| |

REFLEKSI 2024

Beberapa hari salah satu postingan saya di akhir tahun 2023 muncul di beranda Facebook. Rasanya baru kemarin saya menuliskan refleksi akhir tahun untuk menyambut 2024, tiba-tiba saya sudah tiba lagi di penghujung tahun.

Tahun berganti lagi. In the blink of eyes. Cepat sekali. Memaksa saya untuk merenung dan bertanya, jika tahun berlalu sekejab mata, apa yang sudah saya lakukan dalam waktu yang singkat tersebut? Kemana diri saya berjalan satu tahun ini. Catatan pergantian tahun lalu, mengingatkan saya tentang keinginan lebih banyak berjalan ke dalam. Apakah saya benar-benar melakukannya?

Awal tahun 2024 saya awali dengan keinginan memperbaiki gaya hidup. Setelah sebelumnya cukup rutin yoga dan berenang, awal tahun ini saya mulai dengan workout di salah satu pusat kebugaran. Saking seriusnya, saya juga menggunakan jasa personal trainer agar latihan lebih terarah. Hasilnya memang berdampak ke badan yang menjadi lebih bugar dan lebih kuat.

Namun pertengahan tahun tiba-tiba semuanya berputar. Saya mengalami kecelakaan dimana kaki saya keseleo cukup parah, sehingga pergerakan fisik menjadi terbatas. Kurang lebih dua bulan saya hidup dengan keterbatasan ini dan harus bolak-balik ke dokter. Dua bulan juga semua rencana gaya hidup sehat tersebut menjadi tersendat-sendat.

Pasca kecelakaan saya kembali ke rutinitas awal. Mengikuti kembali jadwal rutin dan target yang sudah ditetapkan di awal tahun. Semua berjalan mulus sebelum kemudian saya sering terkena vertigo, yang membuat saya harus bolak balik bertemu dokter lagi.

Perjalanan dari dokter syaraf, dirujuk ke dokter THT, karena penyebab vertigo ini disinyalir dari telinga, cukup melelahkan. Dua bulan lamanya mondar mandir dari dokter syaraf-THT-syaraf-THT kemudian berakhir pada keputusan operasi Konka hidung awal Desember lalu. Selama proses ini pergerakan saya sering terganggu. Olahraga angkat beban juga jadi terbatas karena masalah keseimbangan yang kurang baik.

Sekarang setelah 3 minggu pasca operasi, saya masih pemulihan. Meskipun sudah mulai keluar rumah pelan-pelan, namun saya belum bisa kembali ke olahraga rutin yang saya lakukan. Beberapa minggu ini pergerakan saya juga terbatas, sebagian besar hanya di rumah saja. Bahkan untuk kembali bekerja juga belum bisa saya lakukan sepenuhnya. Pendek kata, akhir tahun ini Allah memberikan bonus istirahat fisik dan pikiran yang cukup panjang di rumah.

Apa yang saya pelajari kemudian? Hal yang paling berharga dari pembatasan fisik ini buat saya adalah merasakan langsung bagaimana rencana kita bisa berubah dalam sekejab. Kita tak punya kendali atas masa depan, meski sebaik apapun kita merencanakannya. Segala sesuatu bisa terjadi di luar prediksi kita, sama sekali. Kasus teman saya yang terkena stroke batang otak tiba-tiba hingga saat ini masih lumpuh, juga menguatkan perspektif ini. Sebaik apapun kita berencana, menjalankan rencana, rencana Tuhan tetap yang akan berlaku.

Bukan, bukan berarti kita menjadi kaum pasif-ist yang membiarkan waktu berjalan begitu saja tanpa direncanakan. Namun poin pentingnya adalah dalam setiap rencana kita, kehendak-Nya adalah mutlak. Kita harus menerima itu sepenuh hati.

Hal kedua yang saya pelajari adalah tetap berprasangka baik pada Tuhan apapun yang terjadi. Dalam keterbatasan mudah sekali rasanya untuk mengeluh. Apalagi jika kita sudah memiliki rencana ini itu yang akhirnya tidak bisa tercapai. Rasanya tidak sabar sekali menjalani apa yang digariskan-Nya.

Padahal dalam situasi dipaksa diam itu saya diajari untuk mengkhidmati apa yang Dia Ta’ala berikan. Oh saya sedang sakit, tidak bisa pergi kemana-mana, sedang dilemahkan, apa sebenarnya yang Dia inginkan? Dalam keterbatasan dan dunia yang berjalan lebih lambat ternyata lebih banyak waktu untuk merenung. Tepatnya dipaksa untuk merenung. Belajar menerima rasa sakit, keterbatasan ternyata tidak mudah. Saya kemudian melihat bagaimana diri saya setengah hati menerima di kondisi sakit pertama, lalu kemudian terasa lebih lapang di sakit kedua. Sesuatu yang saya syukuri kemudian.

Saya juga belajar berserah diri lewat keadaan sulit. Apakah operasi saya akan berhasil? Apakah pemulihannya lebih cepat? Apakah kondisi saya akan kembali seperti sedia kala? Saya belajar untuk menepis kekhawatiran, menerima kondisi hari ini dan belajar berserah diri. Penerimaan yang lebih baik ini diganjarNya dengan suatu pengalaman trancendence pasca operasi, yang menguatkan penerimaan dan menambah kebersyukuran di perjalanan.

Meskipun 2024 bukan tahun yang mudah untuk saya, namun saya belajar banyak di dalamnya. Tampaknya keinginan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri difasilitasi-Nya melalui keterbatasan fisik ini. Dia Maha Tahu apa yang saya butuhkan.

Memasuki tahun 2025 saya berharap dikaruniai-Nya keberserahdirian yang kokoh. Seperti doa Nabi Ibrahim as ‘Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri’. Sebuah kata yang merupakan akar dari nama agama/Diin yang saya yakini sepenuh hati, ‘Islam’ : berserah diri. Nama ini menunjukkan inti pokok dari ajarannya, tunduk pada kehendak-Nya semata.

Amin ya Rabbal ‘Alamin…

Similar Posts

  • | |

    PUTRI ARIANI

    Putri Ariani sedang viral dimana-mana. Saat menonton video nya di AGT, saya seperti jutaan orang lainnya, merinding. Suaranya luar biasa bagus, talenta bermusiknya juga luar biasa memukau. Melihat penampilan Putri dari YouTube, saya memperhatikan sosok kedua orang tuanya. Ayah yang mengantarkan ke panggung, sesekali memeluk, menyampaikan kata-kata yang menguatkan. Ibu yang berdiri di pinggir panggung….

  • | |

    CERITA SAHABAT

    Kemarin saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa dari cerita salah satu sahabat saya, ibu Lulu Lumi Dewi Sekarsasi ‘Lulu’ . Dia bercerita tentang pembongkaran makam salah satu kerabatnya, utk keperluan pemakaman kerabat yang lain. MasyaAllah, saat makam dibongkar, kondisi mayyit masih dalam keadaan utuh dan baik. Kain kafan dan tubuh tidak hancur, hanya di beberapa…

  • | | |

    NIAT

    Siang itu langit cerah berawan saat saya memasuki salah satu kompleks perkantoran di jantung kota Jakarta. Saya dan salah seorang teman, ada janji meeting dan makan siang dengan salah satu calon klien kami. Lobi gedung terlihat mulai ramai saat saya tiba di sana. ‘Saya sudah di bawah, Mbak.’ Begitu bunyi WA yang saya kirimkan pada…

  • |

    IBU

    Anakku sakit. Sudah beberapa hari ini badannya panas. Diagnosa dokter dia terkena demam tifoid atau gejala tifus bahasa awamnya. Alhamdulillah setelah istirahat, makan sesuai anjuran dan minum obat, kondisinya perlahan-lahan membaik. Sakitnya ini membawaku ke ingatan ketika mengalami sakit yang sama, di usia yang tidak jauh berbeda. Puluhan tahun yang lalu. Aku harus istirahat kurang…

  • | |

    Ayatollah Ali Khamenei: Sebuah Catatan Tentang Prasangka

    Sekelompok anak-anak perempuan bernyanyi dengan lantang. Suaranya merdu, bening, dan terdengar sangat bersemangat. Mereka berkumpul hari itu dalam perayaan awal akil baligh mereka. Masa yang penting bagi seorang anak dalam Islam, karena ini menandai awal mereka berkewajiban menjalankan syariat agama. Anak-anak perempuan ini, sebagaimana umumnya anak-anak, terlihat ceria, cantik, dan polos. Sosok berjubah lebar dan…

  • | | | |

    RAMADHAN DAN KESADARAN DIRI

    Ramadhan hari ke-4, apa yang sudah kamu pelajari sejauh ini? Saat tarawih tadi malam, satu pertanyaan singgah di kepala saya: “Seberapa jauh pengetahuanmu tentang dirimu dibanding pengetahuanmu tentang hal lain?” Pertanyaan ini muncul seiring himbauan dari Mursyid kami untuk banyak bertafakur merenungi diri di bulan Ramadhan ini. Seberapa jauh saya mengenal diri saya sendiri? Dalam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *