Mereka berkumpul hari itu dalam perayaan awal akil baligh mereka. Masa yang penting bagi seorang anak dalam Islam, karena ini menandai awal mereka berkewajiban menjalankan syariat agama. Anak-anak perempuan ini, sebagaimana umumnya anak-anak, terlihat ceria, cantik, dan polos.

Sosok berjubah lebar dan bersorban hitam itu kemudian masuk, diiringi nyanyian mereka. Terdengar sorak-sorai gegap gempita anak-anak menyambut sosok yang mereka kasihi dan yang juga mengasihi mereka. Jalannya tenang, setenang suaranya yang kemudian mengalir memuji betapa bagusnya anak-anak ini menyanyikan lagu perjuangan mereka.

Ketenangan ini terus terpancar saat beliau menasihati mereka untuk dekat dengan Allah SWT. Bersahabat dengan-Nya. Jika sedang sholat, rasakan seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan-Nya. Dzat yang paling mencintai kita. Nasihat ini menancap ke dalam hati saya, karena hal ini baru saya pahami setelah perjalanan panjang mencari Tuhan.

Di waktu lain, sosok ini juga tampil dengan nasihat yang lain. Dekatlah dengan Al-Qur’an. Bacalah setiap hari. Mau seayat, sehalaman, seberapa pun yang kamu bisa, tetap bacalah setiap hari. Nasihat yang sama, yang sedang saya ingatkan kembali kepada diri saya sendiri.

Dalam video lain, saya termangu lagi mendengar jawabannya atas pertanyaan seorang anak, “Doakan saya menjadi syahid.” Beliau tidak menjawab dengan mengatakan akan mendoakan atau memuji keinginan tersebut. Ia hanya tersenyum, lalu berkata, “Jadilah besar. Menjadi kuat. Belajar. Berbuat untuk Islam. Lalu kemudian baru menjadi syahid.”

Beliau tidak memprovokasi anak ini untuk menyerang kafir atau menjadi martir melalui bom bunuh diri. Tidak. Nasihatnya khas nasihat seorang ayah kepada anaknya, seorang kakek kepada cucunya: jadilah besar, pintar, berkarya, dan berguna untuk Islam, lalu jadilah syahid.

Nasihat yang seolah mengjungkirbalikkan persepsi bahwa jihad hanya berarti pergi ke medan perang dan mati. Padahal ada yang lebih penting dari itu. Menjadi besar, bekerja, dan berkarya untuk Islam. Itu pun jihad.

Imam Ali Khamenei. Sosok yang justru saya kenal setelah kepergiannya, dari banyaknya video yang beredar tentang beliau dan tentang negaranya. Saya sebelumnya kurang tertarik, sehingga tidak terlalu mencari tahu tentang sosok ini maupun tentang Iran sendiri. Sama seperti banyak muslim lain, bagi saya Iran – hingga perang ini pecah – masih berada di wilayah abu-abu.

Meskipun banyak yang mengatakan bahwa tidak semua Syiah membenci sahabat Rasul dan memusuhi Sunni, banyak juga informasi yang beredar sebaliknya. Ketika saya tertarik mendaftarkan anak ke sebuah sekolah yang dicap Syiah di Depok, seorang kenalan mewanti-wanti agar berhati-hati dengan kelompok ini dan sebaiknya tidak memasukkan anak ke sana.

Terus terang, saat itu, saya hanya mencari sekolah yang mendorong potensi anak, berlatar belakang agama namun tidak menerapkan syariat secara terlalu ketat dan kaku, serta cukup inklusif. Sekolah ini masuk nominasi saya. Namun akhirnya saya, bahkan dengan cara beragama saya yang saat itu masih cukup liberal, saya tidak jadi memasukkan Radja ke sekolah tersebut karena statusnya yang terasa abu-abu.

Perjalanan saya mengenal agama sendiri juga cukup panjang. Saya lahir dari keluarga yang cukup agamis, Sunni dan besar di lingkungan Muhammadiyah. Sejak kecil saya sudah menjalankan syariat agama. Cukup ketat malah, terutama di awal masa remaja saya. Hal yang kemudian saya syukuri karena menjadi jangkar untuk pencarian ke depannya.

Namun di satu fase, saya juga pernah merasa tidak cocok dengan cara beragama yang demikian di beberapa kelompok Sunni. Di suatu titik, di tengah ibadah yang saya lakukan, saya justru merasa tidak tahu untuk apa saya melakukan semuanya. Saya tidak menemukan jawaban atas kegelisahan tentang hidup. Singkat cerita, saya kemudian beralih ke jalan sebaliknya. Menyerap cara berpikir baru yang lebih liberal dan menukar lingkungan pergaulan saya dengan yang berbeda. Hal yang kemudian tetap saya syukuri karena memperluas cara pandang saya terhadap kelompok yang berbeda.

Pergulatan batin itu akhirnya mengantarkan saya ke jalan baru yang menjawab kegelisahan panjang tersebut: sebuah thariqah dan sosok Mursyid yang sangat menekankan bahwa beragama pada hakikatnya adalah soal akhlaq. Orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang sangat penyayang dan berakhlaq baik. Jika tidak demikian, bisa jadi dia beragama masih pada aspek luarnya saja.

