| | | |

Membaca Sungai Kehidupan

Apa yang terpikirkan saat melihat sebuah sungai? Aliran air yang bergerak dari hulu menuju hilir, dari satu titik mata air menuju titik pertemuan, lalu bersatu di lautan.

Bicara tentang sungai dan alirannya, saya selalu ingat aktivitas Sungai Kehidupan yang beberapa kali saya ikuti saat masih kuliah maupun saat bekerja. Berawal dari tugas menjadi relawan, kami diajak membuat sungai kehidupan: menggambarkan aliran perjalanan hidup dari kecil hingga dewasa, peristiwa yang terjadi di dalamnya, serta momen-momen penting yang membentuk diri. Kali kedua hampir sama. Saya kembali mendapatkan materi ini saat menjalani kuliah profesi. Tujuannya pun sama: membantu mengenali diri sebelum mendampingi orang lain.

Teori yang digunakan dalam membuat sungai kehidupan ini adalah teori Bronfenbrenner, yang menjelaskan bahwa individu dalam proses tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Ada lapisan-lapisan lingkungan yang secara langsung maupun tidak langsung berinteraksi dengan individu.

Mulai dari Microsystem, yaitu lingkungan yang berinteraksi langsung dengan individu. Lalu Mesosystem, yaitu hubungan atau interaksi antar-microsystem, misalnya hubungan antara orang tua dan guru. Berikutnya Exosystem, yaitu lingkungan yang tidak melibatkan individu secara langsung, tetapi tetap berdampak kepadanya, seperti pekerjaan orang tua, kebijakan sekolah, atau kondisi lingkungan kerja orang tua.

Lebih jauh lagi ada Macrosystem: nilai, budaya, norma, agama, sistem sosial, ekonomi, dan kebijakan masyarakat yang lebih luas. Terakhir, Chronosystem, yaitu dimensi waktu dan perubahan dalam kehidupan individu maupun masyarakat, seperti pandemi, perubahan teknologi, atau perubahan sosial yang terjadi sepanjang hidup.

Keseluruhan sistem sosial ini memengaruhi kita sepanjang hidup. Sungai kehidupan mengajak saya mengupasnya satu per satu, melihat dampaknya bagi kehidupan saya dan mengaitkannya dengan tugas perkembangan yang perlu saya penuhi di setiap fase kehidupan.

Singkat cerita, kegiatan ini sangat inspiratif dan menyenangkan. Selain memahami diri sendiri, saya juga belajar mendengar cerita hidup orang lain, yang menambah perspektif tentang beragamnya latar belakang kehidupan manusia.

Namun, kegiatan ini justru memberikan pengaruh besar jauh setelahnya.

Dua puluh tahun lebih sejak pertama kali mengikuti kegiatan ini, saya membuat satu catatan perjalanan sungai kehidupan sepanjang 12 halaman, yang kemudian saya rangkum menjadi dua halaman dalam bentuk Excel. Kegiatan ini terinspirasi dari anjuran Guru saya yang berulang kali menekankan kepada kami untuk banyak merenung dan membaca diri.

Setiap untaian takdir tidak ada yang sia-sia, begitu selalu pesan beliau. Iqro’, baca. Semoga dengan demikian Dia mengilhami tentang jalan yang harus kita tempuh, Shiratal Mustaqim kita. Sepuluh tahun setelah mengaji, Allah baru memberikan taufik untuk mewujudkannya.

Ada yang berbeda saat saya mulai menuliskannya dengan pemahaman baru yang diajarkan oleh Guru saya. Kalau sebelumnya saya membuatnya dengan berpegang pada teori-teori perkembangan dalam ilmu psikologi, kali ini saya membuatnya dengan keyakinan bahwa semua takdir menuntun ke suatu jalan.

Allah kemudian memperlihatkan perlahan-lahan bagaimana takdir saling menjalin. Tidak ada yang benar-benar sia-sia. Bahkan hal-hal yang dahulu terasa buruk ternyata memperkuat diri untuk urusan yang akan datang. Kalau dulu urusannya adalah penerimaan dan pemaafan, sekarang menjadi lebih dalam: membaca peta kehidupan untuk menuntun jalan.

Saya juga membuatnya dengan pemahaman baru tentang manusia. Bahwa jasad kita, dengan segala drama psikologis dan fisiknya, hanyalah lapisan luar dari manusia. Ada sesuatu yang lebih esensial dan hakiki di dalam sana. Sesuatu yang dibangunkan lewat ujian hidup, diperkuat dengan keberserahdirian setelah berbagai tempaan.

Jiwa yang merindukan Tuhannya terbangun kembali ketika ego, keberadaan, dan eksistensi kita yang semu perlahan diruntuhkan. Mungkin di sanalah awal aliran sungai kehidupan, yang mengandung mata air murni pengetahuan ilahiah tentang siapa sebenarnya diri kita.

Pengetahuan ini membuat saya lebih mudah menerima, memaafkan, dan mulai memahami hakikat kehidupan.

Seperti kata Pak Frankl, psikiater penemu Logoterapi, bahwa apa sebenarnya hidup ini saat semua dicabut dari dirimu? Adalah pemahaman sejatimu tentang manusia, yang ketika tidak ada apa-apa lagi di dunia ini, hanya Tuhan yang dia miliki.

Dengan pemahaman ini, bahkan makna hidup, kesejatian, ditemukan bahkan dalam penderitaan yang menyakitkan.

Barangkali itulah mengapa kita perlu sesekali berhenti dari derasnya arus kehidupan. Bukan untuk menghentikan sungai, tetapi untuk membaca alirannya.

Melihat kembali dari mana kita berasal, apa saja yang telah kita lewati, ke mana arus membawa kita, dan perlahan memahami: mungkin tidak ada satu pun aliran yang sia-sia.

Mungkin selama ini kita sedang dituntun menuju muara.

Similar Posts

  • TITIK BALIK

    Sekitar tahun 2009/2010 saya merasakan kegalauan yg amat sangat dalam hidup. Perasaan kekosongan yang aneh, di tengah ambisi saya mengejar dunia. Tiba-tiba saja saya merasa lelah, dan bertanya-tanya utk apa semuanya. Saya bekerja mencari uang, ingin punya rumah yg lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, menyekolahkan anak di tempat terbaik, dll. Saya bekerja keras di…

  • | |

    Rezeki

    Teman saya, tadinya seorang single parent, sempat terjerumus dalam hutang yang cukup besar jumlahnya. Sebagai seorang single fighter yang membesarkan anak-anak dengan nyaris tanpa dukungan finansial dari mantan suami, posisinya menjadi sangat rentan karena harus berjuang seorang diri. Kesempatan apapun yang datang, yang sekiranya dapat menambah penghasilan, atau terlihat seperti peluang besar, nyaris tidak pernah…

  • | | |

    Jasad, Jiwa, Ruh: Jalan Panjang Memahami Manusia.

    Jasad, Jiwa, Ruh. Tiga hal ini langsung terbayang dalam benak saya saat sedang membaca buku The Body Keeps The Score karya Bessel Van Der Kolk. Buku ini bercerita bagaimana peristiwa traumatis dapat tersimpan dalam tubuh seseorang. Reaksi-reaksi biologis yang terjadi disebabkan kerja otak memungkinkan seseorang bereaksi dengan reaksi yang sama saat peristiwa traumatis terjadi, bahkan…

  • | | |

    HIDUP

    Beberapa kali lewat di beranda saya postingan seseorang mengenai orang lain yang bertindak ini dan itu. Netizen kemudian ramai-ramai mengomentari postingan tersebut, menilai dari sudut pandangnya tentang hidup orang lain. Tanpa pernah mengetahui sudut pandang yang punya hidup sendiri, terhadap persoalan mereka. Saling bersahutan, hiruk pikuk seperti pasar. Saya sendiri pernah merasakan menjadi topik postingan…

  • |

    BE YOURSELF

    Kata-kata ini sering kita dengar mungkin ya, ‘Be Yourself’, ‘Jadilah Diri Sendiri’, apa adanya saja. Apalagi ketika masih muda, sepertinya kata-kata ini terngiang-ngiang di telinga saya, agar tidak terintimidasi dengan pencapaian orang lain, tuntutan sosial dan lain sebagainya. Pertanyaannya sebenarnya: jadi diri sendiri yang mana? Kalau dilihat dari kacamata psikologi, yang namanya diri kita ini,…

  • Perhatikan Apa yang Kamu Makan

    Kata-kata ini sering terngiang belakangan di benak saya, pasca percakapan dengan seorang sahabat. Sahabat ini bercerita tentang bagaimana sebuah program pengembangan diri untuk para leader di salah satu perusahaan besar, melibatkan intervensi makanan juga di dalamnya. Para leader yang mengikuti program ini diminta untuk membuat semacam food diary yang harus diisi secara teratur. Dari food…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *