| | | |

RAMADHAN DAN TRANSFORMASI HIDUP

Sudah sejauh mana Ramadhan mentransformasi hidupmu?

Pertanyaan yang sama sedang saya tanyakan pada diri sendiri, dari hari ke hari Ramadhan berlalu. Apa yang saya rasa pelan-pelan mulai berubah selama ramadhan ini?

Beberapa bulan terakhir saya disibukkan dengan proses penyembuhan operasi wasir yang berjalan kurang mulus. Beberapa kali bekas operasi tersebut berdarah lagi dan menyebabkan kekhawatiran serta kelelahan. Fisura ani, demikian dua dokter di klinik menyampaikan. Ada luka kecil yang belum sembuh dan kadang berulang, sisa dari operasi ini. Robekannya terasa lebih parah jika saya mengalami sembelit, entah karena kurang serat atau dehidrasi.

Saat memasuki Ramadhan ada rasa khawatir saya akan mengalami kesulitan. Konsumsi air putih yang kurang menjadi penyebab utama kekhawatiran ini. Saya memasuki Ramadhan dengan hati harap-harap cemas dan berdoa Allah mudahkan semuanya.

Kekhawatiran ini dijawab Allah dengan hikmah tentang pengaturan makanan yang baik selama Ramadhan. Puasa tahun ini saya usahakan seperti tahun lalu, tanpa konsumsi berlebih. Bedanya pada puasa tahun ini, konsumsi buah dan sayur jauh lebih banyak, porsinya seimbang dengan karbohidrat, bahkan kadang lebih. Alhamdulillah, pengaturan ini membuat sistem pencernaan terasa lebih baik dan ringan. Pola buang air kembali baik dan teratur. Sejauh ini, kekhawatiran saya belum terbukti.

Bagaimana Ramadhan mentransformasi hidup kita? Mengubah pola makan bagi saya adalah salah satu perubahan yang terjadi. Namun kehadiran bulan suci ini mestinya juga menyentuh hal lainnya. Rutinitas ibadah yang berubah, kebiasaan bangun lebih pagi, emosi yang dilatih untuk dijaga, adalah di antaranya. Semuanya adalah latihan intens selama satu bulan penuh, tanpa jeda.

Beberapa hari lalu saya mendengar podcast seorang komika dengan salah satu artis terkenal Indonesia. Mereka berbincang tentang hidup bermakna yang dimaknai si artis dengan kembali ke alam, hidup slow living. Bagi saya, Ramadhan justru mengingatkan hal ini. Saya kurang sepakat jika slow living selalu identik dengan menepi ke tempat yang lebih hijau, pegunungan, atau pedesaan.

Bagi saya, kembali ke alam artinya kembali ke asal diri yang selama ini banyak ditarik dunia. Belajar slow living berarti belajar berhenti. Ramadhan mengajarkan itu setiap tahun. Mengajarkan untuk mengenali pola makan yang salah, pola emosi yang kacau, pola hidup yang kurang tepat, juga hubungan dengan Tuhan dan dengan inti diri yang mungkin kurang terbangun.

Menyepi dalam Ramadhan.

Dunia kita mungkin kota besar dengan segala hiruk pikuknya. Indonesia dengan segala sengkarutnya. Di situlah lahan kita. Bagaimana memahaminya dalam hening Ramadhan adalah tantangannya. Di tengah aktivitas, tuntutan hidup, dan aksi politisi yang nyaris setiap hari memantik marah. Bagaimana menjaga hati kita tetap tenang, adalah tantangannya.

Ramadhan hadir untuk mengajak kita pause, berhenti sejenak, menarik napas, bertanya kepada Tuhan bagaimana menjalani dunia yang Dia hadirkan saat ini. Sehingga saat selesai nanti, ketika kita berhasil menata dunia dalam diri, kita siap kembali menghadapi dunia luar dengan hati yang lebih jernih dan pegangan yang lebih kokoh.

Semoga kita keluar menjadi pribadi baru, menjadi orang-orang yang bertaqwa. Orang-orang yang berserah diri sepenuhnya dan terus-menerus dalam petunjuk Tuhan menjalani dunia yang fana ini.

Similar Posts

  • |

    Perjalanan 3 Curug

    Awal tahun ini kami isi dengan eksplorasi 3 Curug di Kawasan Nasional Gunung Halimun Salak, Bogor. Setelah semalam sebelumnya camping di salah satu camping ground di kawasan yang sama, paginya kami menyusuri kawasan sekitar hutan menuju objek wisata 3 Curug ini. Menghabiskan waktu kira-kira dua jam, dengan jalan menanjak menurun, Alhamdulillah akhirnya kami bisa melihat…

  • HUJAN

    Ketika saya terjaga dini hari tadi, hujan sedang turun deras sekali. Suaranya menembus kaca-kaca apartemen yang saya tinggali. Petir sambar menyambar, membuat saya berpikir dua kali utk membuka gordyn melihat situasi di luar. Pagi ini, langit terlihat cerah dan bersih. Udara segar terasa langsung menyapa penghidu, saat saya membuka kaca jendela kamar. Hujan deras sudah…

  • |

    MEMBACA DIRI

    Mengenali kembali ke-Minang-an saya dan mengakuinya, adalah salah satu bentuk pengenalan dan pembacaan kitab diri yang saya lakukan belakangan ini. Saat usia lebih muda, saya sempat tidak ingin terlahir sebagai orang Minang. Dengan segala stereotype negatifnya, ditambah lagi saya lahir dan besar di kota lain, saya cenderung merasa jauh dari ranah Minang ini, dibandingkan kota…

  • | |

    PENGINGAT DIRI

    Apakah ketika rezeki datang berlimpah kamu tetap bersyukur dan ketika kesulitan menghadang, kamu tetap bisa bersabar? Apakah semua tetap sama saja di hatimu, atau hatimu masih terbolak balik kuat terpengaruh ‘pemberian’nya? Apakah kamu bisa melihat Dia di setiap ‘pemberian’ atau terpaku pada wujud rupa pemberian-Nya? Iman-mu, apakah terpancang kuat, atau hanya sekedar di tepi? Jawabannya…

  • | | |

    CERITA DARI TANAH PAPUA (1): MENEMUKAN KEMBALI MAKNA PEKERJAAN

    Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Papua, pulau paling timur Indonesia. Awalnya aku tidak terlalu excited untuk berangkat—mungkin karena faktor usia, atau karena terlalu sering bepergian belakangan ini, membuatku kehilangan semangat untuk menjelajah. Ditambah lagi, kenyataan bahwa kepergian ke Tanah Papua ini akan sangat menyita stamina fisik, karena waktu kunjungan yang sangat padat….

  • |

    KAFE KUCING

    Beberapa tahun lalu kami berkesempatan main ke @bilikkucing cat cafe yang ada di Kukusan Depok. Bertemu dengan kucing-kucing lucu sambil menikmati hidangan yang terjangkau harganya. Kafe ini terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk makan, lantai dua tempat para meong berdiam. Kita bisa makan juga di lantai dua, sambil bermain dengan kucing. Sebagian besar kucing-kucing…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *