| | |

Menjadi Fitri: Kesadaran Diri dan Ketenangan Batin

Sabtu sore, Syawal pertama kalender pemerintah, dan lebaran hari kedua bagi kami. Siang itu setelah berkunjung ke salah satu teman baik, saya dan Banua berkunjung ke salah satu mall besar di Kota Depok. Saya ingin membeli beberapa peralatan rumah yang dibutuhkan, sekaligus menghabiskan waktu dengannya sebelum dia berlebaran dengan keluarga ayahnya.

Selama hampir dua jam kami menghabiskan waktu di Azko. Setelah selesai, saya dan Banua bermaksud untuk langsung pulang. Namun ternyata hujan di luar sangat deras, kami kesulitan untuk memesan taksi online, sehingga memutuskan untuk menunggu hujan reda. Kami duduk mengobrol di salah satu gerai kopi kekinian, sambil sesekali mengecek hujan.

“Ibu-ibu, hujan deras dan air naik cepat sekali,” informasi di grup WA kompleks menarik perhatian saya. Jalanan di depan sudah tergenang, air mulai masuk ke rumah-rumah di blok depan yang memang relatif lebih rendah. Tak lama chat bersahut-sahutan dan makin riuh. Air mulai naik tinggi sebetis orang dewasa di jalanan pintu masuk kompleks. Saya mulai khawatir kali ini air akan menyambangi rumah kami. Saya kemudian mengontak tetangga yang berada di depan rumah. Tak lama sebuah video dikirim, mengabarkan air yang semakin menggenang di jalanan di depan rumah.

Suasana panik mulai terbaca dari chat yang bersahutan. Saya dan Banua memantau dari video-video yang dikirimkan tetangga tentang kondisi terkini. Sambil berdoa, kami duduk diam menunggu, karena untuk pulang pun akses sedang tidak bisa dilewati. Satu jam kemudian hujan mereda, meskipun air tidak masuk ke rumah kami, namun air menyambangi sebagian rumah tetangga.

Di hari yang Fitri, sebagian mereka sedang tidak di rumah karena mudik, yang lain sedang bersilaturahmi ke rumah keluarga. Di hari yang fitri, penghuni kompleks ini diuji dengan sedikit kemalangan dan kesusahan karena harus membersihkan sisa-sisa air yang masuk. Saya diingatkan kembali akan makna Idul Fitri.

Idul Fitri, sebuah kata yang identik dengan banyak kebahagiaan, kemeriahan dan silaturahmi bagi kita. Idul Fitri adalah hari kemenangan, setelah berjuang selama sebulan penuh mengelola hawa nafsu yang sering menguasai hati. Idul Fitri artinya kembali ke fitrah diri. Keadaan suci saat kita dilahirkan, sesuai apa yang Allah tetapkan pada setiap manusia. Sebuah blueprint tentang siapa kita sebenarnya.

Setiap kita terlahir suci, namun bukan seperti kertas putih. Sejalan dengan pertumbuhan kita, blueprint ini mulai tertutupi jejak-jejak kehidupan di dunia. Ketika kita menjalani sungai kehidupan, ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan diri kita.

Kalau dalam teori Bronfenbrenner, perkembangan manusia dipengaruhi oleh beberapa lapisan lingkungan. Dimulai dari microsystem, lapisan terdekat seperti keluarga inti dan lingkungan sekitar. Kemudian mesosystem, yaitu hubungan antar lingkungan terdekat, seperti hubungan antara rumah dan sekolah. Lalu exosystem, yaitu lingkungan yang tidak secara langsung kita alami, seperti pekerjaan orang tua. Dan macrosystem, yang mencakup budaya, nilai sosial, serta kondisi ekonomi dan politik. Bahkan ada chronosystem, yaitu perubahan waktu dan peristiwa besar yang mempengaruhi generasi, seperti masa pandemi Covid yang mempengaruhi pengalaman anak-anak yang tumbuh pada masa tersebut.

Bayangkan sekian banyak lapisan sistem sosial, lingkungan, dan orang-orang yang berinteraksi, berkelindan kemudian mempengaruhi dunia dalam kita. Batin kita. Hati kita. Tempat dimana fitrah diri kita dituliskan Tuhan. Semua interaksi ini membentuk warna-warna lain, coretan lain dalam jiwa. Sesuai hadits nabi yang mengatakan, semua anak terlahir fitrah, orang tuanya lah yang menjadikannya majusi, yahudi dan nasrani.

Apa itu artinya? Bukan hanya beragama yahudi, majusi dan nasrani. Namun juga karakter bentukan yang mungkin hadir, bahkan pada mereka yang terlahir sebagai muslim. Kecenderungan pada dunia, syahwat pada benda materiil, hawa nafsu yang mendorong perilaku. Tidak selalu dalam bentuk kejahatan, namun bisa jadi bangga diri, obsesi pada sesuatu, ketakutan akan kemiskinan, cara pandang tentang bagaimana hidup seharusnya, bahkan definisi tentang apa itu sukses.

Bahkan luka batin, ketakutan, rendah diri, dan sejenisnya juga bisa hadir karena interaksi dengan lingkungan. Singkat kata, apa yang dibawa dalam pengasuhan dan pengalaman hidup perlahan bisa membuat kita terlupa dengan fitrah diri. Siapa kita sebenarnya.

Ramadhan datang membawa itu. Melatih kita mengelola dan mengenali apa yang ada di hati. Melihat bagaimana kecenderungan kita pada dunia, pada syahwat perut, juga pada cara kita bereaksi terhadap sesuatu. Bagaimana cara kita mengelola emosi. Hubungan kita yang intens pada-Nya, menyingkap apa-apa yang melingkupi kita, yang membuat hati tak lapang dan tenang, menghijab kita dari-Nya. Ramadhan meningkatkan kesadaran diri, untuk perlahan membuka tabir siapa kita sebenarnya. Hati perlahan menjadi lebih tenang. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena kita lebih mampu merespons dengan sadar. Pengetahuan baru tentang diri ini membantu kita melangkah di sebelas bulan berikutnya.

Kembali pada cerita saya di awal tadi. Di hari yang fitri kami diuji, dengan banjir yang tentu saja mencemaskan dan juga melelahkan hati. Bagaimana hati kami ketika ujian itu datang? Apakah gema Ramadhan masih tersisa? Atau dia hilang juga sejalan dengan bergantinya bulan?

Hari itu saya diajak melihat ke dalam diri. Tepat sehari setelah saya merayakan hari raya Idul Fitri. Setenang apakah hati saya ketika situasi tidak nyaman menyapa? Hari itu, Alhamdulillah rasanya tidak ada gerutuan yang keluar dari dalam mulut saya. Tidak ada gemuruh yang berlebihan. Meskipun masih ada rasa khawatir dan kurang nyaman, namun semua masih dalam batas wajar. Semoga ketenangan dan kesadaran ini bertahan untuk seterusnya.

Amin ya Rabbal ‘Alamin…

Similar Posts

  • | |

    Memaafkan Diri Sendiri

    Beberapa hari ini saya menyelesaikan serial baru di Netflix yang sedang booming: Gadis Kretek. Terlepas dari kontroversi tentang serial ini, saya mendapatkan beberapa pelajaran terkait perjalanan hidup manusia, yang menjadi ketertarikan saya belakangan ini. Series ini mengisahkan tentang kisah cinta Soeraja dan Dasiyah, yang dilatarbelakangi tragedi 65 dan juga perkembangan industri kretek di tanah air….

  • | | |

    DI ANTARA DUA CINTA: IBU DAN ANAK

    Minggu lalu bukan minggu yang mudah untuk saya. Rabu lalu, saat sedang memberikan training untuk tim salah satu kopi terkemuka di Indonesia, beberapa panggilan telepon dari keluarga di Bengkulu masuk. Tidak hanya satu, tapi dari beberapa kakak dan adik saya sekaligus. Saat itu hari kedua training dan kebetulan handphone saya tertinggal, sehingga saya tidak dapat…

  • | | | |

    PEMBATASAN

    Dulu saya orang yang keras kemauan. Jika ingin sesuatu sebisa mungkin saya berusaha mendapatkannya. Buat saya kala itu, kita bisa kalau kita mau. Selagi halal, lakukan apapun itu. Saat itu saya jarang berpikir apakah Allah suka akan hal ini, apakah itu baik untuk aspek batin saya, atau tidak. Waktu berlalu, sejalan dengan usia, hal-hal yang…

  • |

    DI RUMAH SAKIT

    Di rumah sakit,aku melihat orang lalu lalang.Meskipun berpapasan,Tak saling menyapa, Tenggelam dalam pikirannya. Di rumah sakit,ada pasien yang duduk diam di kursi,lemah, menunggu giliran diperiksa.Ada keluarga yang setia menemani,bolak-balik mengurus hal kecil,yang lain mendorong kursi roda ke sana kemari. Ada pasien lain yang masih sanggup berjalan,menunggu antrian sambil mungkin merasa bosan. Seperti aku,duduk di pojokan,mengamati…

  • | |

    SLOW DOWN, BABY

    Sudah lewat 30 hari sejak kejadian kecelakaan di depan tempat saya biasa nge-gym. Sudah mulai bisa berjalan seperti biasa, namun kaki kadang masih membengkak jika terlalu lama bergerak. Berat badan mulai merangkak naik dan keluhan di tubuh karena kurang bergerak mulai terasa. Mulai merindukan sholat dengan normal dan bergerak bebas lagi di pagi hari di…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *