| | |

OLAHRAGA

‘Ibu kok bisa olahraga konsisten meskipun gak ada teman?’ seseorang bertanya kepada saya saat kami mengobrol tentang kebiasaan berolahraga. Saya kemudian menyadari bahwa memang kebiasaan ini tidak ada hubungannya lagi dengan ada atau tidaknya teman. Setelah berolahraga sekian lama dan merasakan manfaatnya, dampak dari olahraga ini sendiri yang jadi rewardnya.

Kebiasaan berolahraga ini sebenarnya sudah mulai saya bangun sejak beberapa tahun lalu. Berawal hanya dengan jalan kaki keliling kompleks perumahan, yang dulu cukup luas, namun hanya satu putaran saja. Jalan kaki sebelum berangkat bekerja.

Tubuh saya kemudian merespon kebiasaan ini dengan meminta lebih. Ketika jalan satu putaran tidak cukup, lalu naik menjadi dua putaran. Setelah itu diselingi lari satu putaran setelah tubuh semakin terbiasa. Kegiatan ini saya tambah dengan berenang, seminggu sekali, sambil menemani si kecil les renang.

Saat Covid dan berpindah rumah kebiasaan masih saya jalankan. Namun kemudian mulai mencoba olahraga ringan di dalam rumah. Targetnya hanya 30 menit sehari. Tidak harus sehari namun bisa dua hari sekali. Saat Covid selesai dan tinggal di apartemen, olahraga menjadi lebih intens dengan ikut kelas yoga di sana selain berenang 2 kali seminggu atau jalan pagi. Satu hal yang saya rasakan, semakin tua tuntutan fisik untuk berolahraga semakin terasa. Selain itu, saat ikut kelas yoga, saya baru menyadari banyak otot yang belum dilatih, sehingga kondisi kesehatan juga belum optimal.

Saat ini saya berolahraga rutin dengan mengikuti kelas yoga/pilates di salah satu sanggar senam dekat rumah. Selain itu, ikut grup berenang dengan ibu-ibu jelita (jelang 50 tahun) dan Lolita (lolos 50 tahun), yang masih aktif berolahraga. Menyenangkan sekali rasanya melihat mereka yang sudah menjelang lansia atau lansia, tapi masih terlihat bugar dan aktif. Saya ingin seperti itu.

Motivasi awal saya berolahraga sebenarnya masalah kerentanan. Saya berisiko tinggi utk osteoporosis karena faktor genetik. Pernah terkena plantar fasciitis dan juga radang sendi di jari tangan, membuat saya seperti ditekan untuk lebih memperhatikan kesehatan. Olahraga ini salah satu bentuk ikhtiar yang saya lakukan, meskipun tidak ada jaminan tidak akan ada masalah nantinya. Setidaknya saya berusaha.

Bagaimana bisa rutin berolahraga? Mulailah sekarang. Mulai dengan apa yang mudah saja dan waktu yang tersedia. Jika tersedia sebelum ke kantor, ya lakukan. Jika tersedia weekend, lakukan juga. Jika bisa diawali dengan ikut YouTube, lakukan saja. Apapun itu yang penting mulai. Mulai dari porsi yang disanggupi. Perlahan nanti tubuh akan meminta porsi tambahannya.

Bagaimana untuk mempertahankan nya? Salah satu yang membantu saya dan juga yang saya baca di Atomic Habits adalah buat pattern (pola). Misalnya bangun tidur ada rutinitas yang dilakukan, sholat-mengaji-memasak-olahraga. Ikuti pola tersebut, jangan diputus. Hal ini akan membentuk pola otomatis. Hal yang sama saya lakukan di jadwal olahraga, setelah membereskan urusan rumah, istirahat sebentar dan langsung bersiap ke sanggar. Di awal jangan kasih jeda, jangan pake mikir lama.

Hal lain yang bisa dilakukan dari buku Atomic Habit yang saya baca, jauhkan hal-hal yang bisa menunda habit baru yang terbentuk ini. Misalnya jadi mager karena main hape. Dalam mengikuti pola kegiatan ini, hape nya bisa diletakkan di suatu tempat dulu. Atau kalau perlu suruh pasangan pegang. Temukan penghambatnya dan singkirkan/jadikan sulit dicapai. Sebaliknya buat kebiasaan baru ini jadi mudah dengan meletakkan perlengkapan olahraga di dekat aktivitas kita di pagi hari misalnya, jadi gak pake lama menyiapkannya.

Jika satu kebiasaan kecil dan mudah ini sudah bisa menjadi pola dan dampaknya mulai terasa, biasanya kita tidak akan ingin lagi kehilangannya. Buat saya pribadi, dampaknya ke kesehatan yang lebih baik dan kulit yang lebih sehat. Ahayy… Tapi ini benar, bahkan saat tidak terlalu rajin skin care-an, kulit wajah tetap terjaga mungkin karena sirkulasi darah yang lebih baik.

Selamat memulai kebiasaan baik ya teman-teman semua. Set up target yang paling realistis dulu, bikin jadi kebiasaan, singkirkan penghambat, dan buat jadi mudah untuk dikerjakan. Semoga tips ini berguna untuk kalian.

Similar Posts

  • |

    CERITA DARI RUANG TUNGGU RUMAH SAKIT

    Tiga orang itu sedang bercakap-cakap seru ketika aku datang dan duduk di kursi di antara mereka. “Harus sering dilatih, Bu. Jangan biarkan ototnya jadi malas,” kata seorang Bapak berusia 52 tahun, menyemangati seorang ibu di kursi roda. Sang ibu datang ditemani anaknya, perempuan sekitar pertengahan 30-an. Mereka sama-sama mendapat ujian stroke di paruh baya. Ujian…

  • | |

    MERANTAU

    ‘Bun, aku ingin ke Jepang’. Pertama kalinya si Abang mengutarakan keinginannya sekitar dua tahun lalu. Ibunya ini hanya mengiyakan dan berpesan agar dia mempersiapkan diri dan banyak berdoa jika memang ingin ke sana. Satu hal yang saya tekankan kala itu, kemungkinan dia tidak bisa sekolah di sana tanpa beasiswa, mengingat besarnya biaya hidup dan kuliah…

  • |

    KAFE KUCING

    Beberapa tahun lalu kami berkesempatan main ke @bilikkucing cat cafe yang ada di Kukusan Depok. Bertemu dengan kucing-kucing lucu sambil menikmati hidangan yang terjangkau harganya. Kafe ini terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk makan, lantai dua tempat para meong berdiam. Kita bisa makan juga di lantai dua, sambil bermain dengan kucing. Sebagian besar kucing-kucing…

  • | | |

    IDE MAIN

    Masih inget gak mainan spt ini jaman dulu? Bisa lho diterapkan di rumah pengisi waktu luang anak. Cara mainnya mudah, dua org pemain secara bergiliran berusaha mengeluarkan koin pemain lawan dari garis batas. Apa yg diajarkan dr permainan ini? Keterampilan motorik halus (menyentil, mengatur kekuatan sentilan 😊), keterampilan sosial (bergiliran, bersikap sportif jika kalah), dan…

  • | |

    SLOW LIVING

    H+13, dua minggu kurang sehari sudah belajar hidup dengan gerak terbatas. Alhamdulillah sudah bisa sesekali keluar rumah, either ke tempat kerja, RS atau ya keluar sejenak melihat dunia. Kaki masih sedikit bengkak, tapi sejauh ini mulai enak dibawa jalan, meskipun belum bisa lama dan jauh. Gimana rasanya hidup dengan gerak dan ruang terbatas selama nyaris…

  • CINTA

    Kata-kata paling romantis yang saya dengar belakangan ini adalah: “ketika kamu sedang mengingat Allah, maka sesungguhnya Dia pun sedang ingat kepadamu.” Tidak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan dan tak berbalas, bila bersamaNya. Indah bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *