| |

Menemukan Siapa Tuhanmu Sebenarnya?

Belakangan ini kematian terasa begitu dekat bagi saya. Kematian seorang teman salik yang saya kenal bulan lalu, lalu kepergian tiba-tiba saudara sepupu yang pernah cukup dekat berinteraksi dengan saya. Ditambah penyakit yang belum diketahui penyebab pastinya dan menyebabkan aktivitas sehari-hari saya terhambat. Kematian seperti simpang siur, berjalan melambai dan bertanya: sudah sejauh mana saya bersiap diri?

Seusia saya ini, kata seorang teman, memang sudah waktunya untuk bersiap-siap. Ungkapan seperti “umur tidak ada yang tahu”, “ajal bisa datang tiba-tiba”, dan sejenisnya lebih sering bermunculan begitu kabar kematian seorang teman, kenalan, atau kerabat mampir di beranda maupun grup WhatsApp kita. Kita kaget, tercenung, lalu melanjutkan hidup sambil diam-diam berharap tidak akan pergi secepat itu. Atau diam-diam menyangkal bahwa malaikat maut sebenarnya ada di sekitar kita setiap waktu, karena terlalu takut menghadapinya.

Kenyataan ini membawa saya pada sebuah pertanyaan: siapa Tuhan saya sebenarnya?

Pikiran ini melintas saat membahas tentang pertanyaan malaikat di alam kubur dengan seorang teman pasca kematian adiknya. Man Rabbuka? Demikian yang sering diajarkan kepada kita. Mereka yang mampu menjawab pertanyaan ini akan selamat di alam kuburnya, sementara mereka yang tidak mampu menjawabnya akan mengalami siksa. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Sampai-sampai seorang teman pernah bercanda, “Kalau begitu, mari kita hafalkan saja jawabannya dari sekarang. Man Rabbuka? Jawabannya Allah.” Namun saya tahu semuanya tidak sesederhana itu.

Man Rabbuka? Siapa Rabb-mu?

Dalam Al-Qur’an, kata Tuhan dirujuk dengan beberapa istilah, di antaranya Rabb dan Ilah. Rabb adalah Dia yang memelihara, menjaga, mengatur, mendidik, dan memberi rezeki. Sementara Ilah adalah Dia yang menjadi tujuan penghambaan dan orientasi hati kita. Perbedaan istilah ini membawa implikasi besar jika dihubungkan dengan pertanyaan Man Rabbuka tadi.

Siapa yang selama ini memelihara kita? Siapa yang mengatur hidup kita? Siapa yang memberi rezeki dan menjaga langkah-langkah kita? Apakah kita benar-benar mengenal-Nya, atau hanya tahu tentang-Nya tanpa pernah berusaha memahami-Nya?

Pertanyaan ini, bagi saya pribadi, seperti menanyakan sejauh mana penyaksian kita terhadap pengaturan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup. Sejauh mana kita menyadari kehadiran-Nya sepanjang perjalanan kita di dunia, hingga pada akhirnya mengakui bahwa Dia adalah Ilah kita, satu-satunya tempat bergantung dan satu-satunya tujuan kembali.

Dan yang lebih membuat saya berpikir adalah bahwa pertanyaan ini tidak dijawab oleh raga kita.

Raga yang kita miliki akan dikuburkan, bersamaan dengan lepasnya jiwa. Ia akan kembali menyatu dengan bumi, tempat asalnya. Jiwalah yang harus menjawab pertanyaan itu. Jiwalah yang harus menjadi saksi atas pengaturan dan pemeliharaan-Nya selama kita hidup di dunia.

Maka pertanyaannya: apakah selama ini jiwa kita benar-benar hidup dan terhubung dengan-Nya? Atau jangan-jangan ia tertidur, sementara kita menjalani hidup hanya sebatas raga pinjaman ini. Sebatas respon-respon akal dan pemikiran, yang belakangan saya sadari pun belum sepenuhnya saya optimalkan. Sebatas usaha fisik yang minim sekali keterlibatan-Nya di dalamnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Man Rabbuka? Siapa Rabb-mu? Ke mana selama ini kamu menghadap dan mencari pertolongan saat berjalan di dunia? Apakah jiwamu benar-benar mengenali-Nya?

Agak merinding saya mengingatnya, dan takut jika saya mati sementara semua pintu pengenalan itu ternyata masih terkunci.

Astaghfirullahal ‘adzim.

Bagi saya pribadi, penguatan demi penguatan akan kehadiran-Nya justru terasa saat berada di titik nadir. Saat hidup mengguncang dan saya sudah tidak bisa mengandalkan siapa pun, pertolongan-Nya datang. Saat saya mulai belajar berserah diri, pengaturan-Nya terasa. Bahkan dalam jalan-jalan sulit seperti poligami yang saya tempuh.