Pengetahuan ini mengantarkan saya pada pemaknaan agama sebagai jalan hidup. Ia harus mentransformasi diri, lahir dan batin, sehingga membawa kedamaian bagi orang lain. Hal ini seharusnya terefleksi dalam cara seseorang berbicara, berjalan, memperlakukan orang lain. Dari kasih sayangnya, kesantunannya, dan aura ketenangan yang ia bawa saat hadir di dekat kita.

Saya melihat itu pada diri orang-orang shalih di sekitar saya.

Perasaan itu juga yang muncul saat melihat Ayatullah Ali Khamenei berinteraksi dengan rakyatnya. Ketenangan dan kharisma yang sulit saya jelaskan. Kebaikan hati dan kelembutan yang terasa tidak dibuat-buat. Tak heran rakyatnya begitu mencintainya.

Negerinya pun digambarkan oleh para pelancong sebagai negeri yang aman, ramah, bersih, dan tidak memiliki kesenjangan sosial yang terlalu jauh antara si kaya dan si miskin. Tiga teman saya memberikan kesaksian serupa saat berkunjung ke sana. Tidak ada gembel, tidak ada sampah yang berserakan. Angka pendidikan tinggi cukup besar, dan keterlibatan perempuan di universitas juga cukup tinggi.

Pengalaman-pengalaman ini perlahan menjawab prasangka yang selama ini membombardir ruang pikiran saya. Jika sebuah negeri berada di jalur yang tidak benar, pemimpinnya tidak baik, bukankah kekacauannya akan tampak dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari? Seperti negeri kita tercinta ini.

Saya tahu pemikiran saya ini mungkin akan ditentang banyak orang. Beliau disebut sebagai pemimpin tangan besi, membunuh Sunni di beberapa negara, bahkan membunuh rakyatnya sendiri. Saya tidak ingin berdebat soal ini.

Bahkan mungkin seorang Daud pun tangannya berdarah-darah ketika menegakkan keadilan. Kita tidak pernah sepenuhnya tahu apa latar belakang di balik setiap peristiwa sejarah.

Yang pasti, negeri yang menolak tunduk dan menjadi salah satu pembela Palestina paling keras itu selalu diusik oleh Dunia Barat yang ingin menguasainya, dan terutama, kekayaannya.

Saat menuliskan ini, saya justru teringat pada sebuah negeri yang terus-menerus dibuat kacau, kekayaannya dibawa pergi, rakyatnya diperas, namun tetap disebut sebagai salah satu negara demokrasi terbaik di dunia. Entah apa yang salah.

Negeri itu adalah negeri saya sendiri.

Semoga Iran dan pemimpinnya yang lurus dilindungi Allah SWT, agar tetap lurus hatinya dan tegak kepalanya menghadapi musuh-musuh yang dzalim. Semoga kita semua diberi pemahaman yang benar untuk membedakan yang Haq dan yang Bathil. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Similar Posts

  • HATI YANG LAPANG

    Siang itu langit mendung, suara angin terdengar beberapa kali dari jendela apartemen yang aku tempati. Bag bug bag bug, menghantam melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat. Cuaca siang itu sepertinya tidak terlalu baik, tapi aku harus tetap keluar menyelesaikan urusan yang sudah lama tertunda. Kukemasi barang-barang dan memutuskan untuk berangkat ke area perkantoran, tidak…

  • | | |

    KABUR AJA DULU

    Sebagai ibu yang anaknya sedang merantau ke negeri orang utk pendidikan, tagar ini jadi terasa relate untuk saya. Pertanyaan yang diajukan beberapa orang saat sulungku pergi, ‘gimana kalau dia gak pulang lagi ke Indonesia?’ Tentu ada pertanyaan itu saat melepas si Abang pergi. Bagaimana jika dia betah di sana? Bagaimana jika akhirnya merasa negeri orang…

  • PILIHAN DAN KEBERLIMPAHAN

    Salah satu hal yang saya syukuri dari pekerjaan di dunia training adalah bisa mencicipi makanan dari beragam hotel, di berbagai tempat. Semacam wisata kuliner, dengan beragam menu, dan itu gratis. Awalnya saya bahagia sekali karena mendapatkan kemudahan mencicipi makanan enak ini. Akan tetapi, belakangan saya mulai menyadari, ketika suatu kali makanan yang dihidangkan enak semua,…

  • |

    CERITA DARI RUANG TUNGGU RUMAH SAKIT

    Tiga orang itu sedang bercakap-cakap seru ketika aku datang dan duduk di kursi di antara mereka. “Harus sering dilatih, Bu. Jangan biarkan ototnya jadi malas,” kata seorang Bapak berusia 52 tahun, menyemangati seorang ibu di kursi roda. Sang ibu datang ditemani anaknya, perempuan sekitar pertengahan 30-an. Mereka sama-sama mendapat ujian stroke di paruh baya. Ujian…

  • |

    DI RUMAH SAKIT

    Di rumah sakit,aku melihat orang lalu lalang.Meskipun berpapasan,Tak saling menyapa, Tenggelam dalam pikirannya. Di rumah sakit,ada pasien yang duduk diam di kursi,lemah, menunggu giliran diperiksa.Ada keluarga yang setia menemani,bolak-balik mengurus hal kecil,yang lain mendorong kursi roda ke sana kemari. Ada pasien lain yang masih sanggup berjalan,menunggu antrian sambil mungkin merasa bosan. Seperti aku,duduk di pojokan,mengamati…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *