Kesulitan yang Menumbuhkan
Dalam sesi-sesi percakapan dengan beberapa teman yang sedang menjalani ujian hidupnya masing-masing, saya menemukan bagaimana seseorang tumbuh dalam kesulitan. Menjadi pribadi yang lebih tenang, humble, lebih welas asih pada orang lain. Saya juga melihat tumbuhnya empati yang besar, ketidakinginan lagi mengurusi dan menilai hidup orang lain.
Kesulitan hidup tampaknya berhasil mentransformasi teman-teman saya, atau mgkn bahkan diri saya sendiri. Bentuknya beragam, mulai dari pasangan, anak, ekonomi, penyakit dan lain sebagainya. Apapun bentuknya, yang jelas saya melihat kedekatan yang makin intens antara sahabat-sahabat saya ini dengan Pencipta-Nya, yang kemudian termanifestasi dalam perilakunya.
Mengingat hal itu, saya teringat pada pemikiran Viktor Frankl, seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi. Ia mengatakan bahwa manusia tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi dalam hidupnya, tetapi selalu memiliki kebebasan untuk memilih sikap terhadap apa yang dialaminya. Menurut Frankl, justru dalam penderitaan yang tak dapat dihindari, seseorang sering kali menemukan makna hidup yang paling dalam. Bukan karena penderitaan itu sendiri adalah sesuatu yang baik, melainkan karena cara kita meresponsnya dapat mengubah siapa diri kita.
Psikologi modern pun mengenal konsep resilience dan post-traumatic growth. Resiliensi bukan berarti tidak terluka oleh badai kehidupan, tetapi kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan tetap melangkah. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang tidak hanya pulih dari ujian, tetapi bertumbuh melampaui dirinya yang dulu. Mereka menjadi lebih bijaksana, lebih rendah hati, lebih menghargai relasi, lebih peka terhadap penderitaan orang lain, dan memiliki kedalaman spiritual yang sebelumnya tidak mereka miliki. Ujian tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik, tetapi ketika dijalani dengan kesadaran, iman, dan penerimaan, ia dapat menjadi ruang tempat karakter ditempa.
Melihat ini saya jadi bertanya-tanya, lebih baik mana: kesenangan yang melalaikan, atau ujian yang membuat seseorang bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik? Kadang kala kita merasa kasihan terhadap jalan cerita hidup seseorang karena tampak begitu tragis. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kebaikan apa yang sedang Allah siapkan melalui jalan itu.
Sering kali kita menggunakan kacamata hawa nafsu untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Kita merasa beruntung karena tidak mengalami ujian yang sama, padahal belum tentu kemudahan membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Sebaliknya, apa yang tampak berat dan menyakitkan justru bisa menjadi jalan pulang yang mengantarkan seseorang pada kedewasaan, kerendahan hati, dan kedekatan dengan Rabb-nya.
Benarlah firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” Mungkin itulah sebabnya kita tidak pernah benar-benar berhak menilai jalan hidup seseorang. Tugas kita bukan menghakimi takdir yang Allah tetapkan, melainkan berusaha menemukan hikmah di balik setiap ketetapan-Nya dan mempercayai bahwa ilmu Allah jauh melampaui pandangan kita yang begitu terbatas.
Semoga kita bisa bertumbuh lewat ujian yang Dia berikan. Amin ya Rabbal ‘Alamin…