Hal serupa juga saya dengarkan dari teman-teman yang mengalami berbagai peristiwa berat dalam hidup. Kapan Dia terasa hadir mengatur, menjaga, dan memelihara? Sering kali justru ketika dunia terasa diambil dari kita, lalu kita menyerah dan kembali kepada-Nya.

Namun, apakah kita harus selalu mengenali-Nya melalui peristiwa-peristiwa sulit?

Saya berharap tidak demikian.

Peristiwa sulit dan berbagai guncangan hidup semoga menjadi semacam tiang pemancang, yang membuat diri saya yang lemah ini sadar sesadarnya bahwa saya tidak memiliki apa-apa selain pertolongan-Nya. Terutama dalam menghadapi hawa nafsu saya sendiri, yang sering kali menjadi penghalang terbesar untuk melihat pengaturan dan penjagaan-Nya dalam hidup.

Kesadaran ini semoga mengantarkan saya untuk selalu melibatkan-Nya, untuk terus eling dan mawas diri dalam menjalani hidup. Dalam apa pun yang sedang saya kerjakan dari hari ke hari, semoga saya selalu merasakan kehadiran-Nya, Sang Maha Pemelihara dan Penjaga.

Jadi, siapa Rabb-mu?

Apakah kita sudah bisa menjawabnya?

Indikatornya, kata Guru saya, adalah ketika kita mampu berkata:

“Ma khalaqta hadza bathila.”

Sungguh Tuhan, tidak ada yang sia-sia. Bahkan dalam peristiwa paling sulit dalam hidup pun. Sungguh Engkau Maha Pengatur dan Maha Pemelihara yang sempurna atas setiap jalan cerita hamba-Mu.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Semoga kita bisa mengucapkannya dengan sepenuh hati dan kesungguhan jiwa sebelum ajal tiba.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Similar Posts

  • | | |

    BAHAGIA YANG BERMAKNA

    Beberapa hari lalu saya membaca sebuah utas menarik tentang kebahagiaan. Dalam utas itu disebutkan bahwa kebahagiaan, menurut teori, tidak tergantung pada kekayaan, status, jabatan, atau orang-orang di luar diri kita. Yang menarik, banyak komentar yang menyebut bahwa kebahagiaan justru muncul dalam suasana tenang, hening, dan sendiri—misalnya saat jalan pagi dengan binatang kesayangan, yoga, meditasi, membaca…

  • |

    De Clan Kafe

    Nemu tempat ini saat sedang muter di Depok menyelesaikan beberapa urusan. Tempatnya di pinggir jalan Tole Iskandar, sebelum Bella Casa kalau dr arah depok timur/tip top ke siliwangi/margonda. Saat sedang ngider, eh kelihatan lah tempat ini. Kebetulan lapar dan capek serta masih nunggu satu urusan lagi di depok yg baru bisa diberesin di atas jam…

  • | |

    UJIAN DAN PELAJARAN HIDUP

    “Ibu nomor antrian keberapa, Bu?” tanya perempuan muda yang ramah itu. Aku melihat nomor antrian di tanganku: lima puluh tujuh.“Saya ada dua nomor antrian, Bu. Ibu silakan pakai yang ini saja,” katanya sambil menyodorkan tiket nomor 26. Aku bersyukur, tidak harus mengantri panjang untuk kunjungan pertamaku ke RSUI hari ini. Ya, aku memang harus mengulang…

  • | | |

    UJIAN DAN BATAS KEMAMPUAN

    Kata-kata yang sering kita dengar saat sedang mengalami ujian hidup adalah ‘ Tuhan tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya. Apapun ujian yang diberikan, pasti sesuai dengan kapasitas kita.’ Kalimat ini sering kita dengar sebagai penguat, entah di sosial media atau melalui nasihat orang lain saat kita mungkin bercerita tentang masalah atau ujian yang…

  • | | |

    INDONESIA KAYA

    ‘Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.’ Isi pasal 33 ayat 3 ini yang terlintas berulang dalam benak saya saat berkunjung ke tempat ini. Selain rasa excited karena eksplorasi tempat baru, namun juga terbersit rasa sedih mengingat besarnya kekayaan alam yang tak berbanding…

  • | |

    Bani Israil

    Ketika membaca tentang kisah Bani Israil yang cukup panjang diceritakan dalam Al-Qur’an, saya merasa agak heran. Heran karena setelah melihat sendiri banyak mu’jizat yang dihadirkan di hadapan mereka, tetap saja bisa berpaling. Lautan terbelah disusul oleh tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, merupakan mu’jizat yang luar biasa besar dan fenomenal. Namun setelah selamat dari kejaran Fir’aun,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *